21+
Dengan langkah perlahan Dhea menghampiri laki-laki yang berdiri menatapnya sedari tadi. Hingga saat sudah sampai di hadapannya, laki-laki itu menegakkan kembali tubuhnya.
"Syukurlah kau sangat baik-baik saja, kita makan malam lain waktu saja" Ucapnya begitu dingin dengan diselipi sedikit sindiran. Lalu ia melenggang melewati Dhea.
Dhea yang gugup dan mematung dengan segera membalik badannya dan mencekal tangan laki-laki itu "Arsel"
Arsel menoleh menatap silih berganti wajah gadis di depannya dan tangan yang dicekal gadis itu. "Kau mau ke mana?" Tanyanya dengan nada sedikit lirih.
"Pulang"
"Bukannya kita akan makan malam?" Dhea sedikit merengek.
"Bukannya barusan kau sudah makan malam?" Arsel membalikkan pertanyaan.
Dhea mengeratkan cekalan tangannya "Siapa yang bilang hah? Aku belum makan sejak siang. Dan aku lapar. Seenaknya saja menyimpulkan. Kalau memang tidak mau makan denganku bilang saja. Dan tidak usah mengajak sebelumnya!" Bentak Dhea seraya menyentak tangan Arsel lalu berbalik dan memasuki toko dengan marah.
Arsel menghembuskan nafas kasar. Wanita dan segala problematikanya. Disini kan seharusnya dia yang marah mendapati gadis itu pulang bersama seorang laki-laki dan tidak menepati janjinya. Tapi kenapa sekarang malah dia yang marah.
Pun Arsel ikut memasuki toko mengejar sang gadis yang tengah merajuk itu. Tanpa izin atau permisi Arsel melenggang memasuki ruangan Dhea. Ia melihat gadis itu tengah berdiri di dekat jendela yang mengarah pada sebuah taman kecil di belakang tokonya.
Arsel tidak menghampirinya, ia justru berjalan ke arah meja kerja gadis itu dan mengambil tasnya "Ayo pergi makan"
Dhea menoleh dengan tatapan masih sengit "Tidak, kau pergi saja sendiri sana" Ia kembali mengalihkan pandangan pada taman.
Arsel menghela nafas lagi "Maaf karena sudah bersikap aneh seperti tadi padamu. Aku hanya tidak bisa menyembunyikan rasa marahku saat melihat kamu berjalan bersama pria lain" Ungkap Arsel berterus terang.
Dhea menoleh cepat mendengar itu, mulutnya terbuka ingin menanggapi sebelum Arsel kembali menyela "...aku tahu aku tidak berhak, tapi memang begitu yang ku rasakan"
Dan akhirnya Dhea tidak jadi mengeluarkan apa pun yang ingin ia katakan tadi. Melihat Arsel, ia jadi ingin mengatakan apa yang sebenarnya tadi ia lakukan bersama Reynald. Hanya saja, jika ia mengatakannya sekarang, hal itu belum tentu pasti. Dan Dhea tidak mau semakin melukai perasaan Arsel dengan memberikannya harapan semu. Toh ia juga belum pernah melihat rupa ibu atau saudara kembar Arsel sekalipun itu lewat foto. Dan tadi ia mengira hanya bermodal karena Ersha begitu mirip dengan Arsel.
"Kalau kamu memang sudah tidak ingin pergi yasudah, kita pergi lain waktu" Ucap Arsel seraya akan meletakkan kembali tas Dhea.
"Mau!" Sahutnya cepat sedikit kencang. Arsel menoleh mengangkat alisnya "Aku kan sudah bilang, aku lapar" Ucap Dhea mengalihkan pandangan dari Arsel seraya melenggang berjalan lebih dulu dari ruangannya.
Arsel kembali membawa tas Dhea dan berjalan mengikuti gadis itu. Terlihat Dhea tengah bercakap-cakap bersama pegawainya. Dhea mengucapakan terima kasih pada Tita karena sudah rela menambah jam kerjanya dengan menjaga toko hingga malam karena menunggu Dhea.
"Ta, makasih ya udah mau di repotin. Ini kamu bawa mobil saya saja, besok datanglah agak siang" Dhea menyerahkan kunci mobilnya.
"Terus ibu gimana pulangnya?"
Dhea sedikit menoleh ke belakang pada Arsel yang tengah menatap ke arah mereka berdua "Tuh, saya pulang sama teman saya. Lagian ini sudah malam takutnya susah nyari taksi apalagi angkutan umum"
"Yasudah kalo gitu, makasih ya Bu. Saya permisi duluan" Dhea mengangguk.
"Atasan yang baik, hm?" Arsel berbisik di samping telinga Dhea saat ia tengah memperhatikan Tita yang mulai meninggalkan area toko.
"Apaan si kamu, lagian gara-gara aku juga dia jadi pulang malam"
"Iya memang" Sahut Arsel ringan yang membuat Dhea sedikit mendelik.
Setelahnya, Arsel membantu Dhea menutup toko dan menguncinya, baru setelah itu mereka pergi.
***
"Gedung apart?" Dhe mengerutkan alisnya.
"Lantai 4, apartemenku di sana"
"Bukan itu yang ingin aku tahu, kita ngapain kesini?"
"Kamu lapar kan? Aku juga"
"Iya terus? Lapar tapi ngapain malah kesini, kenapa gak cari tempat makan?"
"Lihat deh keluar, sekarang keadaannya lagi gimana?"
Dhea menolehkan wajahnya ke ke luar melirik ke balik jendela mobil "Hujan" Malam ini memang hujan cukup deras, padahal saat berangkat dari toko tadi hanya gerimis kecil.
"Ya, mungkin karena hujan cafe dan restaurant yang kita lewati sepanjang jalan sudah pada tutup padahal baru jam sembilan" Terhitung dengan menutup toko dan membereskan semuanya, Arsel dan Dhea pergi dari toko sekitar setengah sembilan tadi.
"Kalau begitu antar aku pulang saja"
"Iya, setelah kita makan aku antar pulang. Sebelumnya, aku akan memasakkan makanan yang enak untukmu. Aku tidak ingin di catatan sejarah hidupku membuat seorang wanita kelaparan setelah ku ajak jalan" Ucap Arsel menahan senyum merasa geli dengan ucapannya sendiri.
Dhea pun tidak bisa menahan tawanya "Kamu emang paling parah"
Arsel ikut terkekeh akhirnya "Tunggu disini sebentar, aku beli bahan-bahan di supermarket sebrang sana"
"Mau ikut, aku juga ingin beli sesuatu"
"Hujan" Ucap Arsel pelan.
"Yasudah nitip kalo begitu"
Arsel mengangguk "Nitip apa?"
"Biskuit dan–"
"Yougert" Sela Arsel. "Benar kan?"
Dhea mengangguk. "Tunggu sebentar kalau begitu" Arsel membuka pintu mobil namun Dhea buru-buru mencegatnya. "Ada apa?"
"Yang kemasannya besar ya" Pintanya sedikit malu-malu tentang titipannya.
Arsel mengangguk "Iya" Lalu ia turun dari mobil membentangkan jaketnya menutupi kepala. Di tengah kakinya yang berlari menuju supermarket itu, diam-diam Arsel tersenyum. Tidak mungkin. Tidak mungkin ia melupakan apa yang menjadi kesukaan gadis itu, termasuk dua makanan tadi. Dan Arsel luar biasa senang bisa merasakan ini lagi. Merasakan Dhea yang memintanya membelikan sesuatu seperti dulu.
Beberapa saat kemudian Arsel kembali dengan sekantong kresek besar berlogo nama supermarket itu. Bajunya cukup basah karena meski hanya menyebrang, hujannya sangat lebat. Dhea memperhatikan Arsel yang kini tengah menyimpan kresek belanjanya ke jok belakang.
"Harusnya kamu selalu sedia payung di mobil"
Arsel menoleh "Cuaca lagi panas-panasnya, siapa sangka akan turun hujan"
"Manusia kan tidak bisa memprediksi hukum alam, karena itulah selalu sedia saja. Tapi kan, selain itu kamu juga bisa liat perkiraan cuaca di handphone"
"Kita sudah seperti orang-orang Eropa di masa dulu yang selalu membahas tentang topik cuaca" Ucap Arsel seraya terkekeh melajukan mobilnya.
"Memangnya begitu?" Dhea menoleh mengerutkan keningnya.
