Tadi malam seusai ia mencurahkan kegundahannya pada Dhea, mereka memutus untuk makan di luar. Lalu setelah itu kembali ke apartemen Dhea untuk mengantarkan gadis itu dan setelahnya ia kembali ke rumahnya sendiri.
Lalu pagi ini, Arsel kembali melajukan mobilnya menuju BJ Group kantor perusahaan keluarganya. Ya, lagi-lagi ayahnya melibatkannya dalam pertemuan rapat bersama kolega-kolega penting. Arsel pun tak bisa menolak karena ia pun tahu maksud dari keluarganya selalu melibatkan dirinya dalam perusahaan tidak lain karena mereka memang menginginkan Arsel untuk meneruskan perusahan itu nantinya. Meskipun kini mereka tidak melarang profesi dokter yang dipilih Arsel tapi mereka tetap akan menjadikan Arsel sebagai penerus perusahaan keluarganya, ya Arsel menyadari itu. Karena itulah ia tidak bisa menolak.
Beruntung hari ini jadwal ia di rumah sakit dimulai dari jam 08.40. jadi pagi ini ia punya waktu untuk menghadiri rapat itu. Namun yang terjadi tidak sesuai dugaannya, jalanan yang ia lalui sekarang benar-benar macet hingga jarak antar mobil ke mobil lainnya itu nyaris berdempetan.
Baru sekitar 15 menit berlalu perlahan jalan mulai sedikit lenggang dan mobil hanya bisa melaju perlahan-lahan. Namun kini atensi Arsel menangkap seorang wanita di trotoar dengan menggendong seorang anak kecil juga koper berukuran sedang di sisi kanannya. Arsel pun menepikan mobilnya lalu menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Nadira?" Panggilnya.
Nadira menoleh dengan raut sedikit terkejut lalu kembali meluruskan pandangannya ke depan berpura-pura tidak melihatnya. Namun Arsel turun dari mobi untuk menghampirinya.
Arsel sedikit menoleh pada anak kecil di gendongan Nadira yang ia tahu itu anaknya Nadira yang pernah ia temui ketika di rumah Nadira dulu. Anak itu tersenyum manis padanya, senyum yang sangat mirip dengan seseorang.
Kini Arsel mengalihkan tatapannya dari anak itu pada Nadira "Kalian mau ke mana dengan koper itu?"
Nadira sedikit menoleh padanya "Panti" Jawabnya singkat.
"Apa? Untuk apa?" Arsel mengerutkan keningnya, Nadira ingin ke panti? Dan kini ia menggendong anaknya, apa mungkin....
"Kamu pikir untuk apa aku ke panti dengan anak di gendonganku, tidak mungkin untuk bertamasya kan?" Jawabnya dengan begitu dingin.
"Kamu gila?" Arsel terkejut tentu saja. Bagaimana ia tidak terkejut, kenapa Nadira akan membawa anaknya ke panti.
"Ya, kurasa juga aku sudah gila akan menitipkan putra ku yang begitu tampan dan pintar ke panti asuhan" Samar terlihat dengan air mata di pelupuk mata wanita itu.
"Masuk mobil" Pinta Arsel, merasa tidak nyaman berbicara di trotoar di pandangi orang-orang seperti itu.
"Kenapa aku harus?" Nadira menatap Arsel judes.
"Masuk Nadira. Kita bicara di mobil, apa kamu juga tidak kasian pada anakmu kepanasan seperti itu?"
Tanpa kata, Nadira menuruti ucapan Arsel dan memasuki mobilnya. Lalu Arsel membawa koper berukuran sedang yang sepertinya berisi baju-baju anak kecil itu ke jok belakang. Lalu ia juga memasuki mobil.
"Kenapa kamu akan menitipkannya di sana?" Arsel sekilas menoleh pada anak kecil di pangkuan Nadira yang kini tengah sibuk dengan permen lolipopnya.
"Aku harus kembali ke Belanda, keluarga ayahku. Ada nenek dan kakekku di sana yang masih mau menerimaku, namun mereka tidak akan bisa menerima Aldrik. Keluarga ayahku sangat menjunjung tinggi martabat kehormatan, jadi mereka tidak mungkin bisa menerima anak diluar pernikahan. Sementara aku tidak bisa terus menerus disini, aku dipecat tidak punya pekerjaan, uang sewa rumah habis, dan aku tidak mau jika nantinya hidup Aldrik kesusahan, di harus sekolah, tercukupi, sementara aku tidak bisa melakukan itu. Aku juga tidak percaya kepada baby sitter jika aku bekerja dan harus meninggalkannya. Jadi ku pikir panti menjadi pilihan cukup baik, setidaknya dia bisa aman di sana. Aku pun akan menjemputnya ketika aku sudah punya cukup uang banyak nanti" Tutur Nadira menjelaskan dengan begitu panjang bersama air matanya yang kini mengalir.
Arsel menatap nanar wanita itu, Tutut merasakan kesedihan yang dirasakannya. Terlepas dari perbuatan jahat Nadira, bagaimana pun juga ia pernah mengisi kekosongan Arsel selama beberapa tahun saat ia terpuruk karena ditinggalkan Dhea meskipun alasan Dhea meninggalkannya karena wanita itu juga.
"Tak perlu ke panti" Ucap Arsel tiba-tiba setelah mereka hening cukup lama.
Nadira menoleh "Maksudmu?"
Arsel pun menatapnya kini "Aku akan merawatnya" Tidak ada keraguan dalam ucapan Arsel saat ia mengatakan itu.
"Arsel kamu..."
"Waktu itu, saat aku pertama kali bertemu dengannya –" Sejenak ia menatap Aldrik "Ia tiba-tiba memanggil ku 'ayah' dia bilang kamu selalu mengatakan bahwa suatu saat ayahnya akan datang menemuinya dan ia pikir itu adalah aku" Kini ia kembali mengalihkan tatapannya pada Nadira yang tengah menatapnya sendu. "Jadi biar aku saja yang merawatnya, tidak perlu ke panti. Pun kamu tidak perlu takut dan khawatir, dia akan aman denganku, aku akan menyayanginya. Kamu pun bisa mengambilnya kapan pun kamu mau" Tutur Arsel menegaskan.
"Tapi Arsel bagaimana mungkin kamu mau merawat seorang anak, bagaimana kata orang nanti? Kamu pasti malu sudah punya anak sementara kamu pun belum menikah dan Dhea, bagaimana jika dia–" Nadira terisak kini.
"Kamu juga tidak perlu khawatir tentang itu, aku pun tidak akan menampilkannya ke publik sampai waktunya aku siap. Tentang Dhea, aku akan mencobanya untuk bisa mengerti. Yang perlu kamu tahu hanya Aldrik akan aman bersama ku"
***
"Apa tidak sebaiknya kamu menunggu Aldrik bangun dulu?"
Wanita itu sibuk mengusap air matanya "Akan lebih baik jika aku pergi saat ia masih tidur"
"Tapi dia akan menangis saat bangun ibunya tidak ada disampingnya"
"Tapi aku yang akan menangis ketika mendengar ia yang menjerit-jerit memanggilku, Arsel. Ku mohon mengertilah" Nadira begitu terisak. Arsel pun hanya bisa mengangguk mengiyakan.
Taksi online yang beberapa saat lalu ia pesan pun sudah tiba. Nadira melangkah menuju mobil itu, ia menoleh sejenak menatap putranya yang tengah tertidur mobil Arsel. Lalu ia mengalihkan tatapannya pada Arsel "Tolong jaga dia" Ucapnya sebelum menaiki mobil itu dan pergi dari sana.
Arsel menatap nanar kepergian Nadira. Sungguh ia tidak menyangka bahwa akan seperti ini kisah perempuan itu. Lalu Arsel kembali berjalan ke mobilnya dan meraih Aldrik membawanya ke dalam gendongannya.
Dan disinilah ia berada. Apartemennya yang menjadi rumah keduanya, kini ia akan merawat Aldrik di tempat ini. Aldrik akan tinggal bersamanya di sana untuk sementara sebelum ia mengenalkan anak ini pada keluarganya dan meminta izin untuk Aldrik tinggal bersama mereka.
Arsel pun tidak mengerti entah kenapa ia ingin merawat Aldrik. Padahal tidak ada hal apa pun yang mengharuskannya merawat anak ini. Namun satu, sebelum pergi Nadira mengatakan secara singkat bahwa Aldrik adalah anaknya Daffa, yang artinya anak ini adalah keponakan Dhea. Arsel pun tidak menyangka pria yang terlibat cinta satu malam dengan Nadira adalah kakaknya Dhea. Terlepas dari itu, Arsel berjanji pada dirinya akan tetap menyayangi anak ini. Ia tidak tiga bila Aldrik harus dititipkan di panti asuhan. Arsel tahu bagaimana rasanya ditinggalkan, ia tidak ingin ada orang yang merasakan sepertinya. Ia akan berusaha agar Aldrik tidak kekurangan kasih sayang. Ia juga tidak akan membiarkan Aldrik kehilangan sosok ibu. Dhea, ia yakin ketika mereka menikah nanti, Dhea juga akan bisa menerima Aldrik sebagai anaknya. Dia ga
dis baik dan lembut. Ia juga akan menyayangi Aldrik.
To be continued