Penjelasan

2001 Kata
Jam 10 pagi, Dhea sudah dibolehkan pulang. Lukanya sudah mulai membaik dan sudah boleh dirawat di rumah. Devan juga sudah kembali ke Jogja setelah mengantarnya pulang. Sementara orang tuanya baru pulang tiga hari lagi. Dhea memilih kembali ke apartemennya. Bukan karena apa-apa. Ia hanya merasa di apartemennya ia merasa lebih nyaman saja. Lagipun jika pulang ke rumah juga ia tetap sendiri karena ayah ibunya belum pulang dan kakak keduanya sudah ke London mungkin dia akan kembali ke rumah saat ayah ibunya sudah pulang juga. Membunuh rasa bosan, Dhea mengambil buku serta penanya untuk membuat desain-desain perhiasan. Sebenarnya ia sudah ingin ke counternya tapi dokter menganjurkan untuknya jangan banyak gerak dulu. Jadi dia berakhir mendekam di apartemennya. *** Arsel mendatangi rumah Nadira saat memasuki jam makan siang. Sungguh ia ingin mendengar penuturan langsung dari Nadira terkait pernyataan Dhea semalam. Suatu hal yang membuatnya frustasi dan berpikir sepanjang malam. Ia takut hal ini akan berefek pada pekerjaannya jika tidak segera terselesaikan. Pintu rumah Nadira terbuka sedikit, tapi Arsel tetap mengetuknya. Dan pintu itu perlahan terbuka. Arsel melirikan matanya ke bawah saat mendapati seorang anak kecil yang membukakan pintu itu. Arsel tertegun melihatnya. Anak kecil itu juga menatapnya bingung sembari memeluk mainan robot. Tidak lama seorang wanita berseragam biru menghampiri dengan botol s**u di tangannya. Ia tidak tahu siapa anak ini, karena ini pertama kalinya ia ke rumah Nadira. Biasanya jika mengantar Nadira, ia hanya mengantar sampai depan pagar rumahnya saja. "Maaf pak, mau bertemu bu Nadira ya?" Tanyanya. Arsel mengangguk. "Oh maaf pak. Bu Nadiranya belum pulang" "Kemana? Bukannya ini hari libur?" "Maaf pak, saya kurang tahu" "Yasudah saya tunggu saja disini" "Kalau begitu silahkan masuk dulu pak" Ucap wanita itu sopan. "Tidak usah, saya tunggu disini saja" Ucap Arsel seraya mendudukkan dirinya di kursi teras rumah itu. *** Di lain tempat, Nadira memasuki sebuah tempat makan sederhana di pinggiran kota. Ia kemudian duduk di sebuah meja yang sudah terisi satu orang yang tengah menikmati bakmi. Tanpa basa-basi Nadira meletakkan amplop yang cukup tebal di meja itu hingga orang tersebut mendonggak menatapnya. "Ini tambahan tip yang kau minta. Dan kau tau bukan, apa perjanjiannya?" Orang itu mengambil amplop tadi dan melihat isinya sebentar "Cukup banyak. Namun jika memang terjadi hal yang diluar kendali, aku juga tidak bisa janji" Nadira menegakkan badannya "Mana bisa begitu. Aku sudah membayarmu mahal" Nadira mengeratkan giginya. "Bisa dibicarakan lagi jika kau menambah lagi tipnya, bagaimana nyonya?" Orang itu menyeringai. "Sial, kau memerasku?" Nadira berdesis. "Itu konsekuensi yang harus di tanggung, karena resiko yang harus ku hadapi juga tidak main-main. Wanita incaranmu itu ternyata bukan dari keluarga sembarangan. Aku bagaikan masuk ke sarang predator" Nadira menghela nafas dalam lalu diam sebentar. "Baiklah, akan aku usahakan untuk bayaranmu. Asal namaku tidak terseret" Orang itu menghembuskan asap rokok pada Nadira "Bisa diatur" Setelah itu dengan raut penuh emosi tertahan, Nadira beranjak dari tempat itu. menaik taksi kali ini agar lebih cepat sampai rumah. Namun tiba di rumah, Nadira dikejutkan saat melihat dari kejauhan seseorang yang tengah duduk di teras depan rumahnya mengobrol dan