Dhea membawakan kopi untuk Arsel. Ekspresi pria itu masih belum terlihat tenang. Ia sudah menceritakan bahwa ia baru saja menemui Nadira, meminta penjelasan, bertengkar, lalu mengakhiri hubungan mereka. Itulah yang dia katakan. Dan Dhea hanya mendengarkan tanpa tertarik menyahuti. Itu sudah bukan urusannya lagi. Lagi pula, kini ia sudah berdamai dengan masa lalu.
"Bagaimana kamu bisa tahu aku tinggal di sini?" Tanya Dhea seraya meletakkan cangkir kopi itu di meja.
Arsel menerima kopi itu dan meminumnya "Aku pergi ke rumah mu pada awalnya, lalu aku diberitahu supir mu kalau kamu tinggal disini" Terang Arsel.
Dhea manggut-manggut mengerti. "Aku minta maaf soal tindakan impulsif ku tadi yang lancang mengecup mu begitu saja, aku sedang kacau" Ucap Arsel menatap Dhea hati-hati.
"Tidak dipungkiri, yang kau lakukan tadi memang lancang. Tapi aku juga sama karena diam saja saat kau melakukannya. Aku terlalu terkejut" Aku Dhea jujur.
"Aku sangat kacau Dhea. Banyak hal yang berkecamuk dalam benakku. Lebih dari itu, aku memang ingin melakukan itu sedari awal kita bertemu di rumah sakit saat itu" Ungkap Arsel menatap Dhea dalam.
Dhea pun balas menatapnya dengan gejolak rasa tak menentu. Tentang... harus bagaimanakah dia bereaksi.
"Aku merindukanmu, Dhea" Lanjut Arsel lagi membuat Dhea semakin membeku. Ungkapan Arsel barusan tidak terdengar seperti rayuan atau pun bualan. Tapi sebuah ungkapan yang memang berasal dari hati.
Tin nun
Belum sempat Dhea menjawab, suara bell apartemennya menginterupsi. Dhea beranjak berdiri untuk melihat siapa gerangan yang bertamu. "Aku lihat dulu" Ucap Dhea pada Arsel. Sementara Arsel kembali menyesap kopinya lagi.
***
Betapa terkejutnya Dhea saat membuka pintu, ia disuguhi dengan seseorang yang wajahnya ditutupi oleh sebuah buket bunga lily. Dhea mengerutkan kening menebak-nebak siapa itu. Ia memiringkan kepalanya guna melihat siapa itu. Dan alangkah terkejutnya saat tiba-tiba seseorang itu meminggirkan bunganya dan tersenyum riang.
"Holla" Ucapnya cukup keras dengan tersenyum hingga deretan giginya terlihat.
Dhea sedikit tersentak "Kak Rey!" Pekik Dhea. "Ish, bikin kaget aja tahu" Dhea mengerucutkan bibirnya gemas.
Seseorang yang dipanggil Rey itu tersenyum gemas. Tepatnya Reynald. Seorang pria blasteran Indonesia-China. Ia teman pertama Dhea di Jerman dulu. Kakaknya–Devan yang mengenalkan mereka. Reynald adalah teman sekelas Devan saat kuliah di Jerman dulu. Dia selalu bersama dengan Devan hingga membuat Dhea juga sering bertemu dengan Reynald dan akrab seiring berjalannya waktu.
"Maafin ya" Ucapnya nyengir. "Nih, your favorite flower, kan?" Reynald menyodorkan bunga lily itu pada Dhea.
Dhea tersenyum menerima bunga itu "Makasih"

"Oh iya Dhea, sebenarnya aku ke sini dengan Devan. Tapi ia ke mini market dulu tadi" Ucap Reynald kemudian.
"Begitu? Baiklah, kak Rey tunggu di dalam saja..." Tunggu, Dhea teringat Arsel yang masih di dalam. "Um, tapi bentar kak Rey tunggu di sini dulu ya" Ucapnya seraya bergegas masuk meninggalkan kerutan di kening Reynald.
Arsel yang saat itu tengah menyesap kopinya terbatuk saat tiba-tiba Dhea menarik tangannya untuk berdiri begitu saja. "Dhea, apa yang kamu lakukan?"
Dhea tak menghiraukan dan malah menariknya melangkah menuju kamar. Dhea mendudukkan paksa Arsel di ranjang menimbulkan penuh tanya di benak Arsel. Namun otak kurang ajarnya justru berpikiran lain.
Ia terkekeh geli "Yaampun Dhea, bersemangat sekali. Tapi bukankah ini terlalu cepat? Kita baru saja bertemu setelah lama tak jumpa" Arsel menaikkan sebelah alisnya.
Dhea menatapnya mengernyitkan dahi "Apa maksudmu?"
"Kita, di kamar berdua, laki-laki dan perempuan–"
"Shuttt! Jangan mikir macam-macam!" Desis Dhea. "Kamu diem dulu di sini. Jangan keluar dan jangan bersuara, bahkan kalau bisa jangan bergerak juga"
"Hah?" Arsel bingung dan belum bisa mencerna maksud Dhea. Untuk apa ia melakukan itu, memangnya kenapa ia harus bersembunyi seperti maling. "Untuk apa?"
"Pokoknya kamu diem dulu disini dan jangan keluar sebelum aku suruh keluar"
"Tidak mau, lagi pun untuk apa aku bersembunyi" Tolak Arsel.
"Ish, ini apartemen ku. Jadi terserah aku "
"Ya tapi untuk apa dulu?" Kekeh Rain keras kepala.
"Aku ada tamu" Sentak Dhea.
"Tamu?" Arsel mengerutkan keningnya.
"Iya! Jadi kamu turutin apa kataku. Tidak akan lama"
"Tamunya siapa? Laki-laki atau perempuan?" Tanya Arsel menelisik dengan serius.
"Cowok" Jawab Dhea lalu berbalik dengan cepat dan mengunci pintu kamar itu.
Bruk
"Pptt" Belum sempat Arsel melayangkan protes sudah ditutup rapat. "Seenak hatinya saja" Gumamnya mendumel.
Saat keluar kamar, tampak Devan dan Reynald sudah duduk di sofa ruang tengah apartemennya.
"Eh kalian, udah masuk aja hehe" Dhea menghampiri mereka dengan menyengir.
"Ngapain cengar-cengir gitu?" Seloroh Devan heran dan geli melihat tingkah adik bungsunya. Sementara Reynald hanya tersenyum tipis merasa gemas dengan tingkah Dhea.
"Gak papa, ini tuh reaksi seneng melihat kalian, terutama kakak Devan yang tampan" Goda Dhea seraya duduk di sofa bulat di hadapan mereka.
"Bekas kopi siapa tuh?" Tunjuk Devan dengan dagunya.
Dhea mengikuti pandangan kakaknya lalu segera mengambil cangkir kopi itu " Bekas aku lah" Jawab Dhea cepat dengan sedikit tergagap.
"Masa sih, sejak kapan kamu suka kopi?" Sebagai salah satu saksi yang tahu jejak hidup sedari orok tentu Devan merasa aneh karena Dhea tidak pernah menyukai kopi.
Deg
Kenapa Dhea bisa lupa akan fakta dirinya sendiri. Tapi Dhea berusaha menormalkan raut tegangnya. "Aha haha, suka kok suka– maksudnya sekarang udah mulai suka" Dustanya seraya menyesap sedikit kopi itu yang ternyata tidak terlalu buruk di lidahnya yang tidak menyukai minuman jenis ini.
"Beneran?" Desak kakaknya lagi.
"Beneran dong kak, tuh liat aku minum lagi nih" Dhea menyesap minumannya lagi. Kali ini cukup banyak demi meyakinkan sang kakak hingga bekas kopi tercetak di atas bibir atasnya. "Tuh kan, Kenapa sih gak percaya banget sama aku? Lagian emang siapa yang mau datang ke apart aku? Aku itu gak punya temen deket kak" rengek Dhea mulai sebal.
"Baiklah, baiklah" ucap Devan akhirnya, mengalah meskipun ia masih belum percaya sepenuhnya. Karena sejak tadi ekor matanya melirik pada pintu kamar Dhea yang tercium bau-bau m mencurigakan. "Ini kakak bawain cemilan kesukaan kamu dan makanan berat juga plus buah-buahan"
Dhea membuka sedikit plastik khas mini market itu "Makasih kak" Ucapnya tersenyum.
"Kakak cuma mampir sebentar, hanya ingin mastiin kamu udah baik-baik aja"
Dhea mengangguk-angguk "Lalu kak Rey?" Dhea mengalihkan tatapannya pada Reynald.
"Iya, tadi kakak sekalian jemput dia di bandara, kasian keluarganya gak ada yang mau jemput. Anak terbuang sih" Canda Devan mengejek yang hanya mendapat gelengan kepala Reynald seraya terkekeh pelan memaklumi sahabatnya itu.
"Terus kak Rey juga mau langsung pulang aja?"
"Iyalah bareng kakak, emang kamu berharap apa? Dia nginep di sini?" Sewot kakaknya
Dhea mendelik "Ish, enggak. Cuma nanya"
Mereka larut dalam obrolan hingga tiga puluh menit berlalu begitu cepat. Mereka bercerita lalu tertawa bersama. Sampai akhirnya Devan dan Reynald pamit. Dhea mengantar mereka sampai depan.
Setelahnya, Dhea kembali ke dalam untuk membuka pintu kamar yang dikuncinya tadi. Sungguh Dhea langsung terlonjak terkejut saat membuka pintu mendapati Arsel tengah bersandar di dinding samping pintu dengan bersedikap d**a memandangnya.
"Arsel. Ngapain sih nyender disitu, Ish" Dhea mendelikkan matanya.
"Siapa Reynald?" Tanyanya langsung.
"Temen kak Devan" Jawab Dhea seadanya.
"Akrab banget kayaknya sama kamu" Gumam Arsel seraya berjalan keluar kamar melewati Dhea yang masih berdiri di ambang pintu.
"Iyalah akrab kan aku kuliah di univ yang sama dengan dia. Selain itu juga dia sering datang ke apart kak Devan jadi jelas akrab lah" Terang Dhea seraya berjalan mengikuti Arsel.
"Iya, iya, kak Rey" Arsel sedikit menolehkan kepalanya seraya meledek Dhea dengan panggilan gadis itu pada Reynald.
Kemudian Arsel melihat buket bunga Lily yang tergeletak di nakas. Arsel meraih bunga itu dan memperlihatkannya pada Dhea "Ini dari si Rey Rey itu?"
Dhea mengangguk
Arsel mengangguk dan meletakkan kembali bunga itu di tempat semula. Lalu ia mengambil jaketnya yang tersampir di kursi kayu dekat nakas. Tunggu, sejak kapan Arsel menyimpanb jaketnya di sana?.
"Arsel? Sejak kapan kamu nyimpen jaket kamu di sana?" Beo Dhea menunjuk jaket yang tengah Arsel kenakan.
"Sejak tadi"
"Ish pantes saja" Gerutu Dhea menyadari kenapa tadi kakaknya begitu menekan dan terus bertanya tentang apa ada tamu lain di apartemennya. Rupanya karena dia melihat jaket Arsel. Tapi kenapa justru dirinya yang tidak menyadari.
"Apa?" Arsel mengerutkan keningnya.
"Tadi kak Devan terus tanya-tanya aku, sepertinya dia melihat jaket mu"
Arsel berjalan melalui Dhea dan duduk di sofa "Bukan masalah besar, Dhea" Ucapnya.
"Tentu saja masalah untukku, kak Devan selalu mewanti-wanti untuk tidak membawa sembarang orang ke sini. Apalagi tadi ada kak Rey juga" Dhea menautkan jari-jarinya.
Arsel menaikkan alisnya "Memangnya aku orang sembarangan? Dan juga, memangnya kenapa kalo ada kak Rey?" Ia sedikit menekan kata-kata di ujung kalimatnya.
"Ya-ya m-maksudnya–"
"Udah, sini duduk" Sela Arsel menepuk-nepuk sofa di sampingnya enggan mendengar ocehannya tentang hal yang menurutnya begitu sepele.
Dhea menurut dan mendudukkan dirinya di samping Arsel. Dan tanpa terduga Arsel membimbingnya bersandar pada sandaran sofa membuat Dhea membelalak dengan jantung berdebar. Apalagi kini ia menyentuh ujung kaos oblong putih yang tengah Dhea kenakan.
Sontak Dhea menggeplak pelan tangan Arsel dengan sorot panik "Mau ngapain?!" Dhea sedikit memekik.
Arsel merotasi matanya "Memeriksa lukamu, Dhea. Aku ingin memastikannya"
"Ouhh" Dhea membulatkan bibirnya "Tapi seharusnya bilang dulu! Main angkat kaos aja"
"Khilaf"
"Dokter m***m" Dengus Dhea.
Arsel menghela nafasnya "Baiklah, nona Dhealova, dokter izin memeriksa kembali lukanya ya?" Ucap Arsel dengan intonasi lembut khas dokter.
Tersenyum, Dhea mengangguk "Baik dokter" Dan Arsel hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkah Dhea yang tiba-tiba tersenyum manis begitu.
"Sudah mulai kering, hampir sembuh total" Terang Arsel setelah melihat lukanya. "Obatnya tetap di makan sampai habis ya"
"Ih katanya udah sembuh, ngapain makan obat lagi? Bosen banget tahu makan obat terus, lidah aku aja udah pahit kalo makan makanan" Dhea memprotes.
"Makannya jangan sakit atau luka kalo gak mau minum obat" Arsel sedikit menyampirkan helaian rambut Dhea.
"Salahin yang nusuk aku" Dhea mencebik.
Arsel mengangguk "Hm, dia yang salah" memang orang b******k itu yang salah dan Arsel akan segera menemukan orang itu.
Arsel menurunkan tangannya dari rambut Dhea "Karena kau sudah sembuh, besok aku jemput, aku ingin kencan" Pungkasnya mengutarakannya keinginannya.
Dhea sedikit terkejut dengan ajakan itu "K-ken-kencan?"
Arsel beranjak dari duduknya "Hm" ia mengangguk.
"Jam berapa? Memangnya kau ada waktu? Lagipula kenapa tiba-tiba? Dan juga aku tidak akan menerima tawaran kamu" Dhea mendonggak kepalaku ke atas karena Arsel sudah berdiri dengan bibir sedikit mencebik.
"Aku akan mengusahakan di sela jadwalku, dan kau harus mau!"
"T-tapi ak–"
"Aku pulang" Potong Arsel seraya memakai jaketnya dan melenggang dari apartemen Dhea tanpa sempat Dhea memprotes lagi.
To be continued