Aldrik

1112 Kata
Pagi itu Arsel tidak jadi ke perusahaan pun mengabaikan panggilan telepon dari ayahnya. Ia tahu ayahnya akan marah saat ia pulang ke rumah nanti, tapi ia juga tidak bisa meninggalkan Aldrik di apartemen begitu saja. Meskipun begitu, untuk shif di rumah sakit, tidak mungkin ia abaikan juga. Jadi mungkin ia akan membawanya ke rumah sakit. Arsel mengambil sesuatu dari laci nakas di bawah tv lalu kembali menghampiri Aldrik yang tengah duduk di sofa ruang tengah. Pun Arsel mendudukkan dirinya di samping anak itu. Ia menyodorkan sebuah mainan robot kecil yang ia ambil dari nakas tadi "Ini, untukmu" Aldrik menoleh dan menerima mainan robot itu "Ini punya ayah?" Arsel mengangguk "Hm, mainan paling berharga ku dan sekarang menjadi milikmu" cukup canggung bagi Arsel untuk memanggil dirinya dengan sebutan ayah. Itu terlalu tiba-tiba untuknya. Mainan itu adalah satu-satunya benda kenangan yang Arsel punya dari ibunya. Neneknya mengatakan bahwa ketika dulu ibunya mengantarkan dirinya kepada neneknya saat itu Arsel tengah menggenggam robot kecil itu. Ukuran robot itu memang kecil karena hanya seukuran genggaman jari bayi. Mendapat robot kecil itu raut murung di wajah Aldrik sedikit berkurang. "Terima kasih" Ia tersenyum kecil pada Arsel dan dibalas senyum pula oleh Arsel seraya mengelus lembut kepalanya. "Aldrik" "Hm" Aldrik menoleh. "Aku harus ke rumah sakit, kau mau ikut?" Aldrik mengerutkan keningnya "Ayah sakit?" Arsel menggeleng "Tidak, aku dokter jadi setiap hari harus datang ke rumah sakit" Mendengar itu Aldrik sedikit melotot sumringah "Ayah dokter? Benarkah? Aku punya ayah seorang dokter?" serunya berantusias. "Hm" Arsel mengangguk tersenyum. "Woah keren sekali aku punya ayah seorang dokter" Senyum Aldrik semakin lebar. Arsel terkekeh geli "Kau sesenang itu?" Aldrik mengangguk pasti "Aku suka dokter, dia adalah seorang pahlawan " serunya. Arsel kembali terkekeh mengelus kepala Aldrik "Baiklah kalau begitu ayo kita berangkat" *** Sampai di rumah sakit semua mata tenaga kesehatan yang mengenalnya di sana menatapnya dengan tatapan bertanya. Namun Arsel berusaha acuh dengan tangan menggenggam erat tangan kecil Aldrik. Ia sudah siap dengan berbagai pertanyaan yang akan dilayangkan oleh orang-orang dan ia pun tidak akan ragu mengakui Aldrik sebagai anaknya. Karena memang begitu adanya. Dimulai ketika Nadira meninggalkan Aldrik padanya, maka saat itu juga Aldrik adalah anaknya. Nadira, wanita itu, ya harus Arsel akui bahwa ia pernah menyimpan wanita itu di hatinya meskipun samar dan tidak sekuat perasaannya terhadap Dhea. Namun perasaan untuk Nadira kala itu, tetap Arsel akui pernah ia miliki. Mungkin karena itu juga ia bisa se-berempati itu pada Aldrik hingga bersedia merawat dan menjadi ayahnya. "Dokter Arsel?" Gadis itu lagi. Terkadang Arsel merasa lucu selalu bertemu gadis remaja itu di rumah sakit ini. Ya memang tidak heran, ia seorang dokter dan gadis itu tengah menjalani perawatan walau mereka berada di bangsal yang berbeda. Arsel menyunggingkan senyum "Bagaimana kabarmu hari ini, Tia?" "Lebih baik, siapa ini?" Tia membawa tatapannya pada Aldrik lalu kembali lagi pada Arsel. "Anakku" "HAH?" Tia melotot juga menganga terkejut. Arsel nyaris tertawa melihat reaksi spontan Tia, ya wajar saja jika Tia atau siapapun akan terkejut. Selama ini yang orang tahu ia belum menikah, lalu sekarang tiba-tiba membawa anak berusia 4 tahun. Arsel jadi memikirkan, jika Tia saja bisa sampai seterkejut ini bagaimana dengan Dhea. Ia sudah berencana melamar Dhea, tapi jika Dhea tahu tentang Aldrik apa dia akan menerimanya? Meskipun Arsel yakin Dhea tak akan mempermasalahkannya, tapi tetap saja rasa ragu itu masih ada. *** Dhea menuruni tangga dan berbelok menuju ruang