tertawa ria bersama putranya. Pun Nadira berjalan menghampiri mereka. *** Anak kecil tadi menghampiri Arsel yang tengah duduk. Lalu ia duduk di kursi yang satunya lagi. Ia diam menatapnya memeluk mainan robotnya. Arsel memberikan senyum pada anak kecil itu "Siapa nama mu boy?" "Aldrik" Jawabnya tersenyum. Arsel ikut tersenyum lalu menyodorkan tangannya "Nama om Arsel" Aldrik menjabat tangan Arsel "Apakah om orang yang akan jadi ayah aku itu?" Tanyanya begitu polos. Arsel mengerutkan kening "Ayah?" Dia mengangguk "Huum, mamah selalu bilang, suatu saat pasti akan ada seseorang yang datang dan jadi ayah aku" Ucapnya masih sedikit belum fasih. Arsel hanya tersenyum "Aku bukan orang itu. Tapi kau boleh menganggap ku sebagai ayahmu jika kau mau" Arsel mengelus lembut kepala Aldrik. "Benarkah?" Ucapnya riang. Arsel mengangguk membuat Aldrik tertawa senang yang membuat Arsel ikut tertawa karenanya. Dari kejauhan Nadira yang baru tiba di rumahnya melihat interaksi antara putranya dan kekasihnya. Kenapa Arsel harus bertemu dengan putranya sekarang. Bukankah ia sudah mewanti-wanti baby sitternya agar tidak membiarkan Aldrik bertemu siapa pun. Lalu apa yang harus ia jelaskan pada Arsel sekarang. Pun Nadira menghampiri mereka. Arsel menaikkan tatapannya pada wanita yang baru saja datang. Ia pun lantas beranjak dari duduknya. Menatap Nadira datar. "Arsel? Ada apa kau datang ke sini? Sudah lama?" Nadira menampilkan senyum termanisnya. "Lumayan, ada yang perlu aku bicarakan denganmu" Ucap Arsel memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan tatapannya yang mulai dingin. Nadira tersenyum lagi "Baiklah, ayo masuk dulu" "Tidak usah, disini saja" Jawab Arsel cepat. Nadira sedikit gugup sekarang "Oke" Kemudian ia mengalihkannya tatapannya pada putranya "Aldrik, masuk dulu ya" Aldrik mengangguk. "Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Nadira kemudian setelah ikut mendudukkan dirinya. Arsel menatap Nadira dengan tatapan tak terbaca "Ini tentang Dhea, tentangku, dan mungkin juga tentangmu. Sebenarnya setelah tiba disini aku juga jadi penasaran dengan anak kecil tadi. Tapi permasalahan pertama lebih penting untuk kita bahas". Tubuh Nadira menegang seketika, ia semakin gugup. "Kenapa tiba-tiba kau ingin membahas tentang hal itu?" "Aku tengah kebingungan sekarang, dan kau bertanya 'kenapa' juga gelagat anehmu semakin membuatku bingung" Arsel dengan segala kepekaannya semakin membuat Nadira gelagapan. "Aku bingung harus mulai dari mana, namun aku sangat ingin tahu satu hal. 4 tahun yang lalu, apa kau hamil?..." Arsel menjeda kalimatnya dan menatap Nadira serius "...Dan kau mendatangi Dhea?" Nadira kian memegang, bahkan wajahnya sudah pucat sekarang "Apa maksudmu Arsel?" "Seharusnya aku yang bertanya, apa maksudmu mengakui hal itu, Nadira?" "Mengakui apa?" Nadira berusaha tenang. "Mengakui kau hamil anakku pada Dhea dan membuat Dhea kecewa, marah lalu meninggalkanku?" Arsel mulai menaikkan intonasi nada bicaranya. "...Oh, atau kau memang sengaja melakukannya agar Dhea pergi. Apa aku benar?" Nadira beranjak dari duduknya "A- aku tidak melakukan itu, Arsel!" Nadira tergugup. Arsel mendonggak menatap Nadira yang berdiri dari duduknya "Lalu kenapa kau gugup?" Arsel menjeda "Aku bertemu Dhea di rumah sakit. Dan dia menceritakan tentang semuanya" "Aku gugup karena kau tiba-tiba menanyakan pertanyaan aneh dengan tatapan mengintimidasi mu, menurutmu bagaimana aku tidak gugup jika seperti itu. Lalu Dhea? Kau bertemu dengannya? Dan kau percaya begitu saja apa yang dia katakan tentang ku?" "Aku sedang tidak percaya siapa pun sekarang, karena itu aku bertanya pada mu. Aku ingin tahu penjelasan dari mu agar aku tidak salah mengartikan dengan percaya pada satu pihak. Namun sebenarnya aku kenal Dhea lama, dan aku tahu dia bukan seseorang yang pandai berbohong. Tapi aku tetap ingin mendengar penjelasan mu" Nadira terkekeh samar "Aku tidak mengerti tentang pertanyaan aneh mu dan amu tidak tahu kenapa wanita itu bisa mengatakan itu padamu" Arsel membuang muka dan mencoba menetralkan emosinya "Pertanyaan yang kau anggap aneh itu justru sangat penting bagiku" "Arsel..." Nadira menghela nafas panjang "Aku tidak melakukan itu, perihal Dhea yang meninggalkan mu sama sekali tidak ada sangkut-pautnya denganku" Arsel memejamkan mata menahan kesal lalu ia kembali menatap Nadira "Kalau begitu jelaskan siapa anak kecil tadi? Kurasa itu bisa kau jelaskan bukan?" Arsel menyeringai. Giliran Nadira yang memejamkan mata erat dan membuang muka ke arah lain. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Ia belum siap mengakui Aldrik anaknya di depan Arsel. Ia tidak ingin hal itu bisa menjauhkannya dari Arsel. Tidak, tidak sekarang. Ia belum siap. "Kenapa kau diam Nadira?" Tanya Arsel lagi karena Nadira yang tidak kunjung menjawab pertanyaannya. "Aku tidak bisa menjelaskan itu" Jawab Nadira masih dengan tidak menatap Arsel. Arsel terkekeh "Pertanyaan pertama kau tidak ingin menjelaskan, yang ini pun kau mau tidak ingin menjelaskannya juga. Tidak guna sekali aku bicara dengan mu" Nadira kembali menatap Arsel "Ars, bisakah kita berhenti membahas ini?" Ucapanya memelas. Arsel terkekeh"Kau lucu Nadira, aku tidak mungkin datang jauh kesini di jam kerjaku, di saat ada pasien yang mungkin tengah membutuhkan ku jika tidak untuk sebuah jawaban yang sangat penting bagiku" "Arsel-" "Jelaskan sekarang juga Nadira!" Tekan Arsel mulai tak sabar. Tapi Nadira masih diam "Jelaskan atau kita berakhir dan tidak akan pernah bertemu lag–" "Oke!" Sentak Nadira cepat, ia menatap Arsel tajam "Kau ingin tahu bukan?" Nadira mengikis jaraknya dengan Arsel "Aldrik putramu. Kau puas?" Arsel mengerutkan keningnya "Apa kau bilang? Jadi kau–" "Iya, aku memang tengah hamil saat itu, aku tidak bohong saat mengatakannya pada Dhea" Akunya akhirnya. Kemudian Nadira tersenyum "Seharusnya kau melihat ekspresi Dhea saat itu dengan wajah pucatnya" Lanjutnya. Arsel memundurkan kakinya lalu menyugar rambutnya dan terkekeh samar "Gila" Ucapnya bicara pada diri sendiri "Kau benar-benar gila Nadira" Arsel bergumam. Nadira kembali mendekat"Aku melakukan itu karena takut kehilanganmu Arsel. Kau mengakhiri hubungan kita saat itu demi gadis manja yang selalu kau jadikan prioritas bahkan saat kita menjalin hubungan. Kau pikir aku tidak sakit hati hm? Aku mencintaimu dan hanya kau yang aku punya saat itu. Di saat terpuruk ku dengan keadaan keluargaku. Lalu wanita manja itu? Dengan seenaknya ia akan merebut mu dariku, tentu saja tidak akan ku biarkan" Arsel kembali menatap Nadira "Dan kau hamil! Lebih gilanya kau mengakui itu anakku!" Bentak Arsel keras. "Memangnya kenapa? Bukankah kita sering melakukan 'itu'? Tidak menutup kemungkinan kalau Aldrik putra mu" Ucap Nadira tenang dengan tersenyum. Arsel terkekeh "Melakukan apa maksudmu? Kita hanya b******u, foreplay? Apa kau pikir s****a yang tumpah di kasur bisa berjalan sendiri ke rahimmu? Perlu kau ingat, aku tidak pernah memasukan milikku ke milikmu" Tegas Arsel. Nadira diam menegang. "Tapi malam itu, kita pernah tidur bersama sehabis minum" "Dan kau yang tidak sadarkan diri, kau yang mabuk berat saat itu, aku masih sepenuhnya sadar dan aku tidak melakukan apa pun padamu kecuali tidur di sampingmu" Jelas Arsel sekali lagi. Nadira tidak dapat bicara lagi kini. Ia kehilangan kata-kata. Karena ia pun mengakui memang bukan Arsel ayah Aldrik, tapi pria b******k yang ia temui di klub malam. Pria yang berhubungan dengan Dhea. Salah satu seseorang yang berarti di hidup Dhea. Jadi ia pikir tidak salah merebut Arsel dari Dhea sebagai balasan untuk pria itu dengan menyakiti seseorang yang paling ia kasihi. "Nad, aku sempat berfikir kau adalah wanita baik yang ku temui. Hinggaa perasaan ingin melindungi muncul dalam diriku. Aku bahkan mulai menyayangimu dan mungkin mencintaimu. Namun aku tidak pernah menyangka kau bisa melakukan hal licik seperti itu" Arsel berkata pelan "Tapi Dhea, dia sangat berarti bagiku, dan aku semakin menyadari hal itu saat dia pergi. Aku marah dan kecewa tapi aku pun mengkhawatirannya. Dan benar saja, ia pergi bukan tanpa alasan. Tapi kau- kau yang membuatnya pergi Nad" "Arsel..." "Kita berakhir, Nadira" Tegas Arsel lalu beranjak melenggangkan kaki dari sana. Nadira mengejar memanggilnya mencoba menghentikan nya. Tapi Arsel tak mengkhiraukannya bahkan saat Nadira menangis meraung. Arsel sudah memasuki mobil dan berlalu pergi dari tempat itu. *** Susu rasa taro, cemilan kripik kentang, dan remot di tangannya tengah menemani Dhea di tengah rasa bosannya. Ia terlihat serius menonton salah satu chanel yang menayangkan film zombie. Seorang tokoh utama wanita tengah berusaha sembunyi dari gerombolan zmbie yang mendesis mencarinya. Wanita itu memeluk senter dengan keringat dingin bercucuran. Hingga sikutnya tidak sengaja menyenggol benda disampingnya dan menimbukan suara keras dan.... "Dhea" "AAAA" Dhea berteriak terkejut dan saat menoleh langsung mendapati seseorang berdiri di sana. Tapi Dhea kembali bernafas lega saat menyadari itu adalah Arsel. Tunggu. Arsel? Dhea menatap kembai Arsel memastikan penglihatannya tidak salah, dan ternyata itu memang Arsel. "Arsel? Sedang apa kamu disini? Dan bagaimana kamu bisa masuk kesini? Kenapa kam-" Dhea tidak sempat melanjutkan kalimatnya karena Arsel tiba-tiba melangkah menghampirinya dan memeluknya begituu saja. Dhe membelalakkan matanya sedikit terkejut. Ada apa dengan orang ini?. "Maafkan aku" Ucapnya pelan suaranya teredam karena menenggelamkan wajahnya di bahu Dhea. "Maafkan aku Dhea, maafkan tidak berusaha lebih keras lagi mencari mu" Ia sedikit terisak. Dhea semakin terheran. "Ada apa denganmu?" Tanya Dhea dengan bingung. "Aku tidak pernah menghamili siapa pun, tolong percaya dan jangan membenciku lagi" Arsel menjawab hal lain. Dan kini Dhea mengertii kenapa laki-laki ini bersikap seperti ini. "Aku tidak pernah mmebencimu, Arsel. Tidak pernah bisa" Arsel melerai peluknnya kemudian menatap Dhea dalam. Ia mendekatkan wajahnya pada Dhea dan mengecup bibir Dhea denngan lembut. Dhea diam dengan mata kembali membelalak. Arsel hanya mengecupnya sebentar lalu kembali melepaskannya dan menatap dalam Dhea lagi. Dhea pun melakukan hal sama. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN