Memilih

1578 Kata
Blouse maroon yang dikenakan Dhea sudah tersampir sembarang di sofa juga kancing kemeja Arsel yang sudah terbuka seluruhnya. Sementara itu dua orang yang tengah di mabuk cinta itu duduk di lantai bersandar pada kaki sofa dengan Dhea duduk dipangkuan Arsel yang membuat rok span hitam selututnya sedikit terangkat. Ia bersandar pada d**a bidang Arsel yang terasa nyaman hingga ia memejamkan mata seraya tersenyum. Hal yang dilakukan mereka barusan benar-benar diluar perkiraan Dhea. Dengan gilanya mereka meledak bersama membuat pakaian bawah masing-masing basah karena ulah keduanya. Arsel tidak berhenti tersenyum sejak tadi. Ia mengelus lembut rambut kekasihnya dengan sayang. Ia tidak menyangka akan melakukan hal seperti tadi dengan Dhea. Berbeda dari yang sebelumnya yang hanya Dhea yang ia puaskan, tapi sekarang mereka sama-sama terpuaskan. Meski tak sejauh itu, tapi tetap saja Arsel merasa bersalah hingga ia berulang kali meminta maaf. Untungnya Dhea memaafkannya yang tidak bisa mengontrol keinginan liarnya. Sungguh ia ingin segera memperistri gadis di pangkuannya ini. Dan itu benar-benar akan ia lakukan. Arsel pun sudah merencanakannya. Besok, besok ia akan melamar Dhea. Ia sudah yakin dengan hatinya, melamar kekasihnya, gadis kecilnya yang sejak mereka masih anak-anak, Dhea selalu mengejar-ngejarnya. Bahkan saat mereka di usia remaja Dhea selalu menghalangi setiap gadis yang ingin mendekati Arsel. Baginya, Arsel adalah miliknya dan itu mutlak. Arsel tersenyum-senyum bila mengingat-ingat itu. Tentang Dhea yang selalu mengejarnya sementara dirinya terus menghindari gadis itu. Tapi Dhea si Purple tak pernah jengah dan terus mengejarnya hingga Arsel pun luluh dan tak dapat ia pungkiri bahwa ia juga mencintai gadis ini, ia tak rela jika melihat gadisnya di dekati atau mendekati pria lain. Hanya dirinya yang boleh Dhea kejar, meski Arsel selalu menghindar namun sebenarnya ia juga merasa kehilangan saat gadis itu tak mengejarnya lagi. "Kamu tidur?" Arsel masih mengelus lembut surai lembut Dhea. Gadis dalam pangkuannya itu menggeleng lalu mengangkat kepalanya, ia menatap Arsel dengan sayu. "Anterin pulang" "Hm? Gak akan nginep?" Dhea menggeleng lagi "Enggak, mau pulang aja" Tangan Arsel terulur menggapai blouse Dhea yang tersampir di sofa dan memakai 'kannya pada Dhea lalu merapikan rambut Dhea yang sedikit berantakan "Baiklah, ayo" Dhea tersipu dan hatinya menghangat mendapat perlakuan lembut Arsel seperti itu. Mungkin sederhana tapi cukup membuat jantungnya berdebar. Dhea beranjak dari pangkuan Arsel berdiri dan merapikan roknya. "Tunggu sebentar, aku ganti pakaian dulu" Setidaknya ia harus mengganti celananya, tidak mungkin ia pergi mengantar Dhea dalam keadaan celananya yang sekarang. Tatapan Dhea tanpa bisa ditahan turun pada area pribadi Arsel yang samar terlihat sedikit basah. Dhea memejamkan mata dengan wajah memerah. Ia sungguh malu sekarang. Ia tidak sepolos itu untuk tidak mengerti. Arsel terkekeh melihatnya, ia yakin Arsel menyadari apa yang kini tengah ia pikirkan. *** "Tidak perlu, sampai sini aja" Dhea mencegah saat Arsel akan melepas seatbealtnya. Mereka saat ini sudah sampai di depan gedung apartemen Dhea. "Kenapa?" "Tidak papa, sampai sini aja" "Hm, yasudah. Tapi kenapa pulang kesini, kenapa tidak pulang ke rumah?" "Papah bisa ngamuk kalau aku pulang ke rumah selarut ini dan dalam keadaan seperti ini pula" Arsel sedikit menunduk "Aku minta maaf, tidak seharusnya kita seperti tadi" "Tidak perlu minta maaf Arsel, yasudah aku masuk sekarang" "Ya, selamat malam. Besok ku jemput" "Hm, hati-hati" Setelah itu Dhea keluar dari mobil Arsel