makan. Kemarin ia pulang ke rumah orang tuanya karena ayah dan ibunya sudah kembali dari Jogja. Pagi ini, ia berniat untuk langsung ke jewellery dan tidak ikut sarapan. Ini sudah terlalu siang dan jarak dari rumah ke jewellery tida sedekat dari apartemennya. "Pagi mah, pah, kak, Dhea berangkat dulu ya?" Dhea menghampiri meja makan yang diisi ayah, ibu, kakak dan kakak iparnya. Ibunya tersenyum hangat "Pagi sayang, gak sarapan dulu?" "Sarapan dulu de" kali ini kakaknya yang menyaut. "Aku gak ikut sarapan kayaknya, soalnya ini udah siang banget, yaudah aku berangkat ya semua" Dhea baru saja akan mencium pipi ibunya hendak beranjak. Tapi tiba-tiba ayahnya yang sedari tadi diam menginterupsinya. "Duduk Dhea" Dhea menoleh "Um, maaf pah kayaknya Dhea gak bisa ikut sarapan, Dhea-" "Duduk Dhea!" Kali ini ayahnya membentak membuat Dhea sedikit berjengit. Akhirnya Dhea memutari meja makan dan duduk di samping ibunya di sebelah kanan meja. "Kau kembali berhubungan dengan pria itu?" Dhea menoleh pada ayahnya dan tampak ayahnya masih sibuk dengan makanan dan raut datarnya saat bertanya seperti itu. Tatapan Dhea beralih pada kakaknya "Kak, kakak yang kasih ta-" "Jawab saja Dhea!" Bentak ayahnya lagi. Dhea memejamkan matanya kembali berjengit. "Aku tidak mau bermusuhan dengan siapa pun, aku mencoba untuk berhubungan baik dengannya dan dengan siapa pun" Dhea menunduk tidak berani menatap ayahnya. "Kau tahu bukan itu maksud ku, berhubungan baik yang ku tanyakan, kau kembali menjalani hubungan dengannya? Menerimanya kembali di hidup mu?" Darel, ayahnya menyorotnya tajam. Dhea menghela nafas panjang dan memejamkan matanya sebentar "Iya" jawabnya. Tring Bunyi sendok dan garpu di banting terdengar begitu nyaring membuat suasana di meja makan itu hening. "Apa kau sudah menjadi bodoh Dhea?! Untuk apa kau sekolah tinggi-tinggi jika laki-laki saja bisa membodohi mu?!" Kini Darel menatap putrinya lebih tajam dari sebelumnya. "Pah" Evani, istrinya mengelus tangan suaminya menenangkan. Lalu ia beralih pada Dhea merangkul dan mengelus lembut bahu putrinya itu yang sedikit bergetar. Dhea sedikit mengangkat kepalanya memberanikan untuk menatap ayahnya "Pah, Arsel udah jelasin semua ke Dhea bahwa dia bukan ayah dari bayi yang wanita itu kandung. Salah Dhea juga yang tidak meminta penjelasan Arsel dulu waktu itu dan mengikuti emosi dan amarah Dhea. Dan-" "Dan kau mempercayainya begitu saja?" "Pah, Dhea tahu Arsel. Dia bukan orang yang suka berbohong" Kekeh Dhea dengan suara yang sudah sedikit teredam. "Tanpa bukti?" Kembali ayahnya melayangkan pertanyaan bersurat keraguan. "Pah, Dhea mencintai Dhea dia. Dhea tahu saat dia berkata tulus atau saat dia berbohong" "Dan cinta itu membuatmu bodoh Dhea lebih bodohnya kau tidak menyadari itu" tak lepas tatapan tajam itu darinya. "Aku tidak mau tahu akhiri hubunganmu dengan pria itu" pungkas ayahnya seraya berdiri beranjak dari sana. Dhea pun ikut berdiri dari duduknya "Tapi pah ak-" Dhea menggantungkan ucapannya menatap punggung ayahnya yang sudah berjalan menjauh. Lalu ibunya ikut beranjak mengejar suaminya. Setelah itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca Dhea beranjak dari sana. "Bukan kakak yang kasih tahu papah" Ucap kakaknya kemudian. Dhea menghentikan langkahnya sejenak tanpa menoleh lalu kembali berjalan engan langkah cepat keluar dari rumah. Ia tahu memang bukan kakaknya yang memberi tahu meskipun tadi ia sempat bertanya pada kakaknya. Ayahnya tentu mempunyai koneksi banyak jadi tidak heran jika ayahnya bisa tahu tentang ia dan Arsel. Dan tujuannya kini adalah rumah sakit tempat Arsel kerja. Ia butuh penjelasan itu sekarang juga agar ia bisa menegaskan pada ayahnya. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN