Aku Cuma Mau Kamu

1442 Kata
Dengan langkah cepat Dhea menyusuri koridor rumah sakit. Ia mendatangi resepsionis. "Dokter Arselio Brawijaya" Ucapnya tanpa basa-basi. "Sebentar ya kak saya cek dulu" ucap resepsionis itu dengan ramah. "Ada di bangsal 2 ruang khusus dokter residen" Dhea segera beranjak menuju ruangan itu. Sampai ia di depan pintu ruangan khusus dokter residen itu, ia hanya mengetuk sebentar lalu tanpa menunggu di buka oleh seseorang di dalam sana, Dhea langsung masuk. Gelak tawa yang sebelumnya terdengar sampai ke luar spontan berhenti dan semua menoleh pada Dhea. Ada 4 dokter di dalam ruangan itu. 3 dokter laki-laki dan 1 dokter perempuan. "Dhea" lembut Arsel berkata lalu menghampirinya. "Kenapa gak bilang kalo mau kesini, aku sedang cukup senggang, aku bisa menjemputmu" Ia kembali berkata lembut. "Kamu pernah tidur dengan perempuan itu?" Dhea bernafas cepat dan kasar pun matanya berkaca-kaca. Arsel mengulurkan tangannya, dengan lembut membenarkan anak rambut Dhea yang tampak beberapa helai menutupi wajahnya "Kamu habis nangis?" "Kamu pernah tidur dengan perempuan itu, Arsel?" ulangnya dan kini Dhea benar-benar menangis. Teman-teman Arsel sesama dokter di ruangan itu tampak saking memandang menyaksikan dua sejoli itu. "Kita bicara di luar ya, ayo" Arsel merangkul dan membawa Dhea keluar dari ruangan itu. Sebenarnya Arsel juga bingung dan cukup terkejut namun sebisa mungkin ia menutupi itu. Mereka kini duduk di taman rumah sakit. "Sekarang bicaralah" "Kamu mendengar pertanyaan ku tadi" ketus Dhea tak mau mengulang lagi. Arsel menghela nafasnya "Perempuan mana yang kamu maksud?" Dhea menoleh cepat "Memangnya kamu punya berapa perempuan?" melipat tangannya di depan. "Ada nenek, aku sering tidur dengan nenek ketika kecil. Terus kamu, kita juga pernah tidur bersama" alisnya sedikit terangkat pun dengan nada menggoda. "Arsel, aku gak bercanda!" desah Dhea frustasi. Arsel sedikit terkekeh "Lalu siapa yang kamu maksud?" "Demi tuhan aku benci bahkan untuk menyebut nama wanita itu" "Nadira?" Arsel menaikan kedua alisnya menerka. Dhea memalingkan wajahnya. "Aku udah jelasin sama kamu kan? Aku dan dia memang pernah tidur berdua, tapi bukan dalam artian yang kamu pikirkan. Aku tidak menidurinya. Kami memang saling memuaskan satu sama lain pada awalnya, tapi hanya sebatas itu. Tidak berlanjut pada yang lebih intim dari itu. Aku ingat padamu ketika itu, wajah lucu kamu terbayang dan menari-nari dalam ingatanku sampai aku tidak bisa melakukan hal itu pada Nadira. Kami tidak melakukannya" "Bisakah aku mempercayai itu? Ucapanmu?" "Percaya atau tidak itu hak mu Dhea. Aku tidak bisa memaksakan suatu kepercayaan padamu atau pada siapa pun, yang jelas aku mengatakan apa yang memang ku lakukan" Arsel kembali menyampirakan rambut Dhea dan menatapnya dengan hangat. Dhea melengkungkan bibirnya ke bawah membuatnya tampak lucu di mata Arsel sehingga pria itu terkekeh. Lalu tiba-tiba Dhea memeluk Arsel mendusel-duselkan wajahnya di d**a pria itu. Ia kembali menangis bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Arsel merengkuhnya erat dengan tangan mengelus lembut rambut kekasihnya itu "Kamu sebenarnya kenapa? Apa yang membuatmu kembali ingin tahu hingga meminta penjelasan yang sudah ku jelaskan. Ada apa hm?" Dhea melerai pelukannya, ia kembali menegakkan tubuhnya dan menatap Arsel lalu menggeleng. "Tidak papa, aku hanya ingin mendengarnya lagi saja" Arsel tersenyum mengangguk. Namun Arsel tahu Dhea berbohong. Arsel tahu Dhea hanya tidak ingin mengatakannya. Karena tidak mungkin gadis itu tiba-tiba datang ke rumah sakit hanya untuk menanyakan apa yang sudah ia dengar. Bahkan ia datang dengan menangis dan wajah yang penuh dengan emosi. "Udah sarapan? Mau sarapan disini?" Tawar Arsel kemudian mencairkan suasana. Dhea kembali menggeleng "Aku sarapan di toko aja, aku juga gak mau ganggu kamu" "Aku belum ada jadwal sekarang paling nanti agak siangan" "Aku sarapan di toko saja" "Ya sudah, mau ke sana sekarang? Mau ku antar?" "Aku bawa mobil" "Baiklah, hati-hati" Arsel mengelus lembut kepala Dhea. Mereka beranjak dari duduknya. Berjalan beriringan menuju baseman. Arsel mengantarnya. Ia membukakan pintu mobil itu untuk Dhea. Saat akan masuk Dhea kembali berbalik "Pulang nanti aku mau ke apartemen mu" ucapnya. "Hm" Arsel mengangguk tersenyum. Lalu ia merogoh saku celananya dan mengambil key card dari dompetnya dan memberikannya pada Dhea. "Aku mungkin pulang sedikit telat nanti, kamu nanti masuk lebih dulu saja" Dhea menerimanya dan mengangguk lalu ia memasuki mobilnya dan berlalu dari sana. Arsel memperhatikan mobil kekasihnya itu sampai mobil itu tak terlihat. "Papah" Teriak seorang anak kecil. "Aldrik" Arsel membawa anak itu ke gendongannya karena anak itu sudah merentangkan tangannya. "Aldrik sudah ingin menghampiri dokter sejak tadi, tapi aku mencegahnya" terang Tia. Tadi anak itu memang diajak bermain oleh Tia, berjalan-jalan di sekitar rumah sakit. "Perempuan yang tadi...pacar dokter ya? Mamahnya Aldrik?" Arsel mengangguk "Iya, tapi bukan mamahnya Aldrik" Tia tidak bertanya lebih lanjut. Mendengar pengakuan Arsel tentang gadis itu pacarnya saja sudah membuatnya sesak. Seharusnya sedari awal ia tidak boleh menaruh perasaan pada Arsel. Ia begitu tampan, baik, lembut, seorang dokter pula mana mungkin tidak ada perempuan di hidupnya dan hatinya. Tia merenggut mengikuti langkah Arsel yang berjalan di depannya sembari menggendong Aaldrik. *** "Kita mau ke mana yah?" Arsel menoleh tersenyum pada Aaldrik yang tampak belepotan dengan ice cream. Tadi sebelum pulang mereka mampir ke supermarket untuk membeli keperluan Aaldrik. "Kita ke rumah nenek" "Aku punya nenek?" Anak itu kembali berucap antusias. Arsel terkekeh mengulurkan sebelah tangannya mengelus kepala Aaldrik "Tentu saja" "Yeee, Adlik seneng banget yah. Ternyata Adlik punya nenek hehe" ia begitu girang tersenyum lebar. Dan Arsel hanya tersenyum kembali mengelus lembut kepala Aaldrik. Mereka tiba di pelataran rumah besar bak istana milik keluarga Brawijaya. Aaldrik menempelkan tangannya pada kaca pintu mobil dan menatap takjub rumah keluarga ayahnya itu. "Woah" ucapnya. Arsel memutari mobil dan membukakan pintu untuk Aaldrik. "Ayo" Arsel meraih tangan Aaldrik untuk digandengnya. "Ini beneran rumah nenek yah?" Aaldrik mendongak menatap Arsel bertanya. Dan Arsel hanya membalasnya dengan anggukan. Pelayan membuka pintu menjulang itu saat Arsel menekan bellnya. Ia genggam erat tangan mungil Aaldrik yang masih sibuk memperhatikan sekeliling rumah. Neneknya dengan rambut yang sudah sebagian memutih namun tetap terlihat elegan dengan pakaian mahalnya menghampiri mereka berdua. "Arsel" Arsel menghampiri dan memeluk singkat lalu mencium pipi neneknya. "Aaldrik, ayo sapa eyang" Aaldrik mendekat mendongak dan memberikan senyum manisnya "Hallo eyang" ucapnya. Nara mengerutkan kening menatap cucunya dan anak kecil itu bergantian "Arsel siapa ini?" Arsel memanggil salah satu pelayan dengan mengkodenya "tolong bawa main Aaldrik sebentar" pelayan itu mengangguk. "Aaldrik main dulu sama bibi ya sebentar, aku mau bicara dulu sama eyang" pun Aaldrik mengangguk dan beranjak dari sana bersama pelayan itu. "Sekarang jelaskan" tuntut Nara. "Kita duduk dulu ya, omah" Arsel merangkul neneknya menuju sofa. "Jadi siapa?" Tanya Nara lagi tak sabar. Arsel menghela nafas mencari kata tepat untuk menjelaskannya. Sebenarnya saat ini ia sangat gugup. Bagaimana tidak, ia membawa anak kecil ke rumahnya dan tentu saja menjadi pertanyaan orang-orang rumah. "Dia anaknya Arsel" "APA KAMU BILANG!" shock tentu saja, Mata memekik menatap nyalang cucunya itu. "Dengarkan Arsel dulu omah, dia bukan anak Arsel beneran- um maksudnya, Arsel mengangkatnya menjadi anak" ternyata Arsel menjelaskan. Entah kenapa ia jadi sulit menjelaskannya padahal ia tadi sudah menyusun kalimat yang pas. "Hah?!" Nara masih belum paham. "Kenapa kau tiba-tiba mengangkat anak? Nikah saja belum, pacar saja tidak ada" Nara memang belum tahu Arsel dengan Dhea kembali menjalin hubungan karena Arsel pun belum memberitahunya. Kemudian setelahnya pelan-pelan Arsel menjelaskan pun secara rinci. Sampai neneknya mengerti dan beruntungnya ia tidak keberatan dengan keputusan Arsel merawat Aaldrik. Arsel tahu tidak sulit meyakinkan neneknya atau keluarganya. "Yasudah kalau memang itu sudah keputusan kamu. Omah cuma berharap keputusan kamu tidak akan berakibat pada kehidupan mu nantinya" Arsel mengangguk "Kakek mana omah?" "Dikamar, kakek mu meski sudah tidak ada hal serius, tapi tetap saja ia harus banyak istirahat" "Baiklah, aku akan melihatnya sebentar. Arsel juga minta tolong nanti omah jelasin sama papah tentang Aaldrik" "Iya, nanti omah jelasin" *** Setelah menemui kakeknya. Arsel menemui Aaldrik untuk berpamitan. Ia juga sudah menitipkan anak itu pada neneknya. Dan sekarang, uang tengah berada di mobil melaju menuju apartemennya. Hari juga sudah cukup malam dan Dhea pasti sudah ada di sana. Ia memencet bell apartemennya sedikit kesusahan karena kedua tangannya membawa paper bag makanan untuknya dan Dhea. Pintu terbuka, Dhea sudah menunggunya dan mereka kini saling berhadapan. Namun Arsel membelalak karena hal yang tak pernah Arsel sangka sebelumnya, Dhea tiba-tiba menciuminya. Paper bag di kedua tangannya refleks terjatuh. Perlahan Arsel mengangkat tangannya merengkuh pinggang Dhea dan membalas ciuman gadis itu. Cukup lama mereka berciuman hingga Dhea melepasnya. Ia merengkuh wajah Arsel, menatapnya dalam "Aku cuma mau kamu" ucapnya lalu memeluk Arsel menenggelamkan wajahnya di d**a bidang kekasihnya itu. Arsel sedikit mengerutkan keningnya bingung. Ia tidak mengerti apa yang terjadi pada Dhea. Sejak tadi siang sikap Dhea sedikit aneh. Ia tiba-tiba menemukan, tiba-tiba menangis, lalu sekarang ia tiba-tiba menciumnya lebih dulu. Hal yang tak perna h ia lakukan sebelumnya. Namun ia tidak bertanya dan membalas pelukan Dhea dengan erat dengan tangan mengelus-elus rambut gadisnya. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN