"Dokter Arsel?"
Arsel menoleh saat suara lengkingan gadis memanggil namanya dari arah taman saat ia melintasi koridor rumah sakit. Arsel melambaikan tangan alakadarnya sekedar untuk menyapa. Gadis itu berlari ke arahnya. Sial, Arsel sedang tidak ingin berbasa-basi dengan orang sekarang. Tapi gadis itu sudah di depannya kini.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu pada dokter, maukah ikut denganku sebentar?" Tia, gadis itu berucap dengan sumringah.
"Aku minta maaf, mungkin lain kali ya" Arsel tersenyum berusaha menolaknya secara halus.
"Yaaah, dokter sibuk banget ya?" Gadis itu mencebikkan bibirnya.
Arsel tidak enak sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Ia sedang tidak ingin berbincang dengan siapa pun saat ini. "Mm, bagaimana sebagai gantinya lain waktu kita makan siang bersama hm?"
Wajah cantik yang tadinya murung kini kembali cerah "Benarkah?" Ucap Tia begitu antusias. Arsel membalasnya mengangguk "Baiklah kalau begitu, sekarang dokter bekerja lah, semangat!" Tia mengepalkan dua tangannya di depan memberi semangat membuat Arsel terkekeh lalu mengacak-acak rambutnya.
Selepasnya dari gadis itu, Arsel tidak langsung ke ruangannya, tapi ke ruangan Reza untuk mengucapkan terima kasih sekaligus bertanya tentang perkembangan pasien yang tadi ia titipkan padanya.
Ketika hari sudah berganti malam Arsel baru pulang dari rumah sakit dan langsung menuju Crystal Jewelry milik Dhea. Namun saat tiba di depan toko perhiasan itu, Arsel mengernyit karena hanya mendapati Mala pegawai Dhea yang tengah menutup toko. Pun Arsel turun dan menghampirinya.
"Mal, di mana ibu?"
Mala sedikit terperanjat karena tiba-tiba seseorang bicara dibelakangnya "Ya ampun. Bapak buat saya terkejut saja. Bu Dhea sudah pulang"
"Hah? Kapan? Kenapa tidak menunggu saya?"
"Ya saya tidak tahu pak, ibu udah pulang sejak tadi sore, terus ia titip pesan kalau ada bapak minta bilangin kalau ibu pulang lebih dulu dan tidak perlu menyusulnya ke apart"
Arsel menghela nafas kasar "Baiklah, terima kasih Mal"
***
Apa-apaan itu? Pulang duluan, gak usah nyusul ke apart katanya? Justru dengan begitu, Arsel semakin ingin menyusulnya ke sana. Memarkirkan mobilnya di basmant, Arsel langsung menuju unit no 18 tempat Dhea. Tidak perlu mengetik atau membunyikan bel karena ia sudah hafal kode sandi apartemen kekasih manjanya itu.
Menyampirkan jaket di gantungan, ia langsung menuju ruang tengah dan mendapati Dhea tengah duduk di sofa menonton tv dengan toples cemilan di pangkuannya. Ia tampak menggemaskan dengan piayama bermotif buah jeruk kecil kecil. Ia belum menyadari kehadiran Arsel yang tengah memperhatikannya dalam diam. Lalu tanpa permisi Arsel mendudukkan dirinya di samping Dhea membuat gadis itu terperanjat dan terkejut.
"Ya ampun Arsel!"
"Kenapa pulang lebih dulu?" Ucapnya tanpa basa-basi pun dengan raut muka datarnya.
Dhea terlebih dahulu meletakan toples cemilannya pada meja sebelum menjawab "Lama Arsel, daripada aku diam di toko lebih baik aku ke apart lebih dulu" Dhea berkata dengan ekspresi yang teramat judes.
"Kamu marah ya Dhe?" Arsel menatap menyelidik.
Dhea menoleh sebentar "Tidak"
"Kalau begitu, kenapa raut wajahmu seperti itu?"
"Seperti apa maksudmu?" Dhea menyilangkan kedua tangannya di d**a dengan pandangan yang sudah ia luruskan kembali.
Arsel menghela nafas sabar, wanita memang seperti itu bukan? Tiba-tiba manja, tiba-tiba merengek, lalu tiba-tiba marah.
"Kalau begitu, ayo cari makan. Aku lapar" Arsel beranjak berdiri seraya menggulung lengan kemejanya hingga siku.
Dhea tampak acuh mengambil remot televisi dan menggonta-ganti saluran televisi di depannya "Aku sudah makan, kamu pergi saja sendiri"
"Dhea" Arsel mendesah lelah. "Aku tidak ingin keluar sendiri, aku ingin kau menemaniku" Arsel menunduk menatap ke bawah pada Dhea dengan raut wajah yang mulai dingin.
"Aku bilang tidak mau Arsel, aku sudah makan. Kalau kau tidak mau keluar sendiri, kau bisa memasak di dapur, aku menyediakan banyak bahan masakan"
Arsel terkekeh rendah "Sriously Dhea? Kamu benar-benar marah? Kenapa lagi sekarang? Aku buat kesalahan apa lagi, hm?" Rasanya rasa kesalnya menumpuk saat ini. Suasana hatinya sudah tidak nyaman sejak tadi siang saat bertemu dengan 'wanita' yang katanya kembarannya itu, di rumah sakit sudah dihadapkan dengan pekerjaannya yang menguras kinerja otak dan fisiknya, lalu sekarang, Dhea kekasih yang diharapkan bisa menjadi pemenangnya justru malah membuatnya semakin lelah dengan sikapnya.
"Aku ti-da-k marah Arsel!" Dhea menekan kata-katanya pun masih dengan ekspresi judesnya.
"Iya, kamu marah"
"Tidak!"
"Iya!"
"Terserah" Tungkas Dhea akhir, lalu beranjak hendak pergi dari sana. Namun Arsel segera mencekal dan menarik tangannya cukup kencang hingga Dhea berbalik lagi padanya.
"Kamu tidak bisa seperti ini Dhea, kau tiba-tiba marah dan membatalkan seolah kau jijik padaku"
"Seenaknya?" Dhea mendongak menatap Arsel kini "Kau bilang aku seenaknya? Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri? Kau juga berbuat seenaknya tadi siang dengan pergi begitu saja tanpa memikirkan perasaan orang. Aku kesal padamu Arsel. Kau tidak tahu seantusias apa perempuan itu saat aku bilang kau kembarannya akan menemuinya, tapi kau malah membuat dia begitu kecewa"
"Kalau begitu kenapa kau repot sekali mengutuk itu? Untuk apa pula kau melakukannya?" Arsel menatap Dhea dingin.
"Untuk apa? Arsel aku peduli padamu. Kita saling mengenal sejak kecil. Kau selalu bercerita padaku selalu iri melihat kehangatan keluargaku yang lengkap. Lalu sekarang saat ku lihat sosok yang begitu mirip dengan mu dan yakin dia saudari kembar mu membuat aku juga yakin kau bisa bertemu dengan ibumu, kalian bisa berkumpul kembali dan menjadi keluarga yang bahagia, aku hanya ingin itu Arsel. Tapi kenapa kau tidak menghargainya"
"Kau tidak mengerti Dhea"
"Apanya yang tidak mengerti?" Dhea menatap manik Arsel cukup tajam.
"Aku butuh waktu Dhea, aku tidak bisa menerima perempuan itu sebagai saudariku begitu saja" Arsel mencoba menjelaskan.
"Tapi dia memang saudarimu Arsel" Desah Dhea kesal.
"Mungkin memang tapi tetap saja aku perlu waktu"
"Lalu bagaimana dengan ibumu? Kau juga tidak mau menemuinya?" Dhea menatap menyelidik.
Arsel Diam tatapannya mengunci Dhea dengan datar.
"Tidak sekarang, sekali lagi ku katakan, tidak semudah itu menerima semua dan kau tidak perlu repot mengurusinya" Tutur Arsel masih dengan raut datarnya bahkan terkesan dingin dari setiap aksen yang diucapkannya.
Dhea sedikit terkekeh "Benar juga, untuk apa aku repot-repot mengurusi mu toh juga kita bukan siapa-siapa. Kita hanya mantan tunangan yang kembali bertemu lalu b******u dengan tidak tau malu. Untuk apa juga aku mempedulikan mu. Kau mau menemui ibumu atau hidup sebatang kara pun terserah!" Pungkas Dhea seraya berbalik hendak menuju kamarnya. Namun belum sempat melangkah, Arsel mencekal tangannya dengan sekali hentak hingga Dhea kembali berbalik.
"See, kau memang tidak akan pernah mengerti Dhea, kau malah menyangkut pautkan ke dalam hubungan kita. Kau tidak akan mengerti karena kau tidak pernah merasakannya. Kau sejak lahir sudah bersama ibumu yang sangat mengasihi mu dan saudara-saudara mu yang begitu menjagamu. Sedangkan aku? Aku baru bertemu saudariku dan mengetahui ibuku saja setelah 26 tahun berlalu. Menurut mu bagaimana perasaan ku saat tiba-tiba orang asing datang mengaku sebagai saudaraku lalu mengatakan ibuku ingin bertemu denganku. Kemana saja mereka selama ini? Kalau memang ibuku ingin bertemu denganku kenapa tidak sejak dulu dia mencariku? Kenapa?" Arsel berucap menekan setiap katanya dengan bernafas cepat.
"Menurut mu bagaimana Dhea?" Ucap Arsel dengan suara melemah. "Apa aku harus memasang wajah sumringah teramat senang? Bayangkan jika itu diposisi mu"
Tatapan Dhea berubah redup melihat mata berkaca-kaca Arsel "A-aku berfikir mungkin itu karena ibumu tidak mengetahui kau di mana, karena itu ia tidak mencari mu–" Ucap Dhea sedikit terbata pun ia merutuki mulutnya yang berucap sok tahu.
"Dia tahu Dhea, dia tahu. Dia tahu aku berada dimana karena dia sendiri dulu yang mengantarku ke rumah nenekku. Sedang rumah nenek tidak pernah berubah atau pun berpindah tetap sama sejak dulu dulu. Jadi bukan alasan dia tidak menemui ku karena tidak tahu aku di mana" Suara Arsel semakin kecil teredam segala macam emosi di dalam dirinya.
Pun tanpa kata atau pun membalas ucapan Arsel lagi, Dhea maju selangkah dan membawa Arsel ke dalam pelukannya. Ia melingkari tubuh kekar Arsel dengan tangan kecilnya dan memeluknya erat erat. Dan Dhea merasakan Arsel membalas pelukannya sama eratnya dengan kepala ia sandarkan di bahunya memiring pada ceruk lehernya.
"Aku merasa dibuang Dhea" Lirih Arsel semakin mendekap Dhea dan menyusupkan kepalanya di balik rambut Dhea. "Bukan aku tidak mencari nya, semenjak aku dewasa aku selalu berusaha mencari tahu keberadaannya, tapi aku tidak bisa menemukannya. Aku tidak bisa menemukan ibuku"
Dengan lembut Dhea mengusap-usap punggung Arsel. "Maafkan aku" Ucap Dhea pelan penuh sesal. Menyesal karena dirinya seolah mendesak Arsel padahal ia pun tidak tahu apa-apa tentang Arsel.
Kini Arsel menyandarkan dagunya di balik bahu Dhea "Dan jangan katakan lagi kau bukan siapa-siapa bagiku. Kau sangat berarti. Tentang hubungan kita, bahkan jika pun kau bersedia, aku akan menikahi mu sekarang juga. Dengan mu aku tidak pernah main-main, Dhealove, Dhealova Putri Karisma, aku mencintaimu. Sangat"
To be continued