dan berjalan memasuki apartemennya tanpa menoleh lagi pada Arsel. Tidak seperti biasanya gadis itu lakukan, yang selalu menunggu sampai Arsel yang berlalu terlebih dahulu atau sekedar melambaikan tangan dengan wajah ceria. Arsel terus memperhatikannya sampai punggung gadis itu tak terlihat lagi. Bahkan ia masih diam di sana cukup lama dengan pikiran yang menerka-nerka. Entah kenapa ia merasa ada yang berbeda dengan Dhea. Apakah yang mereka lakukan tadi keterlaluan? Dan membuat Dhea tidak nyaman?. Tidak, ia tidak mau berspekulasi yang akan membuat dirinya berpikir berlebihan sendiri. Ia menggeleng dan kembali melajukan mobilnya meninggalkan area apartemen Dhea menuju rumah keluarganya. Sementara itu, Dhea masih betah menatap dirinya di cermin seusai ia selesai membersihkan diri. Tatapannya jatuh pada lehernya yang terdapat tanda merah yang mungkin tidak sengaja Arsel tinggalkan. Matanya perlahan memerah dan air matanya mulai bergenang. Apa yang mereka lakukan memang tidak sampai sejauh itu. Tapi tetap saja dirinya menyesal. Mengingat entah kemana hubungan mereka akan berakhir. Sejak awal Dhea tahu ayahnya tidak mungkin akan memberikan restunya lagi pada Arsel setelah apa yang terjadi di masa lalu. Meskipun ia sudah menjelaskan kebenarannya, tentu saja orang sekeras ayahnya tidak akan mudah menerimanya. Seharusnya juga dirinya tidak memulai kembali hubungan tidak jelas ini dengan Arsel. Ia benci hatinya yang selalu mudah tersentuh saat berhadapan dengan Arsel. Seolah hanya Arsel pria yang ada di bumi ini. Seolah ia hanya ingin bersama pria itu. Ataukah, ataukah memang seperti itu? Hanya Arsel pria yang ia inginkan?. *** Pagi menyapa, dan entah kenapa kini dirinya masih berdiri di pinggir jalan cukup lama hanya untuk menunggu seseorang yang katanya akan menjemputnya. Padahal jelas ia tahu Arsel tidak akan datang. Karena seharusnya ia sudah datang sejak beberapa menit yang lalu jika benar akan menjemputnya. Ting Dhea, maaf aku tidak bisa menjemputmu hati ini. Aku harus segera ke rumah sakit pagi ini. Demi tuhan ia ingin meneriaki ponselnya sekarang. Semalam ia sudah mengatakan untuk tidak menjemputnya dan akan berangkat sendiri. Tapi pria itu memaksa akan menjemputnya. Tapi lihat sekarang, ia seolah hanya membodohinya. Seharusnya pria itu juga bilang sejak tadi jika tidak akan datang. Dengan begitu dirinya tidak perlu berdiri jalan sangat lama seperti orang bodoh. Pada akhirnya Dhea menghentikan taksi karena mobilnya ia tinggalkan di rumahnya kemarin. Dhea mengerutkan kening saat turun dari taksi dan melihat sebuah mobil terparkir di depan jewelry, mobil yang sedikit ia kenali. Dhea melanjutkan langkahnya memasuki jewelrynya dengan pikiran masih menerka-nerka. Baru ketika tiba di dalam ia tahu mobil siapa yang tidak asing itu. Pria dengan setelan jas tapi tersenyum saat melihatnya memasuki jewelry Ia menghampiri Dhea masih dengan senyum hangatnya. "Hi, Dhea" ucapnya bersahaja. "Kak Rey, kenapa kak Rey ada disini?" Dhea bertanya saat jarak mereka sudah berdiri berhadapan. Reynald mengangkat satu alisnya. "Memangnya kenapa kalau aku ada disini? Toh di pintu masuk tidak ada larangan masuk kesini, lagipun bukannya jewelry ini terbuka untuk umum ya?" Dhea terkekeh kecil "Iii bukan itu maksudku, kak Rey kenapa tidak mengabari kalau mau kesini?" "Aku hanya mampir, ada janji dengan klien di restauran dekat sini" "Ouh" Dhea membulatkan mulutnya. "Yasudah ayo masuk dulu ke duanganku dan istirahat di sana biar ku minta Mala membuatkan minuman" "Tidak perlu Dhea, sebentar lagi meetingnya akan dimulai. Aku harus ke The Garden sekarang" "Jadi ternyata beneran cuma