Penolakan

1537 Kata
Aku sudah di depan apartemen mu Lama Dhea menatap pesan dari Arsel. Ia masih bimbang apakah ia harus menerima ajakan makan malam Arsel atau tidak. Ia sudah berniat untuk menjauhi Arsel. Apa yang ia lakukan ketika di apartemen saat itu, ia menganggapnya sebagai salam perpisahan untuk Arsel. Tapi menjauh tanpa mengatakan apa pun juga hal yang benar? Tidak, memang tidak. Jika ia menjauhi Arsel tanpa mengatakan alasannya, sama saja dirinya mengulang kejadian di masa lalu. Pun Dhea yang sedari tadi memang sudah bersiap, memilih keluar dari apartemennya. Ia memutuskan untuk menerima ajakan makan malam Arsel itu. Ia hanya berdandan sederhana tanpa make up. Bahkan pakaian yang ia kenakan juga hanya celana culotte hitam dan hoodie hijau army. Namun Dhea begitu terkejut saat ia keluar, Arsel sudah berdiri di samping pintu apartemennya. Ia berpenampilan begitu rapi. Sangat berbeda jauh dengan dirinya. Dhea juga sempat menangkap Arsel sempat memperhatikan penampilannya sejenak. Tapi laki-laki tak berkomentar apa pun dan langsung mengajaknya berangkat. Mereka tiba di salah satu restauran yang dahulu saat masih sekolah menjadi restauran favorit Dhea yang kerap mereka singgahi. Restauran itu begitu mewah karena Dhea memang suka mengunjungi restauran-restauran mewah sedari dulu. Restauran itu juga berada di tempat yang cukup tinggi sehingga dⁿari balkon restauran itu dapat terlihat pemandangan kota di bawah sana. Sebelum keluar mobil, Dhea sejenak memejamkan mata kesal. Ia tidak mengira bahwa Arsel akan membawanya ke sini. Ia pikir Arsel mengajaknya makan malam di kafe dekat apartemennya yang biasa mereka kunjungi. Sekarang Dhea jadi menyesal sendiri berangkat hanya mengenakan outfitnya sekarang. Arsel membukakan pintu untuk Dhea dan berdiri di sana menunggu Dhea keluar. Dhea melirik padanya dengan sinis, kali ia keluar. "Ayo, aku sudah memesan meja sebelumnya" Dhea bergeming, ia menatap Arsel tajam. Arsel bingung, tapi ia mencoba tak menghiraukannya "Ada apa? Ayo" "Kenapa kamu tidak bilang kalo mau kesini?" "Aku ha–" "Kalo tau mau kesini, aku gak akan pake baju ini Arsel!" potong Dhea cepat sedikit menekan suaranya. "Aku hanya ingin membuat kejutan dengan mendatangi tempat yang dulu sangat kau sukai dan sering kau datangi bersamaku" "Terus kalo gitu kenapa kamu hanya diam saja saat melihat pakaianku tadi? Padahal kamu juga tahu bahwa pakaian yang aku kenakan sangat tidak cocok untuk datang ke tempat ini" "Aku hanya tidak mau mengatur mu Dhea. Lagipula, untuk apa mempermasalahkan pakaian sekarang. Meskipun di dalam sana ada perempuan yang memakai gaun terindah, aku hanya akan melihatmu" Dhea menggerakkan matanya seraya sedikit mengulum bibirnya guna menahan senyum malu yang dirasakannya. "Tapi orang-orang akan menatapku aneh, Arsel. Kau tidak mengerti" Dhea menyilangkan tangannya di d**a. "Untuk apa peduli? Lagipun kau masih terlihat cantik dengan pakaian seperti itu. Sudahlah, ayo" pun Arsel menarik tangan Dhea memasuki restauran itu. Arsel rupanya memilih tempat duduk yang dekat dengan balkon. Sehingga dapat terlihat pemandangan langit cerah bertabur bintang malam itu. Pelayan datang membawakan beberapa menu setelah Arsel memesannya tadi. Jujur saja, meskipun tadi Dhea setengah hati untuk berangkat, tapi sekarang ia cukup senang karena dapat menikmati hidangan-hidangan khas restauran ini yang sangat ia sukai dulu. Saat mereka berdua telah menghabiskan hidangan utama dan tengah menikmati desert, Arsel mengeluarkan sebuah kotak beludru maroon dari balik saku jas navy nya. Iya meletakan kotak itu di meja dan mendorongnya pelan ke hadapan Dhea. Dhea sedikit membelalak lau menatap kotak itu dan Arsel bergantian seolah bertanya dengan tatapannya. Seakan mengerti, Arsel mengangguk "Untuk mu" katanya. Dhea meraih kotak itu lalu membukanya dan terdapat sebuah cincin silver yang di sekeliling cincin itu di kelilingi permata kecil namun terlihat elegant. Ia menatap cincin itu dalam. Hatinya tersentuh dan perasaannya campur aduk. "Menikahlah denganku Dhea, ayo kita hidup bersama, tinggal di rumah yang sama dan saling menyapa setiap hari" ucap Arsel kemudian dengan nada sedikit gemetar dan suara tertahan. Dhea menaikan tatapannya pada Arsel, dapat ia lihat senyum dan mata berkaca-kaca itu. Oh tuhan, apakah Arsel tengah benar-benar melamarnya sekarang? Jujur saja Dhea masih tidak menyangka dan mengira Arsel akan melamarnya. "Aku mencintaimu Dhea, dan aku tidak ragu akan itu. Aku sudah membeli rumah di Bandung. Kamu pernah bilang suka dengan suasana sejuk, dan di sekitaran rumah itu memang sangat sejuk dengan udara bersih. Rumahnya memang tidak besar tapi terasa sangat nyaman, aku membelinya dengan hasil kerjaku sendiri tanpa bantuan dari ayah atau omah. Aku membelinya untukmu, untuk kita tinggali berdua. Jadi ayo menikah Dhea, dan kita tinggal di sana" Penuh semangat Arsel mengatakan itu pun dengan mata berbinar. Tapi yang dilakukan Dhea membuat rasa menggebu di dalam dirinya pudar. Arsel menekan ludah kasar seraya membasahi bibirnya. Dhea menutup kotak cincin itu alih-alih memakainya atau hanya sekedar mengambilnya dari kotak itu. "Ada apa Dhea? Kamu tidak suka cincinnya?" Arsel bertanya padahal ia tahu apa yang dimaksud Dhea. "Cincinnya sangat cantik, aku sangat suka. Tapi Arsel, aku belum bisa menerimanya" pelan nan sayup suara Dhea di pendengaran Arsel. Arsel termenung dan diam cukup lama "Kenapa? Apa ini masih tentang aku yang belum bisa menerima ibuku dan tidak menurut saran darimu?" "Bu-bu-bukan seperti it–" "Kalau itu alasannya, aku akan menemui ibuku. Besok juga aku akan menemuinya. Aku akan menerima kehadiran tiba-tibanya dan mengenalkan mu padanya" potong Arsel cepat pun dengan menggebu. "Arsel. Dengarkan aku dulu!" Dhea sedikit meninggikan suaranya. Sementara Arsel diam dengan tatapan mata kesal. "Bukan itu. Aku akan sangat senang jika akhirnya kamu mau untuk menemui ibumu" Dhea menjeda. "Tapi bukan karena itu aku menolak lamaran mu" "Lalu" timpal Arsel langsung dengan nada begitu datar pun dengan tatapan datar juga. Melihat air muka Arsel sekarang mengingatkan Dhea pada Arsel di masa muda dulu. Arsel yang kaku, cuek, dingin, dan jarang tersenyum "Ayahku" lirih Dhea. Mendengar itu, Arsel menegakkan tubuhnya dengan tatapan yang mulai melembut. "Apa– ayahmu tidak menyetujui kita?" Tanpa bisa ditahan, air mata Dhea mulai turun "Ayah belum bisa menerima mu kembali. Dia memarahiku habis-habisan saat tahu aku kembali dekat denganmu. Bahkan ia mengirim orang untuk memata-mataiku. Aku sudah mencoba menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, tapi ayah tidak percaya" Dhea menaikan tatapannya pada Arsel dengan mata berlinang dan suaranya yang lirih. Kini pun tatapan Arsel berubah sendu. Ia raih kedua tangan Dhea dan ia genggam erat. "Aku mengerti kenapa ayahmu melakukan itu. Aku pun sudah mengiranya. Tapi aku juga sudah mempersiapkan untuk melamar mu secara resmi bersama keluarga ku ke rumah orang tuamu setelah aku melamar mu disini" "Apa itu akan berhasil? Aku takut kal–" "Percaya padaku Dhea, aku akan mencoba apa pun untuk mendapat restu dari ayahmu. Jangan pikirkan apa pun, biar aku yang melakukannya. Yang harus kamu lakukan sekarang, kamu pakai cincin ini dan jangan keluarkan penolakan terhadapku. Karena aku bisa hancur jika kamu sampai menolakku, Dhea" Dhea menunduk dan mengangguk pelan. Setelah itu, Arsel mengambil cincin itu dari kotaknya dan memakaikannya pada Dhea tanpa penolakan dari perempuan itu. Setelah cincin yang dikelilingi permata kecil itu tersemat dijari manis Dhea, Arsel mengecupnya tepat di atas cincin itu. Lalu beralih mengecup punggung tangan Dhea yang satunya. Kemudian tangan kanannya terulur mengusap air mata Dhea dan tersenyum simpul. *** "Arsel" "Hm" Sahut Arsel sedikit menoleh lalu kembali fokus ke jalan. Saat ini mereka tengah di perjalanan menuju rumah Dhea. "Tentang menemui ibumu, aku benar-benar berharap kau akan melakukannya" Arsel mengangguk pelan "Iya, aku akan menemuinya. Temenin ya" Arsel menoleh pada Dhea lalu ia tersenyum. Menjawab tanpa berpikir dahulu seperti biasanya. Padahal, Dhea kira Arsel akan menolak bertemu ibunya seperti biasa. Dhea ikut tersenyum "Tentu. Aku sangat senang mendengarnya. Lagipun, aku ingin ibumu bisa hadir di pernikahan kita nanti" "Bolehkah kita membicarakan pernikahan di tengah penolakan ayahmu?" Arsel sedikit terkekeh. Dhea menoleh menatap kesal "Kamu ini bagaimana. Bukannya tadi kamu yang bilang mau melakukan apa pun untuk mendapat restu ayah. Kenapa sekarang justru malah kamu yang terdengar pesimis" Arsel ikut menoleh "Bercanda sayang" tangannya terulur mengacak-acak puncak puncak kepala Dhea. Dhea sedikit membelalak dengan jantung jantung berdegup kencang. Bagaiman tidak, ini pertama kalinya Arsel memanggilnya dengan sebutan 'sayang'. Kalaulah ia masih seorang Dhea di masa lalu, si gadis SMA yang tergila-gila pada Arsel, sudah pasti ia akan melompat-lompat kegirangan mendapat sebutan itu dari Arsel. Sekarang pun ia menahan untuk tidak memekik senang. Tidak mungkin ia melakukan itu sekarang, ia harus menjaga imagenya di depan Arsel. "Kau bilang apa tadi?" jelas itu hanya basa-basi untuk menutupi kegugupannya. Karena Dhea tidak tuli hingga harus mempertanyakannya lagi. "Sayang" jawab Arsel dengan entengnya seraya terkekeh. "Kenapa memangnya? Tidak boleh?" "E-ekhem tidak, hanya– tiba-tiba saja" Arsel menoleh lagi "Jadi boleh?" tanyanya lagi disertai senyuman menggoda. "Ish gak tau ah" Dhea memalingkan mukanya melihat ke luar jendela di samping, menyembunyikan pipi memerahnya. Arsel terkekeh geli "Baiklah, mulai sekarang dan sampai bila-bila aku akan memanggilmu sayang" Semakin memerahlah kini pilihan Dhea. Hingga ia tidak menyadari kalau sudah di depan pelataran rumahannya. Ia baru menyadari saat Arsel memberitahunya. "Kita sudah sampai sayang, atau mau ikut ke apartemen ku saja?" Gurau Arsel diiringi nada menggoda. "Enggak mau!" Tolaknya mentah-mentah tentang ajakan Arsel ke apartemennya. "Tidak mau mampir dulu nemui ayah?" Lanjutnya sebelum membuka pintu mobil. "Tidak, nanti saja sama keluarga" "Baiklah, selamat malam. Hati-hati" "Langsung tidur. Jangan begadang" Dhea mengangguk "kabari aku kalau sudah sampai, aku akan tidur setalah kamu mengabari" Giliran Arsel yang mengangguk "Iya" setelah itu Dh ea keluar dari mobil. Dan Arsel tidak langsung pergi, ia menunggu sampai perempuannya benar-benar masuk rumah. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN