She Is Sister

1900 Kata
Esok harinya Dhea sudah kembali menjalani aktivitasnya di toko perhiasan. Seperti biasa, ia menjalaninya dengan sepenuh hati. Hari ini tidak terlalu ramai pengunjung langsung ke toko. Hanya pesanan desain saja yang banyak. Ponselnya berdeting saat ia merenggangkan jari-jarinya. Nama "Prince Charming" tertera di sana. Oh ya ampun bahkan ia ternyata belum mengganti nama nomor ponsel Arsel sejak dulu. Dhea memang tidak menghapus kontak wa Arsel. Hanya saja dulu demi menghindari Arsel ia mengganti ponsel sekalian SIM card nya. Dan saat kembali lagi ke Indonesia ia menggunakan SIM card lamanya lagi karena banyak nomor kenalannya di SIM card itu. Dan ternyata Arsel juga tidak pernah mengganti nomor dari dulu. Ia pikir nomor itu sudah tidak aktif lagi. Prince Charming Jangan lupa jam 7 malam aku jemput Ya ampun, bahkan ini masih jam 10 pagi Arsel. Hanya mengingatkan Dhea memutar bola matanya lalu meletakkan kembali ponselnya di atas meja di antara tumpukan kertas-kertas gambarnya. Dhea menelungkupkan kepalanya di atas meja. 2 jam lagi jam makan siang, ia akan tidur dulu sebentar. Namun baru beberapa menit ia memejamkan mata, ponselnya bersuara lagi. Ia mengangkat tanpa melihat namanya terlebih dahulu. "Iya Arsel! Aku ingat. Jam 7." Ucapnya dengan suara tinggi. Dhea mengernyit saat di seberang San hanya hening. Dhea mengernyit dan hendak menaruh kembali ponselnya sebelum suara di seberang sana terdengar. "Dhea, apa aku mengganggumu!" Mata Dhea membola, ia mengenal suara itu. Ia lantas melihat nama yang tertera di sana dan iya, dugaannya benar. Ya Tuhan, berapa malunya sua sekarang. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu tadi. "Halo kak Rey, maaf tadi aku kira bulan kak Rey hehe" Terdengar kekehan di seberang sana. "Tidak apa-apa Dhea, kamu pasti sangat lelah. Aku menghubungimu hanya ingin mengajak lunch bareng. Kebetulan aku sedang ada di dekat daerah sini" "Ah-ahaha, boleh. Nanti kak Rey jemput kesini tapi" Reynald terkekeh lagi "Sure ma'am" Dhea tertawa kecil mendengar jawaban Reynald "Yasudah, see you ya kak" Setelah itu Dhea menutup sambungan teleponnya. Beruntung Reynald tidak bertanya apa-apa tentang ucapan spontannya tadi. *** Arsel yang tengah menyusuri koridor rumah sakit seusai memeriksa salah satu pasien pria paruh baya yang menderita gagal jantung. Ia dikagetkan oleh tepukan tak santai seseorang di pundaknya. "Wih ada apa gerangan, ane lihat-lihat antum senyum-senyum terus ni hari" Fatih pria tinggi brewok keturunan Arab dan seorang dokter dari bangsal anak, teman paling menyebalkan menurut definisi Arsel. Arsel melirik sekilas dan mendengus tak ramah. Beda dengan dirinya yang masih menjadi dokter umum karena masih prosesnya mengambil spesialis, lain hal dengan Fatih yang sudah resmi jadi dokter spesialis anak. Usianya memang sedikit lebih tua dari Arsel. Fatih juga merupakan sosok yang mudah akrab dan sedikit pecicilan. "Mau makan siang bareng?" Fatih menawarkan setelah beberapa saat Arsel tidak menghiraukan sapaan sangat ramahnya tadi. "Boleh, ajak yang lain juga" Ucap Arsel seraya memasuki ruangan khusus untuk para dokter recciden. Dia memang belum mempunyai ruangan pribadi. "Hey guys" Sapa melengking seorang wanita saat mereka memasuki ruangan. "Berisik!" Sahut Fatih bergurau. Ia mendelik, Shaila namanya. Seorang dokter yang mengambil spesialis anak. juga. Ia memang sangat akrab dengan Arsel dan Fatih. Ia sudah seperti adik ketemu besar bagi mereka berdua. Semua staf rumah sakit juga mengetahui itu. "Kita mau makan siang bareng di cafe pinggir rumah sakit, mau ikut?" Tanya Fatih, sementara Arsel tengah melepas jas putihnya dan menyimpannya di tempat gantungan. "Oh of course" Jawab Shaila cepat. "Of course of course" Fatih mencibir yang langsung mendapat delikan lagi dari Shaila. "Ayo, keburu ramai" Arsel berjalan keluar dari ruangan itu. Fatih dan Shaila mengikutinya dari belakang. *** "Tunggu sebentar ya mas, saya panggilkan dulu mba Dhea nya" Tita, salah satu pegawai di toko Dhea mempersilahkan sang tamu untuk menunggu di sofa depan ruangan yang khusus untuk tamu. Tidak lama Tita kembali dan menyampaikan untuk menunggu sebentar lagi sementara Dhea bersiap di dalam sana. Dhea sedikit terkejut saat pegawainya itu membangunkannya dari tidur dan memberitahu bahwa Reynald sudah menunggu di depan. Nyawa yang masih belum terkumpul sepenuhnya ia paksakan untuk berdiri dan berakhir limbung sedikit menyenggol vas bunga di mejanya hingga hampir jatuh. Ia keluar ruangannya setelah beberapa menit kemudian, dan tampak senyum merekah Reynald saat matanya bertemu dengannya. "Maaf ya kak agak lama" Dhea tersenyum merasa bersalah. "Tak apa, Dhea" Ia tersenyum. "Mau langsung saja?" Reynald bertanya perihal makan siang mereka. "Iya, aku juga udah laper" Dhea sedikit menyengir. Reynald terkekeh "Baiklah, ayo" Mereka pergi beriringan dan menaiki mobil Reynald yang terparkir cantik di depan toko Dhea. *** Sedikit lama Dhea menghabiskan jam makan siangnya bersama Reynald. Terlalu asyik mengobrol dan mengenang masa-masa mereka ketika kuliah di Jerman tahun lalu yang masih menjadi obrolan seru bagi keduanya. Hingga, tidak terasa jam makan siang terlewat begitu saja bahkan lebih. Keduanya kembali ke toko saat jam menunjukkan pukul 2 siang. Dan baru saja Dhea masuk, salah satu pegawai menghampirinya. Sementara Reynald ia persilahkan untuk menunggu di ruangannya, lelaki itu tadi izin untuk diam dulu di toko Dhea sembari menunggu temannya yang katanya ingin membeli cincin untuk calon tunangannya di toko Dhea. "Bu, ada satu pelanggan yang ingin bertemu dengan ibu langsung" Dini, salah satu pegawai Dhea memberitahu. "Oh baiklah, dimana mereka sekarang?" "Di ruang tunggu depan, Bu" "Yasudah saya akan ke sana, silahkan kalian kamu lanjutin lagi kerjaan kamu, Din" Dini mengangguk "Baik Bu, permisi" Dini berlalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Dhea berjalan ke arah yang ditunjuk Dini. Di sana tampak satu pasangan yang tengah melihat-lihat desain perhiasan di buku toko Dhea. Langkah kaki Dhea memelan dengan mata sedikit memicing. Ia merasa tidak asing dengan si wanita pasangan itu. "Permisi, ada yang bisa saya bantu?" Sapa Dhea setelah berada di dekat pasangan itu. Pun keduanya mendonggak dan berdiri dari duduknya "Hallo, ini mbak Dhea ya?" Sahut si perempuan. "I-iya, betul" "Syukurlah bisa bertemu juga" Ucap si perempuan tersenyum lebar. Dhea hanya tertawa canggung "Silahkan duduk kembali" Ucap Dhea seraya dirinya juga mendudukkan diri. Tatapan Dhea masih memindai perempuan di depannya, ia sungguh merasa tidak asing dengan rula dari perempuan ini. Padahal Dhea ingat betul bahwa ia tidak pernah bertemu apalagi kenal dengannya. "Calon tunangannya saya, ngotot banget ingin cincin tunangan kita katanya dibuatin langsung desain sama mbak Dhe, dan menjadi model satu-satunya" Suara si pria membuyarkan fokus Dhea yang sejak tadi tidak beralih. "O- oh ya tentu, model desain seperti apa yang kalian inginkan?" "Saya justru serahkan ke mbak Dhea, saya yakin mbak lebih tahu model seperti apa yang cocok untuk kami" Sahut si perempuan. Dhea hanya mengangguk samar dengan sedikit tersenyum. "Oh iya, maaf ini dengan mbak siapa? Agar nanti saya tidak lupa dan malah memberi cincinnya pada orang lain" "Oh iya, untung di ingatkan. Saya Ersya Bramantyo" Perempuan yang memberitahu namanya Ersya itu mengulurkan tangan. Dhea menjabatnya dan tersenyum canggung. "Sekalian saja, ini kartu nama saya" Si pria menyodorkan kartu namanya pada Dhea dengan tersenyum ramah. Dhea mengangguk dan menerimanya "Baiklah, nanti saya kirimkan saja gambar-gambar dari model cincinnya ke nomor ini" Ucap Dhea yang langsung mendapat anggukan dari pasangan itu. "Kalau begitu kami permisi, terima kasih atas ketersediaannya mengobrol dengan kami" Pamit mereka yang hanya diangguki Dhea. Setelah beberapa langkah mereka pergi. Dhea juga langsung melarikan kakinya menuju ruangannya. Ia membuka pintu dengan tak santai. "Kak Rey!" Pekiknya sedikit teriak. Reynald yang mendapati itu cukup terkejut "Ada apa, Dhea?" "Bisakah kak Rey mengantarku?" "Hah?" Reynald masih bingung dan menatap Dhea dengan raut bingungnya. Tanpa ba bi bu lagi Dhea langsung menarik tangan Reynald keluar ruangannya. "Itu!" Serunya. "Apa Dhea?" "Ikuti mobil itu, cepet!" Setelah terburu-buru masuk mobil, Reynald juga terburu-buru melajukan mobilnya karena perintah Dhea dengan tak santai. Padahal ia masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi hingga Dhea heboh seperti itu. 1 jam 30 menit kemudian mereka sampai di depan rumah yang cukup megah. Dan sekarang mereka hanya berdiam di dalam mobil dengan Dhea yang terus memperhatikan rumah itu dengan lekat sejak pasangan itu memasuki rumah 30 menit lalu. "Sebenarnya ada apa Dhea? Dan untuk apa kita ke rumah calon tunangannya Sandi?" Gumam Reynald bertanya. Dhea menoleh cepat "Sandi? Kak Rey kenal?" Reynald mengangguk "Dia sepupu aku" Mulut Dhea menganga hingga rasanya rahangnya akan jatuh. "Sepupu?" Reynald mengatakan laki-laki itu sepupunya. Kebetulan macam apa ini. "Iya, memangnya kenapa?" Tak menghiraukan pertanyaan Reynald, Dhea malah mengubah posisi duduknya dengan sedikit menyamping pada Reynald "Berarti kak Rey juga tahu siapa calon tunangannya sepupu kakak?" Selidik Dhea semangat. Reynald kembali mengangguk "Ersya Bramantyo seorang penari ballet yang sekarang sedang naik daun dalam bidang itu" Jelas Reynald. Dhea mengangguk-angguk paham "Kalau ibunya, kak Rey tau juga?" Reynald diam sebentar sebelum ia mengeluarkan suaranya. Karena sungguh, raut wajah Dhea benar-benar tampak serius dan seolah tak sabar menunggu jawabannya. "Tante Ellina, tidak terlalu kenal, janua tahu saja" Tampak Dhea menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan lega. Ia menyandarkan punggungnya. Kini bukan raut serius lagi yang terlihat, tapi ia tampak tengah berpikir, yang membuat Reynald semakin penasaran. "Sebenarnya ada apa Dhea?" Ia di serta dan dipaksa mengikuti mobil Sandi hingga tiba di rumah calon tunangannya yang memakan waktu hampir 2 jam, tentu saja Reynald butuh penjelasan alasan Dhea Melaku itu. Bukan ia tidak ikhlas, sungguh ia bahkan ikhlas diajak berkeliling Jakarta hingga 24 jam pun. Tapi kalo ini, ia juga sangat penasaran. Dhea menoleh "Sekarang, aku juga mengenalnya" Ucap Dhea singkat, tampak alis Reynald semakin mengkerut. Meski belum tentu, tapi setelah mendengar nama ibu dari perempuan tadi, Dhea menjadi sedikit yakin. Ellina, ia mengenal nama itu, sangat mengenal malah. Arsel, cinta masa kecil dan cinta masa remajanya sering sekali menceritakan tentang nama itu dulu. Meski bukan menyenangkan, tapi lebih ke ungkapan kebencian. Membuat Dhea berpikir Ellina ibu dari calon tunangan sepupu Arsel ini adalah orang yang sama dengan perempuan yang Arsel ceritakan sebagai ibu yang ia benci. Ditambah lagi, saat pertama melihat Ersha di toko tadi, yang pertama terbayang adalah wajah Arsel. Pantas ia merasa tidak asing dengan perempuan itu. Karena memang wajahnya sangat mirip dengan Arsel. Dan lagi, kakek Rain pernah menceritakan bahwa Arsel itu terlahir kembar. Meski sebelumnya, Dhea mengira saudara kembar Arsel juga laki-laki. Tapi sepertinya saudara kembarnya itu perempuan. *** "Maaf ya kak, aku udah ngerepotin, mana tadi udah nyeret-nyeret ka Rey lagi, maksa pula" Dhea sedikit menunduk dengan raut merasa bersalahnya. Reynald terkekeh "Sudah berapa kali kamu mengatakan itu, Dhea. Dan sudah ku katakan tak apa" Reynald menekan dua kata terakhirnya "Aku senang, meski harus berjam-jam di jalan" Ia sedikit menyelipkan gurauan. Dhea menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal "Hehe makasih ya" Ucapnya. Ya, mereka menghabiskan waktu hampir 3 jam di jalan. Jakarta dan kemacetannya mungkin dua hal yang tidak dapat terpisahkan di waktu-waktu jam pulang kerja seperti ini. Meski pemerintah sudah mengupayakan berbagai cara untuk mengatasi kemacetan itu. Mereka juga tadi terjebak macet meski tidak terlalu parah. Hanya saja, mereka tiba lagi di toko jam 8 malam. Dhea meminta diantarkan ke tokok kembali karena tasnya ia tinggalkan di toko begitu saja tadi bahkan handphonenya. "Beneran gak mau sekalian dianter ke rumah?" Tanya Reynald untuk ke sekian kalinya. "Beneran kak Rey, lagian aku bawa mobil. Tadi lupa aja saling buru-burunya" "Yasudah kalau begitu, aku pulang ya. Lagi pula, sepertinya kamu sedang ada tamu" Pandangan Reynald lurus ke belakang Dhea, membuat Dhea juga ikut menoleh. Dhea sedikit terkejut dengan tatapan terkunci dengan dua manik pria itu yang juga menatapnya. Dhea mengalihkan kembali tatapannya pada Reynald saat laki-laki itu berpamitan dan melambaikan tangannya sebelum memasuki mobil dan meninggalkan area toko Dhea. Dengan gugup Dhea membalikkan badannya. Ia sedikit mengangkat kepalanya dan menatap sebentar Arsel yang masih menunggunya bersandar pada pintu kaca tokonya dengan tatapan yang cukup....tajam To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN