Meet To You

1211 Kata
After 4 years Empat tahun berlalu, ada hal-hal yang berubah dan ada hal-hal yang tetap sama. "Arsel, sudah sore, sepertinya akan hujan juga, sebaiknya kita pulang" Mereka tengah di taman kini. Arsel berdiri menatap wanita itu dan membalas senyumnya. Wanita yang telah menemaninya dan ada di saat dirinya tengah terpuruk seperti ini. Mungkin ini saatnya ia melupakan gadis kupu-kupu itu dan mulai menatap wanita di depannya yang selalu membersamainya. Jika gadis itu sudah melupakannya maka ia pun harus melakukan itu. Arsel mengangkat tangan kanannya lalu menarik gelang itu hingga sebagian maninya jatuh terpencar. 4 tahun ia menunggu, 4 tahun ia tetap menjaga gelang itu di pergelangan tangannya seperti apa gadis itu pinta. Tapi sekarang rasanya tidak perlu lagi. Itu tidak dibutuhkan lagi. "Hari ini kau langsung ke rumah sakit lagi?" Tanya Nadira di saat mereka sudah di dalam mobil. Arsel mengangguk "Tidak, aku harus menggantikan ayah untuk rapat dengan pemilik Crystal D.I karena ayah sedang mengantar kakek cek up kesehatannya ke Singapur" "Aku berharap kakek Rain segera sembuh" Arsel mengangguk tersenyum samar. "Um, tadi apa?!Crystal D.I? Bukankah itu perusahaan perhiasan yang sedang naik daun? Banyak para wanita di sosial media membicarakan tentang perusahaan itu karena terkenal dengan rancangan busana dan perhiasannya?". Arsel menoleh dan mengangguk lagi "Aku sangat mengagumi perhiasan-perhiasan dari perusahaan itu. Perh iasan produksi mereka sudah terkenal hingga mancanegara, bahkan aku ingin suatu saat cincin pernikahanku pun dari rancangan Crystal D.I" Nadira sedikit menundukkan kepalanya dan tersipu sesekali melirik Arsel. Arsel hanya melirik sebentar lalu kembali memfokuskan perhatiannya pada jalanan. "Mm, Arsel. Kita sudah 3 tahun menjalin hubungan, aku ingin bertemu dengan ibumu. Selama ini aku hanya tahu dirinya dari ceritamu saja" Mendengar ucapan Nadira, Arsel baru ingat bahwa dirinya sudah 3 tahun menjalin hubungan dengan wanita di sampingnya itu. Ya, dia memang memutuskan untuk kembali pada Nadira satu tahun setelah ia menerima surat dari Dhea dan menghilangnya gadis itu. Gadis itu memilih pergi dari hidupnya tanpa alasan yang jelas dan dengan kata-kata benci dalam surat itu. "Mau tahu sendiri, akupun belum pernah bertemu dengan ibuku kecuali saat usiaku 8 tahun itu pun aku ingat-ingat lupa wajahnya" Jawab Arsel acuh. "Kenapa kita tidak coba mencarinya?" Arsel menghela nafas kasar "Ya, aku pikirkan lagi nanti" Nadira tersenyum mendengar jawaban itu. Mobil Arsel berhenti di basman apartemen Nadira, apartemen yang diberikannya 2 tahun lalu "Apa kau akan pulang ke sini nanti?" "Aku akan pulang dulu ke rumah, setelah itu akan pulang kesini" Nadira tersenyum senang "Aku menunggumu" Arsel membalas senyum Nadira lalu mengecup pipinya. Setelah itu Nadira turun, Arsel melajukan kembali mobilnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa kebersamaannya bersama Nadira semakin lama membuat rasa sayang itu perlahan tumbuh bahkan mungkin ia hampir mencintainya. Sejauh ini, Arsel merasa sudah bukan waktunya diumur ia yang sekarang berkelana mencari cinta dan wanita. Nadira sudah cukup dengan itu. Sudah cukup untuk menjadi perempuan yang ia cintai. Ia perempuan yang dewasa, anggun, perhatian, apalagi yang ia cari. Nadira perempuan rapuh yang harus ia jaga. Apalagi tidak ada yang bisa melindunginya setelah ibunya meninggal dan ayahnya dipenjara. Hanya dirinya yang bisa perempuan itu andalkan. *** Arsel memasuki ruang rapat di kantornya, tapi di sana kosong tidak ada siapa-siapa. Ia meraih saku jasnya guna menghubungi Dika sekertaris ayahnya. 5 menit setelah ia menghubungi, Dika datang. "Pagi, pak" Sapa Dika basa-basi. "Di mana mereka, aku telat beberapa menit seharusnya di ruangan ini sudah ada setidaknya satu atau dua orang tapi kenapa disini kosong?" "Mereka mengubah tempat rapat menjadi di restaurant Garden, mereka baru menghubungiku pagi-pagi sekali" "Kenapa kau tidak menghubungiku? Selain pertemuan ini aku juga ada kepentingan di rumah sakit!" Arsel memberikan tatapan tajam. Dika memutar bola matanya, jika sedang berdua ia memang tidak segan bersikap tidak sopan pada anak atasan sekaligus sahabatnya. "Aku sudah menghubungi tapi kau tidak mengangkat, aku juga sudah mengirimkan pesan tapi tidak kau baca" Arsel sedikit memicingkan mata lalu mengecek ponselnya dan mendengus ketika mendapati pesan dari Dika di ponselnya. "Seenaknya, mereka pikir mereka siapa merubah tempat pertemuan secara dadakan. Tidak kompeten." Arsel berbicara ketus lalu melenggang pergi dari sana. *** Mobil yang ditumpangi Arsel berhenti di depan restaurant Garden. Dan alangkah memuncaknya emosi Arsel saat mendapati di restaurant itu hanya ada asisten dan perancang tanpa pemilik perusahaan itu. Sungguh pemilik Crystal D.I tidak menghargainya sama sekali. Arsel dan Dika mendudukan diri di kursi yang bersebrangan dengan mereka "Di mana atasan kalian?" Tanya Arsel to the point tanpa harus repot basa-basi. Dua orang wanita iru tampak kukuk dan segan "Maaf sebelumnya tuan, atasan kami tidak bisa datang karena ada jadwal pertemuan dengan dokter, beberapa hari yang lalu ia terkena insiden dan sebenarnya ia masih belum benar-benar pulih" "Kalau begitu kenapa dia menjanjikan untuk datang?" Arsel melayangkan tatapan kesalnya. "B-begini, atasan kami memang bersungguh-sungguh ingin datang ke acara pertemuan ini karena baginya kerja sama ini sangat penting. Sebelum tadi pagi ia terjatuh dan membuat lukanya menganga kembali" "Oke saya terima alasan itu meski terdengar penuh drama. Silahkan kalian juga lanjutkan dengan sekertaris saya, namun untuk kesepakatan saya tetap ingin pertemuan langsung dengan atasan kalian" Putus Arsel yang membuat dia wanita itu saling tatap bingung. Arsel melenggang dari restaurant itu tanpa mempedulikan tatapan bingung dua wanita itu atau tatapan protes Dika. Dia benar-benar kesal, sudah merubah tempat pertemuan seenaknya lalu sekarang dengan seenaknya pula orang itu meng-cancel untuk datang. Jika mau ia juga memilih untuk tidak datang, sungguh di rumah sakit juga banyak orang yang membutuhkannya. Ya Arsel juga tidak terlalu menyalahkan orang itu apalagi jika alasannya memang seperti itu, ia hanya kesal saja. *** Arsel tiba di rumah sakit beberapa menit kemudian, ia segera masuk ke ruangannya dan mengganti jas kantornya dengan jas putih. Seorang suster mengetuk pintu dan menemuinya "Maaf dok, pasien atas nama Andriana sudah di tangani oleh dokter Rian" Ujar suster itu sopan. "Iya, tadi saya sudah menghubungi dokter Rian karena saya akan datang terlambat. Terima kasih suster Dita" Suster itu mengangguk tersenyum "Tapi dok, ada pasien yang membutuhkan perawatan di kamar B021, ia baru saja datang" "Baik, kalau begitu mari segera ke sana" Arsel buru-buru beranjak dari kursinya "Dengan keluhan apa?" "Menurut laporan, beberapa hari lalu ia melakukan operasi atas luka tusuk di perutnya di rumah sakit lain. Namun karena terjatuh jahitannya terlepas dan sepertinya lukanya kembali menganga cukup parah" Tutur suster itu di tengah langkah mereka yang terburu-buru. "Apa sudah ada dokter yang menangani?" "Belum, pasien itu juga baru datang" Suster Dita mengkerutkan keningnya, padahal dia tadi sudah bilang. "Permisi" Saat Arsel memasuki ruangan ternyata di sana sudah ada dua suster lainnya. Namun ada hal yang membuatnya sangat terkejut. Pasien yang tengah merintih dengan wajah pucat di brankar itu adalah dia perempuan yang telah berhasil memporak-porandakan hidupnya. Gadis itu menatapnya dengan raut tak kalah terkejut serta bibir yang menggumamkan namanya tanpa suara. Arsel menarik napas dan kembali menetralkan ekspresinya mencoba bersikap biasa saja. Ia bergegas memeriksa luka gadis itu. Berprofesional sebagai dokter. Lukanya ternyata cukup parah. Jahitannya terlepas sebagian hingga sedikit darah merembes ke bajunya. "Ini harus dijahit ulang, siapkan alat-alatnya sus" Seru Arsel yang langsung diangguki suster di sampingku. Sembari melakukan penanganan, Arsel berpikir siapa yang melakukan ini padanya. Siapa yang menusuknya hingga terluka sangat dalam. Seandainya hubungan mereka masih seperti dulu, ia akan membuat perhitungan dengan orang itu tanpa ragu. Tapi keadaan mereka kini sudah berbeda. Apa pun yang terjadi pada gadis itu sudah bukan urusannya. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN