bc

Butterfly

book_age18+
90
IKUTI
1.1K
BACA
HE
doctor
heir/heiress
tragedy
bxg
brilliant
campus
disappearance
like
intro-logo
Uraian

"Aku hamil. Ku rasa sebagai sesama perempuan kau mengerti untuk menjauhinya tanpa perlu ku suruh" Ungkap wanita hamil itu dengan menggebu-gebu dan amarah di matanya ia menatap seorang gadis yang berdiri mematung."Kenapa aku harus menjauhinya? Dia yang memilih untuk bersama ku" Bantah sang gadis yang juga menatap perempuan yang tengah hamil besar itu."Karena janin ini milik Arsel!" Perempuan itu menunjuk perutnya sendiri dengan mata menatap tajam gadis itu.Bagai runtuh bumi yang di pijakinya. Mendengar itu membuatnya sendi-sendinya melemas. Ia tidak ingin percaya, tapi bukti yang perempuan itu tunjukkan juga tak bisa ia elak. Saat itu juga, tanpa penjelasan, tanpa memberi tahu, ia memutuskan untuk pergi dari pria itu dan dari segala kenangan tentangnya. Ia memilih untuk mengejar mimpinya di negeri orang dan menemukan kebahagiaannya.Namun saat ia kembali, apa yang ia temukan jauh dari apa yang pikirkan.