Arsel ikut menoleh dan mengangguk "Kata di novel"
"Hah? Kamu suka baca novel? Mengejutkan. Aku tidak menyangka" Dhea berseru cukup terkejut.
"Novel kamu"
"Hah?" Kalo ini Dhea lebih terkejut lagi. "Kenapa novel ku?"
"Kamu lupa tentang kita ya Dhea? Kamu kan dulu sering main ke rumah untuk memintaku mengerjakan tugas-tugas sekolah mu sementara kamu sibuk dengan novel bacaanmu yang hanya tulisan tanpa gambar itu"
Dhea menatap Arsel kini. Hatinya tiba-tiba dihinggapi rasa aneh yang tidak nyaman. Ada senang tapi sesak mendapati pria itu masih mengingat hal-hal kecil yang pernah mereka lakukan dulu.
Mereka kini memasuki basmant. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka berjalan beriringan menuju lantai 4 di mana apartemen Arsel berada.
Saat memasuki apartemen itu, mata Dhea dibuat membola karena desainnya yang begitu mewah namun tidak berlebihan. Sangat nyaman dan membuat betah. Di d******i dengan warna putih dan abu muda. Aroma wangi bahkan menyeruak ke rongga hidungnya. Luasnya mungkin dua kali lipat dari apartemen miliknya.
"Jadi kamu tinggal disini?" Dhea bertanya masih dengan melihat-lihat sekeliling.
"Tidak, Oma akan marah kalau aku memutuskan untuk tinggal sendiri disini. Apartemen ini aku pakai saat aku ada jadwal hingga dini hari, karena terlalu jauh pulang ke rumah, jadi aku pulang ke sini karena memang lebih dekat jaraknya ke rumah sakit" Tutur Arsel cukup panjang.
"Sayang sekali, apartemen sebagus ini hanya ditempati sesekali" Gumam Dhea.
"Kamu mau tinggal disini?" Celetuk Arsel tiba-tiba.
"Hah?" Dhea menoleh terkejut.
"Kamu mau tinggal disini?" Ulang Arsel seraya ia mengeluarkan barang-barang belanjaan dari kantong kresek.
Dhea menghampiri Arsel yang tengah berkutat di dapur. Lalu ia menggeleng "Tidak, untuk apa. Aku sudah punya apartemen sendiri. Yaaa walaupun tidak sebagus milikmu" Dhea duduk di kursi tinggi dan memangku dagu memperhatikan Arsel yang kini tengah memotong-motong daging dan jamur.
"Aku bertanya seperti itu karena kamu terlihat menyukai apart ini, dan jika kamu mau kamu boleh tinggal disini"
"Dan satu atap bersama kamu?"
"Aku tidak akan kesini kalau itu yang kamu khawatirkan, tapi apa kamu memang tidak punya keinginan untuk tinggal satu atap denganku suatu saat nanti?" Arsel menatap Dhea kini.
Dhea jadi kikuk sendiri di tatap seperti itu. "Apa yang kamu masak?" Tanya Dhea mengalihkan pembahasan yang tidak ingin ia bahas untuk sekarang.
"Pasta, tidak apa kan makan pasta malam-malam?"
"Tentu, aku suka"
"Baiklah, tunggu sebentar kalau begitu" Arsel kembali bergutat dengan masakannya.
"Arsel, aku boleh meminjam kamar mandimu? Badanku rasanya tidak nyaman jam segini belum mandi" Keluh Dhea.
Arsel mengangguk "Kamar mandi di kamarku saja, hanya di kamar mandi itu yang ada peralatan mandinya. Ada sabun mandi dan sikat gigi baru juga di kabinet sama"
"Baiklah" Arsel kemudian menunjukkan di mana letak kamarnya.
Dhea kembali terkesima melihat ruangan yang katanya kamar Arsel itu. Sangat rapi dan bersih meski dia bilang jarang disinggahi. Sedari dulu Arsel memang orang yang sangat rapi. Apalagi sekarang dia dokter, jadi wajar jika kamarnya pun tertata begitu rapi dan bersih.
***
Dhea begitu terkejut saat keluar dari kamar mandi ia mendapati Arsel tengah di kamar itu juga yang sama tengah menatapnya dengan raut terkejut. Tidak seperti kebanyakan perempuan yang berteriak ketika mendapati laki-laki melihat keadaan dirinya yang tidak memakai pakaian lengkap, Dhea justru refleks berbalik dan langsung masuk lagi ke kamar mandi. Menyandarkan tubuhnya di pintu dengan jantung berdegup cepat dan pipi yang memerah.
"Kenapa kamu tiba-tiba ada di sana, kamu kan tau aku sedang meminjam kamar mandi" Teriak Dhea dari dalam.
Arsel gelagapan. Ia juga terkejut mendapati Dhea yang tengah handukan. Tadi ia pikir Dhea masih lama di dalam sana. Karena biasanya gadis itu akan sangat lama kalau sudah di kamar mandi. Jadi ia berinisiatif mengambilkan kaos oblong putih miliknya dan celana training.
"A-aku pikir tadi kamu masih lama di dalam, jadi aku mengambilkan baju ganti untukmu. Maaf" Ucap Arsel. Dan tanpa menunggu respon lagi dari Dhea, ia melenggang keluar kamar.
Sesaat setelah menutup pintu kamar, Arsel menundukkan kepalanya melirik ke bawah pada celananya yang menggembung dan sakit. "s**t" Umpatnya berdesis dengan menangkupkan tangannya bada bagian itu. Ia heran kenapa miliknya baperan sekali. Baru liat Dhea handukan saja sudah bangun. Benar-benar tidak elegan.
Setelah beberapa saat kemudian Dhea keluar dengan wajah memberengut. Ia kembali duduk di kursi tinggi tempatnya duduk tadi. Arsel meliriknya sedikit-sedikit.
"Aku minta ma–"
"Sudahlah, lupakan" Sela Dhea cepat.
"O-oke" Arsel merutuki mulutnya, kenapa ia masih bicara dengan gugup. "Pastanya sudah jadi, mau makan disini atau di ruang tengah?" Arsel mengalihkan.
"Ruang tengah saja"
Akhirnya mereka makan sembari menonton televisi. Di luar hujan masih saja lebat. Meski tidak selebat tadi.
Arsel memperhatikan bagaimana Dhea begitu cantiknya bahkan dengan hanya menggunakan kaos oblong besar dan celana training miliknya. Kulitnya yang putih begitu bersinar. Rambut hitamnya di cepol indah dengan anak-anak rambut yang mempercantik lingkar wajah Dhea. Arsel tersenyum dalam tatapannya.
"Kau seorang pendesain bermacam model perhiasan, tapi aku tidak pernah melihat ada perhiasan di tanganmu"
Dhea imut melirik pada tangannya "Aku punya banyak sekali, tapi hanya ku pakai saat menghadiri acara-acara tertentu. Jika dipakai sehari-hari entah kenapa aku merasa sedikit tidak nyaman" Gumamnya seraya tersenyum kecil.
"Kalau gelang manik? Kau masih menyukainya? Dulu kau sering memakai aksesoris itu" Dhea hanya menoleh tak menanggapi "Sebentar" Arsel kemudian bangkit dari duduknya.
Sesaat kemudian ia kembali dan duduk di samping Dhea. Lalu dengan lembut ia meraih tangan Dhea. Sementara itu, Dhea sendiri sedikit terkejut saat Arsel memakaikan gelang manik-manik kecil campuran antara hitam dan merah.
"K-kamu masih menyimpannya?" Beo Dhea tanpa sadar.
Arsel mendonggak menatap sebentar lalu ia mengangguk "Ya" Ucapnya. "Aku pernah menarik dan memutuskan gelang ini dari tanganku saat aku putus asa kau menghilang begitu saja tanpa memberiku penjelasan. Tapi seperti anak kecil, aku memunguti manik-manik yang bercecer itu satu persatu dan ku susun lagi seperti semula"
"Pantas warna benangnya berbeda" Gumam Dhea.
"Gelang ini tak akan terputus lagi 'kan? Aku ingin kita juga. Jangan ada perpisahan lagi. Meskipun sekarang dengan keadaan berbeda" Arsel berkata sendu menatap bola mata Dhea dalam-dalam dengan tangan masih menggenggam tangan Dhea dan ibu jarinya yang bergerak halus di sana.
"Dalam artian apa, Arsel?" Dhea membalasnya dengan nada yang sama.
"Apa yang kau mau?"
Dhea diam. Atau sebenarnya ia tengah menunggu?. Dhea hanya bingung. Apa yang tengah Arsel rasakan, apa yang akan ia katakan, apa yang Arsel inginkan darinya. Kenapa sedari dulu Arsel begitu sulit ditebak. Dan ketika ia bertanya tentang apa yang ia bingung kan, Arsel justru selalu menjawabnya dengan pertanyaan lagi.
Dengan perlahan ia melepaskan tangannya dari genggaman Arsel "Aku tidak tahu" Jawab Dhea setelah cukup lama terdiam.
Tapi dalam sedetik kemudian Arsel menangkupkan sebelah tangannya pada pipi Dhea dengan wajah mendekat dan mengecup bibir Dhea dengan gerakan cepat yang membuat mata Dhea membola dan terkejut. Dhea pikir Arsel akan berhenti disitu. Tapi tangan yang lainnya kini ikut menangkup pipi Dhea dengan lembut. Ia kembali mencium dan melumat bibir Dhea dengan begitu lembut juga. Dhea sempat melihat mata Arsel terpejam sebelum ia ikut memejamkan matanya juga. Dhea tidak membalas namun ia membuka mulutnya.
Setelah beberapa saat, Arsel melepaskan ciumannya namun tidak menjauhkan wajahnya "Aku mencintaimu, Dhea" Arsel menatap mata bulat Dhea lamat-lamat "Baik dulu atau sekarang, perasaan itu tidak pernah berubah Dhea. Dan kamu tidak perlu percaya, aku pun tidak perlu meyakinkanmu. Karena yang ku gunakan adalah keyakinan dalam diriku sendiri"
Setelah mengucapkan itu, tanpa memberi kesempatan pada Dhea untuk bicara, ia kembali melumat bibir Dhea dengan lebih dalam dan menuntut. Pun dengan jantung berdebar dan mata yang serasa ingin menangis, Dhea mengikuti apa yang diinginkan Arsel. Kembali membuka mulutnya dan membiarkan Arsel menjelajah sesukanya. Bahkan kini pelan-pelan ia membalasnya.
Arsel menarik Dhea dan membawanya ke pangkuannya. Meletakkan kedua tangan Dhea agar mengalung di lehernya. Sementara kedua tangannya sendiri merengkuh pinggang Dhea. Arsel memejamkan matanya menikmati bibir Dhea yang begitu lembut, manis dan wangi. Rasa yang begitu memabukkan. Rasa yang mampu membuatnya melupakan segalanya. Dan rasa yang membuatnya terlena hingga tak ingin berhenti.
"Arsel"
Lenguhan itu. Terbakar sudah saraf Arsel kini. Arsel menurunkan kecupannya pada leher Dhea. Wangi tubuh Dhea menyeruak memenuhi rongga hidungnya. Ia menyesapnya di sana. Tangan kanannya yang semula di pinggang Dhea kini merambat ke depan. Menyusup melewati karet celana Dhea dan sampai di sana. Mengelus lembut dan membuat Dhea kembali melenguh. Kepala Arsel pening, disaat ia dapat merasakan kelembutan itu di antara jari-jarinya.
"Arsellll"
Dhea kembali melenguh. Tangannya meremas kaos pada punggung Arsel saat ia merasakan sesuatu di sana. Rasanya begitu asing tapi memabukkan hingga ia tidak berusaha menghentikan Arsel.
Arsel merasa salah telah memulainya. Karena kini ia yang tersisa ia tersiksa sendiri. Tapi ia juga belum ingin berhenti. Begitu lembut. Itu yang Arsel rasakan.
Dhea dapat merasakannya. Sesuatu yang didudukinya. Tapi Dhea tidak fokus ke sana. Hingga Dhea merasakan sesuatu yang aneh hingga membuat ia memekik cukup kencang.
"Arselll"
Dhea bernafas cepat dengan kepala terkulai di bahu Arsel. Tubuhnya begitu lemas kini. Dhea kembali mengernyit saat merasakan Arsel menarik tangannya dari sana dan beralih memeluk erat punggungnya.
Ia berdiri dengan membawa Dhea dalam gendongannya. Menggendong Dhea di depan. Membawanya ke kamar dan mendudukkan diri di ranjang miliknya. Ia mengusap-usap lembut punggung Dhea.
Arsel tersenyum mengecup rambut Dhea "Cape ya?"
Dari balik bahunya, Arsel dapat merasakan Dhea mengangguk. "Arsel, aku tidak pernah merasakan itu sebelumnya"
"Apa kau menyesalinya?"
Dhea menggeleng "Aku tidak tahu"
Arsel terkekeh "Kau selalu menjawab tidak tahu" Lalu mereka diam lagi cukup lama.
"Arsel"
"Hm" Arsel mengelus lembut Surai panjang Dhea.
"Sebenarnya tadi aku bertemu salah satu pelanggan yang memesan desain cincin pertunangan. Aku begitu terkejut karena ia begitu mirip denganmu. Namanya Ersha. Karena itulah tadi aku pergi bersama kak Rey untuk mengikutinya. Dan ternyata kak Rey mengenalnya. Tunangan dari perempuan itu sepupu kak Rey. Dan kak Rey bilang ibu dari perempuan itu bernama Elina"
Dhea kemudian mengangkat kepalanya dari bahu Arsel sedikit memberi jarak dan menatap Arsel yang juga tengah menatapnya. "Arsel"
"Hm"
"Aku berpikir, mungkinkah dia saudara kembarmu? Dan....Elina itu ibumu"
Arsel hanya diam menatapnya. Sesekali meneguk salivanya terlihat dari jakunnya yang naik turun.
"Kau tidak perlu melakukan itu"
"Melakukan apa?"
"Mencari tahunya"
"Arsel, kau mencintaiku kan?"
Arsel mengangguk tanpa mengalihkan tatapannya.
"Arsel, jika kamu memang sungguh ingin bersamaku. Jangan hanya jadikan aku tempatmu berbagi perasaan seperti dulu. Tapi bawa aku untuk menghadapi dan menyelesaikan segala kesulitanmu"
"Dhea...." Arsel berkata lirih.
"Aku ingi memulainya dari sana"
"Dhea..."
"Cobalah berdamai dengan masa lalu mu Arsel. Lupakan segala amarah dan rasa benci itu. Tidak semua yang kamu anggap sulit itu benar-benar sulit. Kamu hanya tidak mencoba untuk menghadapinya"
Arsel terdiam. Ia hanya menatap Dhea dengan dalam. Rengkuhannya mengerat dan rahangnya menegang. Lalu detik selanjutnya ia tersenyum "Gadis kecil yang dulu luar biasa manja itu ternyata sekarang sudah bisa berpikir sedewasa ini"
Dhea tertawa kecil "Apa kau akan melakukannya?"
Arsel mengangguk "Akan aku coba" Lalu ia kembali memeluk Dhea dan merebahkan kepalanya pada d**a Dhea.
"Dulu aku sempat berpikir kembaranmu laki-laki juga" Gumam Dhea seraya memainkan rambut Arsel.
"Aku tidak menceritakannya ya?" Dhea mengangguk. "Namanya memang Ersha, perempuan. Dia lahir lebih awal dari ku. Bisa dibilang aku ini seorang adik" Terang Arsel seraya terkekeh kecil.
"Tuh kan" Dhea sontak menjauhkan Arsel. "Berarti benar perempuan itu saudara kembar kamu"
Arsel mengangkat bahunya acuh tak acuh "Mungkin" Lalu ia kembali memeluk Dhea dan merebahkan kepalanya di d**a Dhea. "Menginap ya?"
"Hm?"
"Nginap, sudah larut juga"
"Apa kamu akan tidur disini?"
"Tidak, jika itu membuatmu tidak nyaman. Aku akan tidur di kamar lain"
Dhea mengangguk. Katakan saja ia murahan. Tapi saat ini ia ingin terus berdekatan dengan Arsel. Pria yang selalu mempunyai tempat istimewa di hatinya.
Arsel melepas pelukannya dan tersenyum. "Kalau begitu istirahatlah, aku akan mandi dulu"
Arsel kemudian menurunkan Dhea dari pangkuannya. Lalu beranjak dari kasur. Sementara Dhea duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Bukannya tadi kamu sudah mandi?"
Arsel tersenyum "Aku perlu mandi lagi" Ucapnya seraya membuka lemari mengambil baju tidur dan memasuki kamar mandi.
To be continued