4 tahun berlalu, Dhea sudah begitu terbiasa dengan hidupnya di negeri Panzer itu. Ia juga mempunyai banyak teman, salah satunya, Reynald. Pria blasteran Cina-Indonesia yang merupakan teman sekelas kakaknya, Daffa. Reynald m sering ke tempat tinggal Dhea untuk menemui Daffa karena memang Dhea dan Daffa tinggal di rumah yang sama di sana. Jadi otomatis mereka sering bertemu dan semakin akrab. Namun kini masa studi mereka sudah tuntas. Sebenarnya Daffa sudah menyelesaikan studinya tahun kemarin, namun ayahnya menyuruhnya untuk tinggal satu tahun lagi menunggu adiknya di sana. Karena Daren begitu mengkhawatirkan Dhea dan tidak ingin putri.ya sendirian di tempat asing itu.
Dan kini, setelah 4 tahun berlalu, mereka kembali ke tanah air.
Dhea mengeratkan jaketnya memeluk dirinya sendiri. Dinginnya sungguh menusuk tulang. Ia menengadah menatap langit dan ternyata awannya mendung bahkan tetesan air mulai jatuh. Ia menadahkan satu tangannya pada hujan itu hingga air menetesi telapak tangannya.
"Dhea, ayo hujannya keburu deras" Dari kejauhan suara ibunya memanggil.
"Iya, mah" Ia mempercepat langkahnya menjauhi pesawat yang baru ia tumpangi, berlari kecil menuju ibu, ayah, dan kakak pertamanya. Kakak keduanya tidak bisa ikut dengan alasan sibuk untuk pendaftaran S2 nya. Padahal ia tahu pria itu tengah berkencan bersama kekasihnya sehingga tidak ikut menjemput.
Dhea memasuki mobil yang dikemudi oleh kakaknya. Ia duduk di jok belakang bersama ibunya, sementara ayahnya di depan bersama kakaknya. Sejenak Dhea merasa dejavu. Dulu saat berangkat ia juga dalam mobil dengan situasi seperti ini. Diantar oleh ayah, ibu, dan kakaknya. Sekarang pun saat pulang ia dijemput oleh ayah, ibu dan kakaknya. Walaupun dengan kakak yang berbeda, dulu Daffa sekarang Devan.
Maret, 2023
Saat itu ia kembali ke tanah air setelah menyelesaikan studinya di bidang fashion. Mobil melaju di jarak 2 km menuju rumahnya ia menolehkan kepalanya ke arah jendela memandangi Lamat area yang mengingatkannya pada seseorang. Ia membuka genggaman tangannya di mana di situ ada sebuah jepit kupu-kupu yang begitu cantik. Sejenak ia tersenyum mengingat kembali momen yang telah lalu. Namun detik kemudian bayangan menyakitkan juga menghampirinya. Saat dimana hatinya tergores. Saat jiwanya yang remaja, polos, dan kecil harus terguncang begitu hebatnya oleh seseorang disaat dirinya baru saja menyecap manisnya sebuah emosi yang sering orang sebut dengan cinta.
Namun cinta itu tak berlangsung lama. Hanya 10 bulan, hanya 10 bulan hatinya berbunga-bunga. Menunggu balasan pesan dan kabar dari prince charming-nya, saling memberi semangat tiap ada kesempatan berkomunikasi jauh, menerima kata-kata sederhana namun manis yang membuat tubuhnya bagai di kerumuni jutaan kupu-kupu. Namun setelah itu, saat dirinya memutuskan kembali untuk memenuhi janjinya pada pria itu, di saat itu pula suatu hal merobek hatinya dan menghancurkan segala rasa yang baru ia rasakan.
Saat bulan Juni akhir di mana itu libur semester pertama untuknya. Ia kembali ke negaranya untuk menghabiskan waktu libur di rumah dan tentu saja menemui pria itu. Namun 2 hari ia di rumah seseorang datang ke rumahnya, memberi kabar yang sangat tidak ingin dia dengar.
"Kau! Sebagai sesama perempuan ku harap kau mengerti untuk menjauhinya tanpa perlu ku suruh! Jangan merebutnya dari ku!" Dengan suara tinggi wanita itu meminta.
"Karena janin ini milik Arsel! Arsel milikku dan milik bayi kami. JADI PERGI DAN JANGAN MEREBUTNYA LAGI DARIKU!"
....
Rasanya masih terasa sekali bagaimana air mata yang keluar deras saat itu. Masih terdengar juga bagaimana ia menjerit sesaat setelah perempuan itu pergi dari rumahnya. Terasa begitu jelas bagaimana rasanya hatinya bagai di hantam benda yang begitu keras, bagai terkoyak begitu parah. Hal yang membuat minggu itu juga keluarganya mengantarkannya kembali ke Jerman. Menenangkan diri, bahkan dalam sebulan keluarganya juga berada di sana menemaninya. Menyembunyikan keberadaannya dari Arsel yang terus menanyai dan mencarinya bahkan hingga Arsel menyusul ke Jerman. Namun koneksi ayahnya dan Devan kakaknya begitu luas di negara itu hingga bisa menyembunyikannya begitu rapat.
Dhea terisak dan ia tidak menyadari itu. Hingga ibunya menyentuh bahunya dan menanyakan keadaannya. Tidak ada jawaban yang ingin ia berikan hingga ia hanya membalas ibunya dengan anggukan kecil.
"Kamu tidak pantas memikirkan laki-laki itu. Dan lupakan cinta monyetmu itu" Sahut ayahnya dari depan, ayahnya sangat peka memang.
"Banyak lho laki-laki yang mengantri dan menanyakan kamu ke kakak, Dhea" Kali ini kakaknya yang menyahut. Kemudian ia sedikit menolehkan wajahnya "Bahkan lebih tampan dan maskulin dari pria itu" Ia terkekeh lalu kembali memfokuskan dirinya pada jalan. Dhea ikut terkekeh melihat itu. Dhea sangat menyukai kakaknya yang satu itu, selalu terlihat dewasa saat berusaha menghiburnya. Tidak seperti Daffa kakak keduanya yang pecicilan. Ish.
***
Satu bulan sudah ia berada di kota kelahirannya. Dhea memilih tinggal di apartemen meski ayah dan ibunya sudah melarang. Tapi Dhea sudah terbiasa hidup mandiri sejak kuliah dulu. Jadi ia memutuskan untuk tinggal sendiri.
Sesuai bidang studi yang dulu ia ambil. Ayahnya memberikan salah satu cabang perusahaannya untuk ia kelola. Bisnis perhiasan. Dhea belajar mengelola itu, sesekali dua kakaknya membantunya dan memberi arahan serta saran saran positif padanya. Ia sudah hobi menggambar sejak kecil membuatnya begitu handal dalam merancang perhiasannya sendiri.
Dan hari ini, ia pulang cukup larut. Ada beberapa pegawainya yang izin tidak masuk hari ini. Hingga ia harus membantu pegawainya yang lain untuk menutup toko.
Klik klik
Ia mengunci mobilnya dan bergidik ngeri melihat suasana sekeliling bastaman yang begitu sepi. Dhea mempercepat langkahnya karena ia sedikit merinding. Mulai berfikir negatif membayangkan hantu mendatanginya seperti di film-film horor.
Srett
Sesaat baru saja ia keluar dari bastaman dan akan memasuki gedung apartemen, seseorang menusukan dan sedikit merobek perutnya. Dhea begitu kesakitan hingga teriak saja ia tidak bisa. Samar-samar sebelum ia kehilangan kesadarannya, ia sempat melihat orang yang menusuknya. Tapi tidak begitu jelas, orang itu memakai pakaian yang serba hitam. Beruntung seorang security yang tengah berjaga menemukannya dan menolongnya untuk membawa ia ke rumah sakit. Dan ia beri tersadar dua hari setelahnya. Di mana saat ia banguya kanng tua beserta kedua kakaknya tengah menatapnya sendu di ruang rawat itu.
***
2 Minggu berlalu pasca kejadian mengerikan itu. Entah siapa yang melakukan itu. Polisi sedikit kesulitan mendeteksi karena wajah pelaku tidak terlalu terlihat jelas di CCTV. Hingga ayahnya harus mengerahkan anak buahnya untuk mencari tahu siapa pelaku itu dan apa notif hingga dia melakukan itu pada Dhea.
Hari ini seharusnya Dhea sudah pulih. Namun lukanya kembali menganga setelah ia terpeleset dan jatuh dari tangga karena terburu-buru untuk menghadiri rapat pertamanya sebagai pemegang Crystal D.I. Perusahaan yang akan bekerja sama dengannya adalah perusahaan besar yang tidak lain adalah perusahaan NACA GRUP. Perusahan yang kini dikelola oleh Rain Brawijaya orang yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri. Dan Rain sudah setuju untuk mereka mengadakan pertemuan pagi itu. Namun karena keteledorannya, saat ini Dhea harus ke rumah sakit karena lukanya menganga kembali. Hingga ia harus mewakilkan pertemuannya itu pada asistennya.
Sementara Dhea, menuju rumah sakit di bantu oleh Daffa. Tadi ia menelpon kakak keduanya itu untuk menolongnya. Dan apa yang kakaknya itu lakukan? Ia memarahi dan menceramahinya sepanjang perjalanan padahal ia tengah kesakitan. Seharusnya kamu itu tidak tinggal sendiri, kamu itu teledor, kamu itu masih kecil belum bisa tinggal sendiri, setelah ini awas saja kalau gak pulang ke rumah, kalau perlu aku jual apartemen mu. Daffa terus mengulang-ulang kata-kata itu sampai mereka tiba di rumah sakit.
***
Cukup lama ia terbaring di brankar setelah perawat membawanya ke ruangan. Sampai seorang dokter dan perawat lainnya memasuki ruangan itu. Namun di tengah rintihan sakitnya, mata Dhea terpaku dengan jantung berdentum cepat saat melihat siapa dokter itu. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan dia lagi setelah sekian lama. Tidak bisa dipungkiri juga bahwa ada kerinduan di hatinya untuk pria itu.
Dia masih tetap sama. Masih tetap tampan dan raut dingin seperti biasanya. Namun kini ia terlihat lebih dewasa. Benar-benar tipikal yang diinginkan para wanita. Dan balutan jas putih itu semakin membuatnya terlihat mengagumkan. Lalu sebegitu besarkah ia menyukainya pria itu hingga setelah laki-laki itu menyakiti dirinya pun ia tetap mengaguminya.
"Ini harus dijahit ulang, siapkan alat-alatnya sus"
Dan setelah itu, di tengah wajah pucatnya ia melihat bagaimana laki-laki itu melakukan pekerjaan, menanganinya sebagai dokter dengan begitu profesional. Tanpa perlu mengajaknya bicara bahkan untuk sekedar basa-basi atau hanya menyapa.