chap-preview
Pratinjau gratis
Pergi untuk Melupakan
Seseorang yang membersamai sejak lama, mengisi hari-hari dengan tawanya. Menuruti segala kemauannya. Memprioritaskan dia dari segalanya. Lalu membiarkan dia pergi mengejar apa yang ia mau. Melepaskan keindahan itu untuk terbang sesukanya. Tapi ia tak pernah kembali lagi. Menghilang meninggalkan sejuta pertanyaan tanpa jawaban. Butterfly, begitu seorang Arsel menyebutnya untuk seorang gadis dengan sejuta keindahan dalam dirinya. Seperti kupu-kupu, semula ia akan mendekat. Begitu dekat hingga rasanya ia seolah ingin kau menangkapnya. Tapi saat kau berjalan ke arahnya ia justru terbang sejauh-jauhnya dan membuat mu harus mengejarnya. Begitulah Dhea, dia selalu punya seribu cara untuk berusaha mendekat meski orang yang ia dekati begitu acuh seolah tak peduli. Tapi saat kau berbalik mendekat padanya, justru ia yang menjauh dan kian tak terjangkau. Tapi Dhea pernah berkata. Kupu-kupu tidak akan terbang jauh jika tidak ada yang mengusiknya. Kupu-kupu bukan terbang menjauhi mu, tapi mengajakmu menari-nari bersamanya. Dia itu begitu indah karena itu ia menyukai keindahan. Ia begitu indah,arena itulah ia lebih suka hinggap pada bunga, bukan pada tumpukan sampah seperti lalat. Menurutmu, siapa yang masih mau tinggal saat seseorang mengusik mu. Mengatakan bahwa apa yang tengah kau hinggapi itu sudah menjadi miliknya?. *** Keributan terjadi di luar rumah antara para pengawal, pelayan dan seorang wanita hamil. Keributan itu terdengar hingga ke dalam rumah membuat semua penghuni rumah keluar. "Nadira?" Ucap seorang gadis saat ia keluar dan mendapati wanita itu. Dengan menghempas lengan yang di cekal oleh pengawal, ia maju beberapa langkah lalu dengan tatapan tajam penuh amarahnya ia menunjuk gadis itu. "Kau! Sebagai sesama perempuan ku harap kau mengerti untuk menjauhinya tanpa perlu ku suruh! Jangan merebutnya dari ku!" Dengan suara tinggi wanita itu meminta. "Aku memang tidak mengerti, dan kenapa aku harus menjauhinya? Aku sama sekali tidak merebutnya darimu. Dia yang memilih untuk bersamaku" Meski sempat mematung beberapa saat mendengar penuturan wanita itu tapi ia tetap menjawabnya. "Karena janin ini milik Arsel! Arsel milikku dan milik bayi kami. JADI PERGI DAN JANGAN MEREBUTNYA LAGI DARIKU!" Ia menunjuk perutnya sendiri dengan suara gemetar karena amarah lalu berteriak setengah histeris di akhir kalimatnya. Dhea, bagai runtuh bumi yang di pijakinya. Sendi-sendinya terasa melemah membuat ia hampir tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya hingga harus dirangkul oleh kakak dan ibunya. Ia terus menggeleng dengan dengan bibir terus bergumam tidak. Ia tidak ingin mempercayainya. Tidak mungkin Arsel mengkhianatinya sejauh itu di saat hari pertunangan mereka semakin dekat. "Dhea, kamu tidak papa sayang?" Ibunya begitu khawatir dengan raut yang ditampilkan putrinya karena mendengar penuturan wanita itu. "Tidak, Arsel tidak mungkin– tidak mungkin ia melakukan itu" Ia tidak menjawab ucapan ibunya tapi justru terus menggumamkan kalimat itu. Nadira, wanita itu maju beberapa langkah lalu melemparkan lembaran foto-foto pada tubuh Dhea. "Bukan mata dan pikiran mu!" Foto-foto itu berisi kebersamaan Nadira dan Arsel yang memang terlihat begitu intim. Hal itu membuat Devan, kakaknya Dhea yang sedari tadi hanya mencoba diam terlihat murka kini melihat adik kesayangannya diperlakukan seperti itu. "Kau! Jangan lancang!" Bentaknya menunjuk wanita itu. "Kalau begitu ajarkan adikmu itu agar tidak menjadi benalu pada hubungan orang!" "Kau–" Sekali lagi Dengan menunjuk Nadira senang tatapan tajam namun ucapannya terpotong oleh ucapan ayahnya. "Pengawal, bawa wanita itu pergi" Ayahnya yang memang sedari tadi paling tenang angkat suara lalu setelah memerintahkan itu pada pengawalnya ia kembali masuk rumah masih dengan raut tenang dan datarnya. Namun keluarganya tentu sangat tahu bahwa di dalam sorot mata tenang itu tersimpan amarah yang begitu kental. Menuruti apa yang di perintahkan majikannya, para pengawal itu memaksa Nadira untu keluar dari area rumah mewah itu. Sementara itu, Dhea yang masih dalam keadaan shock di bawa masuk ke dalam rumah dengan di rangkul ibunya. *** Di lain sisi, Arsel yang baru 6 bulan menjalani koas di salah satu rumah sakit di Bandung. Saat ini ia tengah menjalani tugas yang di berikan oleh Wira, dokter konsulennya yang membimbingnya di rumah sakit itu. Dokter Wira menugaskan Arsel untuk mengecek beberapa pasien di bangsal khusus lansia. Arsel mengecek salah satu ruang rawat seorang pasien seorang kakek berusia 70 tahun yang mengidap penyakit jantung. Ia sudah di rawat kurang lebih satu minggu di sana. "Selamat pagi tuan Dirga, bagaimana kabar anda hari ini? Apa yang anda rasakan?" Dengan ramah Arsel menyapa pasien lansia itu. "Cukup baik, setidak aku merasa lebih baik dari sebelumnya" Jawabnya yang kini ranjangnya sudah diatur oleh perawat yang menemaninya Arsel agar ranjang Dirga bisa sedikit lebih tegak. "Oh bagus, saya yakin anda akan segera pulih kembali" Arsel tersenyum padanya. "Terima kasih dokter sudah merawat ku, kau dokter spesialis jantung terbaik yang ku temui?" Arsel terkekeh "Terima kasih tuan Dirga atas pujiannya, tapi saya masih koas. Saya juga belum tahu nantinya akan mengampuni spesialis apa" "Maaf aku tidak tahu. Tapi ku harap kau akan mengambil spesialis jantung" "Oh tidak apa tuan. Mm kalau boleh tahu kenapa anda berharap seperti itu?" Arsel sedikit mengerutkan keningnya mendengar penuturan Dirga. Dirga menghela nafas kamar lalu tatapannya beralih lurus ke depan. "Sebenarnya aku mempunya seorang cucu yang begitu manis dan ceria. Ia masih sekolah menengah. Namun dibalik sikap cerianya itu, aku tahu dia begitu tersiksa" Tuturnya sendu. Arsel tidak menyela dan menunggu pria Tia itu melanjutkan. "Cucuku menderita gagal jantung bawaan yang membuatnya harus bolak balik rumah sakit sejak balita dan aku selalu berpikir itu karena ku. Karena gen turunan. Hampir sepanjang hidup aku menyalahkan diriku sendiri setiap kali melihat cucuku harus masuk rumah sakit lagi dan lagi" Dirga mulai sedikit terisak kini. Terlihat sekali raut bersalah di wajah keriput kakek itu. "Ku rasa itu bukan salahmu, itu sudah takdir. Setiap penyakit yang di terima manusia itu merupakan pemberian Tuhan. Jadi kau berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Karena ketika tuhan memberikan penyakit maka Dia juga pasti memberi obatnya" Arsel berkata lembut berharap pria tua itu mengetuk apa yang ia maksud. Dirga menoleh pada Arsel dan menatapnya dengan tatapan teduh "Sudah ku kira sejak awal bahwa kau memang pria yang baik. Beruntung orang tua yang memilik mu" Arsel kembali terkekeh "Anda terlalu berlebihan, baiklah sekarang waktunya istirahat lagi agar anda cepat pulih dan lekas sehat kembali" Arsel tersenyum " Saya permisi" Pamit Arsel, lalu keluar dari ruangan itu untuk memeriksa pasien lainnya. Hingga siang berganti malam, kini ia tengah duduk di kantin rumah sakit dengan jus mangga di hadapannya ia membuka dompetnya dan mengambil satu buah foto kecil yang terselip di dompet itu. Arsel memandangi lama foto itu. Foto seorang gadis kecil yang begitu kecil dengan giginya yang ompong, rambut kepang dua, dan kemasan yogurt di tangannya. Ketika itu ia mengambil foto itu secara diam-diam saat gadis itu tengah berbicara bersama pelayan-pelayannya di rumah saat ia berkunjung ke rumah Arsel. Kini, tanpa terasa waktu berlalu dan gadis itu sebentar lagi akan menjadi tunangannya. Perasaan bahagian kini melingkupi hatinya. *** Di tempat lain, saat ini Dhea tengah duduk di tepian ranjang dengan air mata yang sudah mengering di pipinya. Kejadian tadi pagi membuatnya begitu shock hingga ia menangis seharian dan berakhir tertidur. Dan kini saat ia bangun, rasa sakit itu kembali lagi. Bahkan sekarang ia Semaki menangis ketika melihat gaun yang tergantung di depannya. Gaun indah yang nantinya akan ia pakai di acara pertunangannya satu minggu lagi. Ia terlarut dalam kesedihannya hingga getaran ponsel mengalihkan atensinya. Lagi-lagi ia kembali menangis saat nama Arsel tertera di sana. Namun tak urung ia mengangkat telepon itu. "Hallo Dhealove" Sapanya dengan panggilan kesayangan pria itu yang biasa mengganti Dhealova dengan Dhealove. "Hallo" Dhea membalas dengan suara parau, ia berusaha menyamarkan suaranya, tapi ia tak bisa. "Ada apa dengan suara mu? kamu menangis?" Dhea tidak menjawab. "Apa karena kau merindukanku lagi hingga menangis seperti satu bulan yang lalu hm?" Terdengar Arsel terkekeh di sebrang sana. "Jangan menangis, besok aku pulang dulu, mungkin malam sampai ke rumah. Jadi aku akan menemui mu besok lusa. Oma bilang kita harus segera menuntaskan persiapan yang belum selesai. Oh iya, untuk dekorasi aku sudah mengirimkan beberapa gambar padamu. Hanya untuk lihat-lihat saja, lusa kita ke tempatnya langsung dan sesuai keinginan mu kita akan memilih dekorasi yang kamu sukai" Tutur Arsel panjang tentang persiapan acara pertunangan mereka. Dhea menutup mulutnya dengan tangan karena tidak kuasa menahan tangisnya. Ia pun tidak menyahuti sama sekali ucapan Arsel meskipun pria itu beberapa kali memangilnya. "Dhea kau masih di sana? Kau mendengar ku bukan?" "Hm" Hanya itu jawaban yang Dhea berikan. "Baiklah, mungkin kamu lelah, sekarang istirahat dan mimpi indah" Ucapnya sebelum menutup sambungan teleponnya. Setelah menurunkan telepon dari telinganya, Dhea kembalikan menangis sejadi-jadinya. Rasanya ia masih tidak percaya Arsel melakukan hal 'itu' . Ia mengenal Arsel sejak kecil dan Arsel tidak pernah melakukan hal-hal yang menjurus ke arah sana. Tapi kenapa Nadira dan foto-foto itu bisa ada dengan Arsel di dalamnya. Dhea mengalihkan tatapannya pada suara ketukan pintu kamar dan muncul ibunya di sana. Evani, ibunya menghampirinya. "Ayah memanggilmu, ayo" Evani merangkul Dhea menuruni tangga menuju ruang tamu. Terlihat di sana sudah ada ayah dan kakak pertamanya. Pun Dhea dan Evani mendudukkan diri di sofa yang berhadapan dengan ayahnya lalu di sampingnya Devan. "Sudahi membuang air mata untuk laki-laki itu, Dhea" Ucap ayahnya begitu dingin. Dhea menunduk, ia selalu tidak berani menatap ayahnya di saat seperti ini. Di saat ayahnya tengah begitu marah. "Kami sudah membicarakannya tadi, ayah akan mengirim mu ke London tempat Daffa kuliah dan kau pun akan melanjutkan kuliah di universitas yang sama dengan kakakmu. Dan tentang pertunangan mu, ayah sudah menghubungi ayah Arsel tadi sore untuk membatalkannya" Mendengar itu Dhea mengangkat kepalanya menatap ayahnya kini dengan raut terkejut tapi di waktu bersamaan dia pun tidak bisa membantah. Tidak ada gunanya, untuk apa ia membantah dan karena alasan apa. Darel bisa mengerti perasaan putrinya hanya dengan melihat ekspresi terkejutnya di wajah sembab itu, tapi ia tidak mempunyai pilihan lain. Satu-satunya cara untuk membuat putrinya tidak berlarut-larut dalam kesedihan adalah dengan menjauhkan dia dari sumber rasa sakitnya. Dan jika ia masih berada di negara ini, di mana pun ia menyembunyikan Dhea, Arsel pasti akan menemuinya. "Tidak ada bantahan, kau akan berangkat besok pagi. Kakak mu sudah mengatur jadwal penerbangan mu" Setelah itu Darel beranjak dari sana. Dhea sudah tidak menangis lagi kini. Tapi giliran Evani yang menangis memeluk putrinya. Walau bagaimanapun juga ia begitu sedih putrinya akan pergi jauh darinya, meskipun Dhea du sana bersama kakaknya. "Kakak sudah menghubungi Daffa, dan dia akan mengosongkan jadwal kuliahnya untuk menjemput mu setelah sampai di sana" Ucap Devan kini. Dhea mengangguk, ia pun merasa mungkin ini yang terbaik untuknya. Meskipun begitu berat, ia harus bisa menjauh dan tidak berhubungan lagi dengan Arsel. Ia begitu mencintai pria itu, tapi sekaligus begitu sakit karenanya. Dan ia harus menjauh darinya agar bisa melupakan rasa sakit itu. Lapi pula sepertinya ayahnya sudah mempertimbangkannya dan di sana pun ia tidak sendiri tapi bersama Daffa, kakak keduanya. To be continued

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.2K
bc

Kali kedua

read
221.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

TERNODA

read
201.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook