Malu

1012 Kata
Sang putri menggeliat dalam tidurnya saat aroma sedap menyapa halus hidungnya. Perlahan ia membuka mata kemudian terburu bangun lalu untuk sesaat melihat-lihat ke sekelilingnya. Ia sedikit terkejut dan bingung karena itu bukan kamarnya, namun setelah ingat bahwa ia memang tidak di kamarnya. Melainkan di kamar apartemen mantan kekasih masa kecilnya. Dhea beranjak dari tempat tidur, pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Sesaat setelah keluar dari kamar mandi, Dhea mengendus-endus tangannya yang beraroma sabun Arsel yang sangat wangi menurutnya. Wanginya menenangkan. Setelahnya, Dhea keluar kamar dan menemukan Arsel yang tengah sibuk di pantry. Tempat dari mana aroma sedap tadi berasal. Dhea terus memperhatikan punggung tegap Arsel dari belakang. Rambutnya yang dicukur rapi ala-ala manley terlihat begitu menawan meskipun dilihat dari belakang. Merasakan kehadiran seseorang di belakangnya, Arsel menoleh dan berbalik lalu ia tersenyum saat menemukan Dhea di sana "Pagi" Ucapnya. Dhea tidak menjawab, ia hanya balas tersenyum. Arsel kemudian menyajikan masakannya yang berupa omlate dan ayam kecap lengkap dengan nasi putih yang terlihat masih mengepul. "Makanlah, kamu masih suka omlate kan?" "Iya" Tapi kemudian Dhea melirik ke piring yang ada di hadapan Arsel. Sepaha ayam kecap. Terlihat enak sekali, jadi dari ayam itu aroma tadi berasal. Tapi kenapa Arsel pelit sekali hanya masak satu paha saja. "Kenapa? Kau mau ini?" Arsel memperhatikan Dhea yang sedari tadi melihat piringnya. Dhea tidak menjawab tapi dari gelagatnya Arsel sudah tahu. Pun ia mendorong piring miliknya pada Dhea. "Makanlah, aku membuatkan mu omlate karena ku kira kau akan menyukainya" Dhea tersenyum "Kau pria yang pengertian, terima kasih" Pun menyantap ayam kecap itu dengan lahap. Ia menaikan tatapannya pada Arsel yang hanya menontonnya. Lalu tatapannya beralih pada piring berisi omlate tadi. "Kamu makan ini saja tak apa kan" Ucapnya seraya mendorong piring berisi omlate itu pada Arsel. Arsel tersenyum mengangguk dan mengambil piring itu "Makanlah yang banyak kau kelelahan sejak semalam" Arsel sedikit menahan senyum diakhir katanya. "Hmm?" Dhea sedikit bingung. "Arsheeel" Dengan masih fokus pada makanannya tanpa melihat ke arah Dhea Arsel bersuara menirukan suara Dhea semalam. Sontak bayangan semalam melintas dalam ingatan Dhea. Tentang bagaimana dirinya mendesah dan mengerang atas apa yang Arsel lakukan. Saat itu juga pipi hingga ke telinganya memerah dan terasa panas, tanpa sadar ia menjatuhkan sendoknya dengan mematung. Demi tuhan ia sangat malu. Mendengar bunyi ting Arsel menaikkan tatapannya pada Dhea "Ada apa?" Sungguh Arsel tidak kuat menahan tawa melihat ekspresi Dhea sekarang. Lucu dan menggemaskan di waktu bersamaan. "Aku selesai" Ucapnya seraya turun dari kursi tinggi itu. Berjalan ke arah sofa dan menyambar tasnya. Melihat itu, Arsel ikut beranjak dan melihat Dhea sudah akan pergi dari apartemennya. Arsel mencekal tangan Dhea "Ingin ke mana?" Dengan wajah yang masih memerah, bersentuhan dengan Arsel seperti ini hanya membuatnya semakin malu. Ia tidak tahu apakah ia begitu lebay, tapi sungguh mengingat kejadian semalam dan diingatkan seperti oleh Arsel itu rasanya sangat memalukan. "Toko" Singkatnya menjawab pertanyaan Arsel. "Aku antar" Dhea tidak menjawab. Tapi Arsel anggap itu jawaban iya. Arsel kembali ke kamar mengambil jaketnya lalu menyambar kunci mobil dan kembali meraih tangan Dhea berjalan bersama menuju basmant. *** "Cantik" Puji Arsel saat melihat penampilan Dhea yang mengenakan dress pilihannya. Mereka kini tengah berada di salah satu butik terbaik di kota itu. Baju yang dipakai Dhea hari kemarin masih basah. Alhasil Dhea berangkat menggunakan kaos putih milik Arsel. Sebenarnya ia tadi meminta agar diantarkan ke apartemennya saja untuk berganti pakaian. Tapi Arsel bersikeras untuk beli di butik yang mereka lewati saja. "Makasih" Balas Dhea singkat lalu beranjak dari tempat itu mendahului Arsel yang kini tengah mengurus pembayaran. Arsel menyusulnya dan duduk di kursi kemudi, ia melirik Dhea sebentar yang kini pandangannya lurus ke depan dengan badan kaku. Sebenarnya Arsel cukup kesal dengan tingkah Dhea, tapi juga gemas di waktu bersamaan. Sejak dari apartemennya tadi tingkah Dhea seperti itu. "Sudahi sikap canggungnya" Terang Arsel seraya menyalakan dan melajukan mobilnya. Dhea menoleh kini "Cac–canggung? Siapa yang canggung? Tidak" Bantah Dhea dengan sedikit tergagap. Arsel menyunggingkan sudut bibirnya "Tidak perlu menutupi, aku tahu kau canggung karena....Arsheeellhh" Kembali Arsel menirukan desahan Dhea semalam. "ARSEL STOP!" Dhea dengan kilat tajam menatap Arsel. "Ada apa Dhea? Aku hanya mengenang suaramu, mhh Arsheeel" Lagi-lagi Arsel menirukan suara desahan itu dengan menahan senyumnya. "Arsel aku bilang stop! Berhenti mengatakan itu atau aku turun disini!" Dhea benar-benar marah kini, ia benar-benar malu bahkan ia tidak tahu sudah semerah apa wajahnya kini karena terasa panas sekali hingga ke telinga. "Kita memang sudah sampai di toko mu nona" Arsel tersenyum jail. Dhea mengalihkan pandangannya dan menatap ke sekeliling yang ternyata mereka memang sudah tiba di depan tokonya. Dhea kembali menatap Arsel. "Jika kamu mengungkitnya lagi aku tidak mau bertemu denganmu lagi!" Peringat Dhea. "Yakin?" Arsel menaikkan sebelah alisnya. Dhea melipat tangannya di depan d**a dengan dagu terangkat "Kau lupa siapa yang menemui terlebih dahulu?" "Tapi kau tidak menolaknya, bahkan menikmatinya" Arsel kembali menyunggingkan senyum menyebalkan itu. Habis, habis sudah pertahanan Dhea. Ia benar-benar malu sekarang. "I hate you!" Dhea keluar dengan membanting pintu mobil cukup keras lalu berjalan cepat dengan kaki menghentak. Buru-buru Arsel keluar dan mengejar gadisnya. Lalu saat Dhea akan membuka pintu toko, Arsel segera menahan pintu itu sembari sedikit menarik tangan Dhea membalikkan badan Dhea ke arahnya. Lalu dengan gerakan cepat bibirnya mendarat di bibir peach Dhea dengan tangan yang tadi memegang bahu kini beralih pada tengkuk Dhea untuk memperdalam ciumannya. Dan aksi itu ditonton semua orang yang tengah berbelanja perhiasan di toko Dhea karena toko itu memang sudah buka mengingat waktu memang sudah siang. Mata Dhea membelalak antara terkejut dan berdebar. Arsel melepas tautan bibirnya "Aku hanya bergurau, jangan marah" Arsel menyeka lembut bibir basah Dhea dari salivanya. "Sampai bertemu nanti" Ucapnya, menurunkan tangan lalu beranjak melenggang pergi dari sana menuju mobilnya kembali. Dhea masih mematung di tempat. Ia tidak habis pikir dengan pria itu. Tadi dia membuatnya kesal setengah mati, lalu sekarang tiba-tiba menciumnya di tempat umum. Mulai tersadar, Dhea mengelilingkan pandangannya dan benar saja orang-orang di sekitar sana tengah melihat ke arahnya. Telinga Dhea kembali memanas karena malu. Ia memasuki toko dengan perasaan campur aduk. Antara malu, kesal, dongkol dan....jantung yang masih berdebar kencang. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN