Malam harinya, Devan bersama istrinya menjenguk Dhea. Devan yang saat itu sedang berada di rumah orang tua istrinya di luar kota langsung kembali ke Jakarta begitu mendengar kondisi Dhea.
"Padahal kakak gak perlu ke sini lho. Aku gak papa, cuma sobek dikit ini"
"Ya tetap saja kakak panik Dhea. Gak ada yang jagain kamu, mamah papah juga lagi di Bandung, Daffa udah cek out London tadi pagi. Kamu jadi sendiri kan" Devan mengelus lembut kepala Dhea dengan penuh sayang seorang kakak.
"Ya tapikan kalian jadi ninggalin Alvian di sana"
"Gak papa Dhea, besok pagi kami langsung kembali lagi ke sana kok" Sahut Vina, istri Devan.
Alvian, putra pertama Devan dan Vina sengaja mereka tinggal di Jogja bersama kakek neneknya dari pihak Vina. Mereka di sana untuk syukuran sunatan Alvian. Kondisi Alvian pasca sunat juga belum pulih total karena itulah mereka memilih meninggalkan Alvian di sana bersama orang tua Vina.
"Yasudah, kakak sama kak Vina pulang aja aku gak papa kok disini banyak dokter sama perawat juga. Lagian kalian pasti cape kan dari Jogja ke sini"
"Kakak paling nganterin Vina aja ke rumah, tapi kakak balik lagi"
"Emang gak papa kak Vina di rumah sendiri? Aku beneran gak papa lho kak gk dijagain juga"
"Gak papa Dhea, ada bibi kok di rumah"
"Yaudah kakak antrian kak Vina dulu ya" Dhea mengangguk, dan ruang rawat kembali hening setelah mereka pergi.
Dhea baru akan memejamkan matanya sebelum pintu kembali di buka. Dhea melirikkan matanya, dan ia melihat Arsel menghampirinya. Kemudian ia duduk di kursi sebelah brankar Dhea.
"Gimana keadaan kamu? Apa yang kamu rasakan sekarang?"
Dhea tersenyum sedikit "Lebih baik dari sebelumnya, cuma masih sedikit nyeri dan perih saja kalau aku gerak mau duduk atau mau tiduran lagi. Kalau kau ke kamar mandi juga sakit" Bibir Arsel berkedut sedikit tersenyum mendengar ocehan Dhea.
"Maaf" Ringis Dhea saat menyadari dia terlalu banyak bicara.
"Kamu udah makan?"
"Udah, tapi sedikit. Seperti biasanya, makanan rumah sakit tidak enak" Arsel mengangguk mengiyakan ucapan Dhea.
"Kamu-"
"Arsel-"
"Kamu duluan saja" Ucap Arsel saat Dhea juga seperti ingin bicara sesuatu padanya.
"Kamu saja"
Arsel mengangguk "Siapa yang melakukan itu sama kamu?"
Dhea meraba perutnya "Maksudmu ini?" Arsel mengangguk. "Aku juga gak tahu, papah sama polisi lagi cari tahu. Mungkin orang iseng" Dhea sedikit terkekeh di akhir katanya.
Arsel menghela nafas kasar "Yaa orang yang kelewat iseng sampai merobek perut orang lain"
Dhea terkekeh lagi "Gak ada kerjaan memang, lukanya besar dan dalam ya? Pasti bekasnya juga akan besar" Dhea menerawang menatap langit-langit.
"Itu bukan masalah" Jawab Arsel.
"Ya, bukan masalah untukku tapi mungkin aja masalah bagi suamiku nanti. Mungkin dia akan tidak menyukainya"
"Itu tidak akan terjadi jika suami kamu benar-benar mencintai kamu" Jawab Arsel datar, seperti biasanya.
Topik seperti ini sedikit menggores hatinya. Mengingat, orang yang kini di depannyalah yang dulu menjadi suami idamannya. Dan mungkin sekarang pun masih.
"Arsel?" Panggil Dhea.
"Ya?"
"Kamu terlihat keren dengan jas putih itu, terlihat sangat sangat hebat" Dhea tersenyum tulus, tapi matanya sedikit berkaca-kaca. Dan Arsel hanya diam menatapnya.
"Aku merindukanmu, Dhea. Sangat" Tanpa disadarinya Arsel mengatakan itu. Kalimat itu keluar begitu saja. Mungkin karena ia memang sangat merindukan perempuan di depannya ini.
Deg
Dhea tersentak dan tertegun mendengar penuturan Arsel barusan. Apa dia tidak salah dengar? Arsel baru saja mengatakan merindukannya.
Lama mereka terdiam menimbulkan kecanggungan pada diri masing-masing. Hingga akhirnya Dhea mengalihkan pembicaraan. Topik yang seharusnya tidak ia pilih."Ngomong-ngomong sudah berapa tahun usia anak kamu s ekarang?" Tanya Dhea tersenyum.
Bak melihat hujan uang dari langit. Terkejut dan tidak percaya. Kenapa bisa-bisanya Dhea bertanya seperti itu.
Sontak Arsel menegakkan duduknya matanya menatap terkejut dan tak percaya "Anak? Anak siapa yang kamu maksud?"
Dhea mengerutkan keningnya "Tentu saja anak kamu. Dia laki-laki atau perempuan?"
Arsel semakin menatapnya heran. Dhea benar-benar. Dia sedang bercanda atau tidak. Bagaimana mungkin ia bisa punya anak sementara dirinya belum pernah bersetubuh dengan siapa pun. Ya, kalau b******u memang pernah. Tapi apa dengan itu saja bisa jadi bayi?
"Dhea, aku tahu dari dulu kamu itu emang ajaib dengan pertanyaan-pertanyaan kamu. Tapi yang kamu tanyakan sekarang di luar nalar..." Arsel diam sebentar. "Atau kamu sedang bercanda?"
Dhea menggeleng "Tidak, aku memang benar-benar bertanya padamu"
"Tapi aku sungguh terkejut Dhea. Aku tidak punya anak!" Jelas Arsel menegaskan.
"Tapi Nadira bilang..." Dhea menggantungkan kalimatnya.
"Nadira?" Kini Arsel semakin terheran lagi. "Kenapa Nadira di bawa-bawa?"
Dhea bergerak menegakkan badannya untuk duduk dengan sedikit meringis memegangi perut kirinya "Nadira mendatangiku dulu, dan mengatakan dia mengandung anakmu. Hal yang menjadi alasan aku tidak pernah kembali kesini selama 4 tahun" Terang Dhea.
Kali ini Arsel yang mengerutkan keningnya "Nadira mengatakan itu?"
Dhea mengangguk. "Dia mendatangiku dan mengatakan itu. Memintaku untuk menjauhimu. Dan itu terjadi kurang lebih 3 tahun lalu. Jadi aku pikir anak kalian mungkin sudah berusia 3 tahun sekarang" Tutur Dhea lagi.
Arsel berdiri dari kursinya "Dhea, berhenti mengatakan tentang anak. Kita baru saja bertemu lagi setelah sekian lama, dan aku tidak tahu kenapa di pertemuan pertama kita kamu memilih membahas hal yang tidak masuk akal seperti ini. Aku tidak tahu mungkin ini salah satu caramu untuk mencoba membuatku tidak nyaman dan tidak menemuimu lagi? Begitu bukan?"
Dhea menggeleng "Aku justru tidak mengerti dengan reaksimu sekarang. Aku hanya bertanya, dan tadinya aku hanya memilih pembahasan yang ringan dan klasik ketika seseorang sudah lama tidak saling bertemu" Dhea menatapnya sendu.
"Tapi yang kau bicarakan itu tidak masuk akal Dhea. Bagaimana mungkin kau menanyakan hal seperti itu?"
"Kalau begitu kau tidak perlu marah" Jawab Dhea tenang.
Arsel terdiam. Benar, kenapa dirinya terkesan marah kepada Dhea? Tidak. Sebenarnya ia tengah masih merasa terkejut dan bingung. Kenapa tiba-tiba menanyakan anak padanya. Dan ada apa juga dengan Nadira?. Demi tuhan. Ini gila. Dan ia harus segera menemui Nadira setelah ini. Meminta kejelasan atas ucapan Dhea tadi. Dan mengetahui apakah yang Dhea bicarakan tadi hanya bualan saja?
Arsel menetralkan kembali raut wajahnya "Istirahatlah" Ucapnya lalu beranjak, tapi suara Dhea menghentikan langkahnya.
"Arsel– aku minta maaf jika apa yang aku bicarakan membuatmu tersinggung, aku tidak bermaksud" Ucap Dhea pelan.
Arsel menoleh "Kau tidak perlu minta maaf, cepatlah sembuh" Ucapnya lalu keluar dari ruangan itu.
Dhea menatapnya nanar. Perasaannya bingung sekarang. Ada sesak juga. Tapi tentang reaksi Arsel tadi, kenapa dia seperti itu. Ia butuh jawaban itu sekarang. Dan ia juga ingin kejelasan sekarang.
To be continued