"Ayah tidak tahu apakah harus menyampaikan ini padamu atau tidak disaat kau masih fokus dengan coass mu, tapi kau berhak tahu. Ayahnya kemarin sore menelpon ayah, dia ingin membatalkan pertunangan Mun dan Dhea".
***
Saat ini Arsel tengah melajukan mobilnya dengan begitu cepat. Matanya terus melirik pada ponselnya yang tengah berusaha melakukan sambungan telepon pada Dhea. Entah sudah berapa kali ia mencoba menghubungi gadis itu, tapi tidak pernah ada jawaban. Bahkan ponselku tak aktif.
Pikiran Arsel kacau sejak ayahnya menelponnya tadi malam. Malam tadi seusai berbalas pesan dengan Dhea, ayahnya menelponnya dan memberitahu bahwa ayahnya Dhea mengatakan membatalkan pertunangan antara ia dan Dhea. Arsel tidak mengerti mengapa Darel melakukan itu dan begitu tiba-tiba. Apa kesalahannya hingga ayah dari gadisnya itu melakukan hal demikian.
Karena itulah pagi ini, ia meminta izin pada Wira untuk pulang lebih awal meski jadwalnya besok. Beruntung dokter konsulennya itu mengizinkannya meski dengan wajah yang kecut. Tapi Arsel tidak bisa berdiam diri saja disaat situasinya yang seperti ini.
Setelah hampir 3 jam menempuh perjalanan antara Bandung-Jakarta, akhirnya ia tiba di depan rumah keluarga tunangannya itu. Memarkirkan mobil sembarang, ia pun melaju kakinya menuju pintu rumah dan menekan bel beberapa kali. Seorang wanita paruh baya dengan badan cukup gemuk membukakan pintu.
"Bi Nina, bisa saya masuk? Saya mau bertemu Om Darrel juga Dhea"
"Maaf den, tapi tuan Darrel, nona Dhea dan seluruh keluarga rumah ini sedang tidak ada" Terang Nina dengan sopan.
"Maksudnya? Bibi disuruh berbohong ya? Makanan mengatakan ini pada saya, padahal mereka di dalam kan?" Sanggah Arsel tak percaya dengan menatap dingin Nina.
"Kalau memang den tidak percaya m, silahkan lihat sendiri" Nina menggeser tubuhnya ke samping mempersilahkan Arsel untuk masuk.
Arsel menatap Nina sekilas lalu langsung membawa kakinya memasuki rumah mewah itu. Rumah itu memang terasa sepi tapi Arsel masih tidak peduli dan melarikan kalian menuju kamar kekasihnya. Ia membuka pintu yang tidak dikunci itu. Dan kamar itu kosong.
Ia kembali menuruni tangga menemui Nina yang masih berada di sana. "Kemana mereka?"
"Bandara" Jawab Nina singkat.
Arsel mengerutkan keningnya "Bandara? Untuk ap–" Arsel tidak meneruskan ucapannya saat ia teringat sesuatu dan langsung bergegas berlari menuju mobilnya.
Setelah menempuh jarak beberapa menit ia sampai di bandara Soekarno-Hatta. Seperti orang gila' di berlarian di antara orang-orang yang berlalu lalang membawa koper. Bahkan ia beberapa kali tidak sengaja menyenggol orang-orang yang tengah berjalan itu.
Hingga sampai ia di ruang tunggu para penumpang untuk pemberangkatan. Namun mirisnya ia hanya menemukan Devan di sana yang tengah berjalan keluar dari ruang tunggu itu. Pun Arsel menghampirinya. Tanpa basa-basi tidak penting ia langsung menanyakan Dhea.
"Di mana Dhea?"
Ada raut cukup terkejut di wajah Devan saat melihat keberadaan Arsel di sana. Tapi secepat kilat wajahnya kembali mengeras dengan tatapan tajam. Tanpa menjawab ia melanjutkan langkahnya berniat mengacuhkan mantan calon tunangan adiknya itu.
Arsel yang tidak terima diacuhkan seperti itu, bergerak cepat menarik tangan Devan cukup kencang. "Aku tanya di mana Dhea!"
Kali ini masih dengan tatapan tajamnya Devan terkenal sinis. "Masih pantaskah kau menanyakannya?"
Arsel mengerutkan kening "Apa maksudmu? Dia kekasihku bahkan calon tunanganku, dan dia sejak semalam tidak bisa aku hubungi. Dan juga belum lagi tentang ayahmu yang menghubungi ayahku untuk membatalkan pertunanganku dan Dhea!"
"Sudah curhatnya?" Devan menaikan sebelah alisnya angkuh.
"Kau dengan bangganya mengatakan dia kekasihmu. Tapi yang harus kau ingat dia juga adik kesayanganku. Dan aku tidak sudi Dheaku yang berharga bersama b******n sepertimu!" Tekan Devan dengan wajah mengeras menunjuk wajah Arsel.
"What! Sekali lagi aku tanya, apa maksudmu? Disini aku seperti orang yang paling t***l yang harus mengerti maksud kalian. Dhea tidak ada, ayahmu membatalkan pertunanganku dan putrinya, dan kau disini memaki-maki ku? Oh astaga lelucon macam apa ini" Arsel terkekeh mengusap mulutnya kesal.
Namun alih-alih menjawab Arsel, Dengan justru berbalik dan meneruskan langkahnya. Kali ini Arsel pun tidak mencegatnya lagi. Ia tahu sekali watak calon kakak iparnya itu yang keras. Jika ia sudah tidak ingin melakukan suatu hal maka ia tidak akan melakukannya. Sama seperti sekarang meski Arsel terus berusaha meminta kejelasan, ia tidak akan menjawabnya jika dia tidak mau.
Arsel menendang udara dengan nafas menggebu-gebu, lalu ia menyugar rambutnya karena rasa kesal dan amarah bergejolak.
***
Di tempat yang berbeda Dhea membawa tatapannya ke luar jendela pesawat yang hanya di penuhi awan. Sementara kepalanya dipenuhi oleh kilasan-kilasan balik antara dirinya dan Arsel. Ia tersenyum jika mengenang itu. Mengenang masa-masa sekolah mereka ketika ia yang berusaha mendekati dan mendapat perhatian Arsel yang selalu bersikap dingin padanya namun selalu memprioritaskannya. Ia yang selalu mengungkapkan rasa cintanya sementara Arsel yang selalu menolaknya. Hingga sampai entah mungkin karena Arsel sudah lelah atau kasian padanya dan tidak ingin Dhea malu di depan teman-temannya, ia pun menerima cintanya saat Dhea menembaknya di acara ulang tahunnya. Namun justru selang beberapa bulan menjalin hubungan, Arselah yang berbalik terlihat yang lebih mencintai Dhea.
Namun kini, setelah cintanya terbalas, setelah mengejar selama hampir 9 tahun, justru kini ia yang meninggalkan Arsel. Mencoba menjauhinya dan membuang semua hal tentangnya. Dhea sebenarnya tidak ingin melakukan itu, tapi bayangan Nadira yang tengah hamil besar mendatangi dan memaki-makinya lalu mengatakan ia mengandung anak Arsel juga bukti-bukti yang ia berikan membuat Dhea begitu sakit dan sesak. Sekali lagi, ia tidak ingin percaya. Tapi semua hal seolah mengarah bawah itu memang benar.
Jika melihat ke belakang, memang wajar jika Nadira hamil dan mengaku itu anak Arsel. Dulu sebelum Arsel resmi menjadi kekasihnya, Nadira adalah kekasih Arsel. Bahkan mereka terlihat saling mencintai dan selalu terlihat mesra di depan publik. Jika saja Dhea tidak selalu merecoki hubungan mereka, mencoba mencuri perhatian Arsel dari Nadira, mengancam ia akan pergi jika Arsel tidak memutuskan Nadira, mungkin mereka masih bersama sekarang.
Memang benar jika Nadira mengatakan ia merusak hubungannya dan Arsel. Karena memang begitu adanya. Dhea selalu merasa bahwa Arsel adalah miliknya, jadi ketika Arsel mempunyai kekasih dan mulai melupakan keberadaan dirinya, Dhea tidak terima dan mencoba merebut Arsel lagi untuk hanya menjadi miliknya. Dan ia berhasil, Arsel terlalu menyayanginya meski ia selalu mengatakan rasa sayang sebagai adik, tapi Dhea berhasil saat dirinya mengancam akan pergi meninggalkan Arsel jika ia tidak menjauhinya Nadira. Arsel meninggalkan kekasihnya sendiri demi Dhea. Hanya demi Dhea ia melakukan itu.
Karena itulah Dhea selalu percaya bahwa perasaan Arsel padanya lebih dari perasaan sebagai adik. Arsel mencintainya.
Dan kini, karena rasa sakit w.dadi wanita itu juga karena ayahnya yang memang sedari awal tidak terlalu menyukai Arsel, memaksa Dhea untuk menyudahi hubungannya dengan Arsel dan pergi meninggalkan negaranya. Meski Dhea merasa salah karena tidak mendengar penjelasan langsung dari Arsel, tapi ia memilih mengikuti kata ayahnya.
"Ada apa? Kamu baik saja sayang?" Ibunya yang duduk di sampingnya mengelus bahu Dhea bertanya.
Dhea mengusap tangan Evani di bahunya "Ya tentu, aku baik-baik saja" Dhea tersenyum.
"Kamu tidak bisa menutupinya dari mamah, kamu menyesal pergi dari rumah juga dengan keputusan papah?" Evani menatap putrinya sendu.
"Aku hanya masih terkejut aja dengan yang terjadi. Dimulai dengan Nadira datang dalam keadaan hamil, pertunanganku batal, lalu sekarang aku harus pergi ke tempat lain jauh dari kalian" Dhea mulai terisak di pelukan ibunya.
"Mamah mengerti, tapi satu yang mungkin bisa mamah katakan, diluar dari apa yang sudah dilakukan Arsel, mamah yakin bahwa perasaannya sama kamu tulus. Seperti ayahnya yang jika sudah mencintai satu perempuan, ia akan tetap mencintai perempuan itu"
"Tapi aku terlalu kecewa mah, bukan pada Arsel saja tapi juga pada diriku"
Evani hanya bisa mengangguk mendengar jawaban Dhea. Dengan lembut ia mencium puncak kepala putrinya.
To be continued