mampir" Dhea menaikan alisnya. Kini giliran Reynald yang terkekeh "Sebenarnya aku hanya ingin melihat keadaan mu" Ucapnya sedikit blak-blakan meski tidak terlalu spesifik. "Meetingnya mungkin akan sampai siang, untuk makan siang nanti mau makan siang bareng?" Dhea mengangguk "Boleh" Reynald tersenyum. Terlihat sekali itu senyum sumringah. Ia hanya tidak menyangka Dhea akan mengiyakan semudah itu. "Baiklah, sampai ketemu nanti siang, aku pergi dulu" "Hm, hati-hati dan semoga meetingnya lancar" Reynald melempar senyum lagi "Ya, semoga harimu juga baik, Dhea" Dhea hanya membalas dengan mengangguk. Setelahnya ia mengantar Reynald sampai ke depan jewelry. *** "Syukurlah operasinya lancar. Aku sempat khawatir nanti karena dokter Rian yang seharusnya mendampingiku tidak bisa datang karena istrinya melahirkan" Dokter Aryanto yang merupakan dokter senior di sana menepuk-nepuk pundak Arsel mengucapkan terima kasih karena Arsel dengan cepat bisa datang setelah dihubungi untuk menggantikan Dr. Rian mendampingi Dr. Aryanto dalam melakukan operasi pada salah satu pasien. "Tidak perlu berterima kasih dik, itu juga sudah kewajiban saya" Balas Arsel legowo. "Yaaa, aku hanya merasa bersalah saja. Ku dengar kau sampai membatalkan menjemput kekasihmu ya?" Arsel terkekeh kecil "Reza memang tidak menjaga mulut" guraunya menyentil sahabatnya itu yang ia yakini telah memberitahukan pada Dr Aryanto. Dr. Aryanto tertawa "Tidak papa, aku kan jadi tahu bahwa dokter Arsel ternyata sudah punya calon pendamping. Ngomong-ngomong kapan aka diperistri? Mengingat, dokter Arsel ini ramai dibicarakan populer di kalangan para tenaga medis disini, ya tidak heran dokter Arsel ini tampan, ramah, baik, seorang dokter pula pasti banyak digandrungi kaum hawa. Sudah pasti perempuan yang menjadi kekasih dokter Arsel pun ingin segera diperistri" Arsel terkekeh lagi merasa Malay dipuji blak-blakan seperti itu "Dokter ini berlebihan, saya tidak seperti itu" "Merendah nih?" Ucap Dr. Aryanto menggoda. "Jadi kapan?" Masih membahas perkara pernikahan. "Malam ini saya akan melamarnya" terang Arsel. Sontak Dr. Aryanto menghentikan langkahnya "Wah, serius? Ini bukan karena saya memancing-mancing dengan pertanyaan tadi kan?" Arsel tertawa kecil"Tidak dok, saya memegang sudah berniat akan melamarnya malam ini" "Baguslah kalau begitu, itu kabar yang sangat baik. Semoga berjalan lancar" Dr. Aryanto kembali menepuk-nepuk pundak Arsel. "Terima kasih dok" Mereka kembali melanjutkan langkah menuju ruangan masing-masing. Ari arah berbeda seseorang bersembunyi dibalik dinding ketika tak sengaja mendengar percakapan dua dokter itu. *** Pada jam makan siang, Arsel mendatangi jewelry Dhea untuk mengajaknya makan siang bersama. Ia merasa bersalah tadi pagi tidak menjemput gadis itu, padahal semalam ia sendiri yang memaksa akan menjemput dan menyuruh Dhea menunggunya. Mala, asisten Dhea menghampirinya saat ia baru memasuki jewelry itu. "Ada yang bisa dibantu pak?" Ucapnya begitu sopan. "Saya ingin bertemu Bu Dhea, dia ada di ruangannya? "Maaf pak, Bu Dhea sedang keluar" Arsel mengerutkan keningnya "Keluar? Ke mana?" "Tadi Bu Dhea bilang pergi makan siang dengan temannya" "Teman? Siapa?" Arsel semakin mengerutkan keningnya. "Seseorang yang waktu itu pernah kesini mengantar Bu Dhea" Reynald itu yang terlintas dipikiran Arsel saat ini. Entah kenapa tiba-tiba hatinya memanas sekarang. Padahal belum tentu orang itu si kak Rey yang disebut-sebut Dhea. "Baiklah, terima kasih Mal" Arsel kembali keluar dan memasuki mobilnya. Nanti malam aku jemput, aku ingin makan malam bersama mu ✓✓ To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN