Arsel berjalan melalui koridornya rumah sakit dengan mata fokus membaca salah satu jurnal dari beberapa dokumen di tangannya. Dokumen itu berupa laporan-laporan pasien yang ia tangani. Harusnya ia membaca dokumen itu di rumah. Tapi tadi malam waktunya ia habiskan untuk si gadis manja yang kini sudah tidak manja lagi.
Terlalu fokus dengan dokumennya sampai ia tidak menyadari seseorang yang memanggilnya hingga sudah beberapa kali orang itu memanggil baru Arsel menoleh. Seorang gadis muda dengan paras manis tersenyum padanya. Lalu gadis itu meminta suster agar mendorong kursi rodanya ke arah Arsel.
"Hallo dokter Arsel, apa kabar? Apa dokter masih mengingatku?" Tanya gadis itu dengan antusias.
Arsel membalas senyumnya dengan kerutan di dahinya berusaha mengingat-ingat gadis di depannya "Um, aku sepertinya tidak asing dengan wajahmu, tapi jujur saja aku sedikit lupa" Akunya tersenyum tak enak.
Lalu terlihat gadis itu mengambil sesuatu dari tas kecil yang selalu ia bawa ke mana-mana. Ia mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin permata biru safir dibelit dengan titanium yang membuatnya terlihat begitu cantik dan antik. Kalung dengan harga fantastis itu merupakan kalung langka yang hanya ada lima di dunia, tiga diantaranya dimiliki oleh Arsel. Satu kalung ia berikan kepada neneknya, satu lagi ia pakai dan yang ketiga ia berikan kepada gadis di depannya ini.
Arsel tertegun melihat kalung permata itu seolah teringat sesuatu yang lebih dari sekedar bayangan ia memberikan kalung itu pada gadis di depannya "Ah ya, sekarang aku ingat, kau gadis yang merengek itu bukan?"
Gadis itu mengerucutkan bibirnya "Ih, kenapa itu sih yang diingat. Aku Tia! Tia Aulia masa lupa" Ucapnya dengan kesal mengingatkan Arsel akan namanya. Saat itu ia memang tidak mau melakukan operasi jantung yang ia derita sejak bawaan lahir. Kala itu Arsel terus berusaha membujuknya. Hingga mata Tia terpaku pada kalung yang dipakai Arsel. kemudian Arsel yang mengerti kemana tatapan Tia mengarah, akhirnya saat itu Arsel melepas dan memberikan kalung yang dipakainya pada Tia agar ia mau melakukan operasi karena kala itu kondisi Tia sudah parah dan harus segera melakukan operasi. Padahal tadinya kalung tu Arsel peruntukan untuk orang-orang terkasihnya saja.
Arsel terkekeh dengan gerutuan Tia "Ya ya aku ingat"
"Bagus deh kalau sudah ingat" Tia mengangguk-angguk dengan raut wajah diangkuh-angkuhkan, membuat Arsel teringat lagi pada gadis yang selalu memenuhi pikirannya. Ya memang selalu gadis itu yang ia ingat dimanapun ia berada.
"Jadi sekarang kamu mau ke mana? Bukannya seharusnya kamu masih harus istirahat?
"Aku ingn berjalan-jalan ke taman, sumpek di ruang rawat terus, aku mual dengan bau rumah sakit, dokter" Keluhnya mengadu.
Arsel kembali terkekeh "Makannya kamu harus cepat sembuh agar segera keluar dari rumah sakit"
"Ya, sekarang aku semangat untuk sembuh hehe" Tia menyengir menampilkan gigi-giginya yang putih.
"Good" Arsel mengacak-acak gemas rambut Tia.
"Dokter, dokter mau menemaniku ke taman?" Tanya gadis itu sedikit berharap.
Arsel melirik jam tangannya "Um, aku ada jadwal pemeriksaan beberapa pasien lain sekarang, lain kali ya Tia"
"Hm, yaudah deh, saat ketemu lagi dokter" Tia melambaikan tangannya, lalu perawat kembali mendorong kursi roda Tia menjauhi Arsel yang juga tengah tersenyum melambai padanya.
Arsel kembali ke ruangannya untuk melanjutkan memeriksa dokumen-dokumen hasil pemeriksaan pasien sebelum ponselnya berbunyi cukup nyaring. Arsel tersenyum saat tertera nama butterfly di sana.
Ia berdehem sedikit sebelum mengangkat telepon itu "Hallo, sudah merindukanku, hm?" Ucapnya dengan senyum-senyum.
"Arsel, kami bisa 'kan datang ke toko aku dulu?"
Arsel mengerutkan kening sedikit heran dengan permintaan tiba-tiba Dhea "Ada apa? Apa terjadi sesuatu? Aku masih harus memeriksa pasien di bangsal lain sebenarnya, jika tidak terlalu penting bisakah kita bertemu saat jam makan siang saja?"
"Hoh gitu ya, yasudah tidak perlu kalau begitu"
"Kau merajuk?" Arsel menaikkan sebelah alisnya meskipun Dhea tidak bisa melihatnya
"Hm? Tidak, aku hanya berpikir keberadaan kamu di rumah sakit jauh lebih penting"
"Memangnya ada hal apa kamu menyuruhku ke sana?"
"Hanya sesuatu, tapi tidak bisa ku katakan di telepon"
"Apakah itu hal penting?"
"Menurutku, ya penting "
"Yasudah, aku tanya Reza dulu apa dia bisa menghandlenya atau tidak, aku akan mengabari mu lewat pesan nanti"
"Baiklah"
Arsel bergegas menuju ruangan salah satu dokter yang juga merupakan sahabat karibnya itu. Mereka satu angkatan dan terus bersama-sama hingga di tempat pekerjaan sekarang, entah kebetulan atau apa. Arsel langsungnya membuka tanpa mengetuk pintu ruangan Reza tanpa mengira apa yang akan ia temukan di dalamnya.
"Haish-" Saat pintu terbuka sontak Arsel langsung memalingkan wajahnya tat kala melihat sahabatnya itu tengah berciuman mesra dengan perempuan berseragam perawat.
"Woy! Kalau masuk ruangan orang itu ketuk dulu! Kebiasaan" bentak Reza diakhiri gerutuan dengan raut wajah terkejut. Begitupun dengan Perempuan perawat itu, raut wajahnya terlihat jauh lebih terkejut dari Reza.
"Sorry" Singkat Arsel seraya sedikit berdehem.
Reza mengalihkan tatapannya pada sang perawat "Sayang, kamu keluar dulu ya nanti aku temui lagi" Ucapnya tersenyum. Perawat itu mengangguk lalu beranjak keluar seraya sedikit melirik saat melewati Arsel.
"Ada apa!" Ketus Reza setelah perawat itu sudah keluar ruangan.
Arsel menunjuk pintu "Perawat tadi kekasihmu?"
"Bukan urusanmu" Jawab Reza masih dengan ketus.
Arsel mengangguk-angguk tidak mau peduli "Pasien paruh baya di ruang A02 dan pasien remaja di ruang D12, apa kau bisa menghandlenya? Aku ada urusan, secepatnya akan kembali"
"Mana bisa begitu, tidak bisa. Urusan apa memangnya sampai meninggalkan tanggung jawab disini" Cibir Reza seperti perempuan.
"Aku ada perlu sebentar, aku akan segera kembali, jadi tolong gantikan aku sementara" Punya Arsel lagi.
"Gak bis-"
"Ku izinkan mendekati sepupuku" Potong Arsel.
Menoleh cepat Reza "Oke, silahkan, saya dengan senang hati menggantikan tugas anda" Ucapnya berubah kilat menjadi begitu sopan karena menyangkut gadis idamannya.
***
Beberapa menit kemudian Arsel tiba di toko perhiasan Dhea. Tanpa sungkan lagi ia langsung menuju ruangan sang kekasih pun tanpa mengetuk. Tampak gadis cantiknya tengah menerima telepon menghadap jendela dan membelakanginya.
Arsel menghampiri dan langsung memberi kecupan kilat di pipi kanan Dhea membuat gadis itu terperanjat kaget. Setelah beberapa saat Dhea mengakhiri teleponnya dan berbalik menghadap Arsel yang tengah duduk di sofa ruangannya.
"Katanya tidak bisa datang" Dhea berjalan menghampiri Arsel.
"Reza mau menghandle tugasku, tapi aku tidak bisa lama-lama"
Dbe ber-oh ria lalu ia duduk di samping Arsel dan mulai menatap sang kekasih dengan serius "Arsel, sebenarnya aku ingin menunjukkan seseorang padamu"
Arsel mengerutkan kening "Siapa?"
"Kau akan tahu, 15 menit lagi dia tiba"
Arsel menyenggut seraya memainkan ponselnya sebentar.
"Kau mau minum apa? Biar ku minta Mala untuk mengambilkannya" Dhea bertanya lagi.
Arsel menggelengkan kepalanya lalu menarik lembut tangan Dhea sampai gadis itu terduduk di sampingnya dan secara tiba-tiba Arsel merebahkan kepalanya di paha Dhea yang sedikit tersentak. "Aku lelah sekali Dhea, hari ini ada banyak pasien yang tangani. Izinkan aku pinjam sebentar pahamu" Ucapnya seraya memejamkan mata.
Untuk beberapa saat Dhea terdiam. Lalu perlahan ia mengangkat tangannya dan ragu-ragu mengulurkannya mengelus lembut rambut Arsel. "Tidurlah, nanti ku bangunkan saat mereka tiba" Arsel hanya mengangguk sekilas.
Belum lama Arsel tertidur, pintu ruangan Dhea diketuk dan munculah Mala di sana. Memberitahukan bahwa orang yang mereka tunggu sudah tiba.
Dengan lembut Dhea menepuk pipi Arsel, membangunkannya. Hingga Arsel mengerjap dan mengucek matanya sebentar. Ia menatap Dhea lalu beranjak duduk.
"Mereka sudah sampai, ayo kita temui" Dhea tersenyum terlihat begitu antusias berdiri dan menarik tangan Arsel. Sementara Arsel menurut mengikutinya.
Hingga mereka tiba di bagian depan toko tempat para tamu duduk menunggu. Dan di sana terlihat satu pasangan yang si perempuannya sontak berdiri dengan mata sedikit membelalak ketika melihat Arsel yang tengah berjalan ke arahnya bersama Dhea.
Bahkan kini perempuan itu sampai membekap mulutnya. Kini tiba sudah Arsel dan Dhea di hadapan pasangan itu.
"K-kau" Ucapnya tergagap.
Arsel pun sama terkejutnya meski dalam hatinya ia sudah menebak-nebak perempuan di depannya yang wajahnya begitu mirip dengannya. Bukan hanya mirip, tapi memang sudah seperti dirinya versi perempuan.
"Ini Arsel, yang saya ceritakan pada kalian tempo hari" Ucap Dhea menyela. Membuyarkan ketiga orang itu yang masih sama-sama mematung.
"Hallo, saya Arsel" Arsel lebih dulu mengulurkan tangan.
Ragu-ragu perempuan itu menyambut tangan Arsel, namun sedetik kemudian dia menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Arsel dan menangis di sana "Apakah ini benar-benar kau? Saudaraku yang selalu ibu ceritakan" Ucapnya memeluk erat Arsel yang diam tanpa membalas pelukannya.
Perempuan itu kemudian mengurai pelukannya dan tersenyum haru "Aku Ersha, saudarimu. Akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Ibu selalu menceritakan mu. Ia juga begitu merindukan mu. Teramat merindukan mu. Bahkan hampir setiap hari dia menceritakan mu hingga aku terkadang iri dibuatnya" cerocos Ersha bercerita.
"Senang bertemu denganmu" Hanya itu, hanya itu yang Arsel ucapkan setelah lama terdiam.
Ersha mengangguk masih dengan senyum harunya "Ayo kita temui ibu, pasti ibu senang melihatmu"
Arsel tidak menjawab, ia justru menoleh pada Dhea seraya melihat jam tangannya "Dhea, aku harus kembali ke rumah sakit. Aku berjanji pada Reza hanya pergi sebentar. Nanti ku jemput lagi, kita pulang bersama"
"U-um–" Dhea bingung harus berkata apa. Sementara Arsel sudah beranjak pergi dengan Ersha yang menatapnya nanar.
Dhea menatap Arsel dan Ersha bergantian. Ia bingung harus bagaimana. Ia tidak enak pada Ersha, tapi ia juga tidak bisa mencegah Arsel.
To be continued
See you