Kaukah itu?

1099 Kata
15 menit? 30 menit? 1 jam? Entah berapa lama ia berdiri di depan sebuah gerbang rumah berlatar vintage. Rumah itu tampak ramai dengan beberapa orang dan anak-anak kecil yang berlarian di halaman depan rumah itu. sekumpulan orang tampak di sudut lainya tengah duduk di atas kain kotak-kotak. Sepertinya mereka tengah melakukan piknik kecil-kecilan. Sungguh suasana yang begitu hangat. Dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku ia beberapa kali menelan ludah dengan tatapan yang sulit diartikan. Seorang security membukakan pintu gerbang itu tanpa memberitahu dahulu sangat pemilik rumah setelah ia selipkan lembaran uang ke tangan security itu. Ia berjalan perlahan seolah meresapi angin yang berhembus mengiringi ia melangkah menuju keluarga yang tengah berbahagia itu. Tatapannya lurus pada sekumpulan keluarga yang tengah duduk di sudut halaman rumah. Seorang anak kecil menabraknya. "Maaf paman, aku tidak sengaja Julio mengejarku" gadis itu menatapnya takut. Ia mengelus lembut bahu gadis kecil itu seraya tersenyum "Tak apa gadis kecil, lanjutkan main mu" Gadis kecil itu tersenyum tipis "Terima kasih paman" lalu ia kembali berlarian bersama bocah laki-laki yang tadi mengejarnya. Lalu kini tatapannya kembali mengetahui pada sekumpulan keluarga itu. Dan kini tatapan semua orang di sana mengarah padanya dan mereka sudah berdiri dari duduknya. Seorang wanita paruh baya dan perempuan yang memiliki paras mirip dengannya berjalan ke arahnya. Sementara dirinya hanya berdiri diam menatap mereka tanpa ekspresi. "Arsel" gumam wanita paruh baya itu dengan air mata yang sudah berlinang di pelupuk matanya. "Arselio anakku, kau'kah itu nak?" Kedua tangannya terangkat di udara udara ingin memeluknya. Hingga kina wanita itu tepat dihadapannya. Dengan tangan lembutnya ia menggapai wajah Arsel, meraba-rabanya dengan penuh hati-hati seolah takut pecah. Tangannya kini turun pada kedua bahu Arsel dan meremasnya pelan. Bibirnya bergetar dan air matanya sudah tumpah ruah. "Bunda, peluklah dia. Bukankah selama ini bunda selalu ingin memeluknya?" Ucap sang kakak kembarnya. Ersya. Elina memeluk sang putra dengan air mata bercucuran. Ia tersedu-sedu menangis di pelukan putra yang 27 tahun tidak dipeluknya seperti ini. Namun berbeda dengan Arsel, tangannya diam tidak membalas pelukan sang ibu. Bahkan matanya masih lurus ke depan. Namun rahangnya menegang dengan kedua matanya memerah seakan menahan sesuatu yang terasa ingin meledak dalam dirinya. Dadanya sesak dan hatinya sakit. Bentuk kesakitan yang belum pernah ia rasakan. Beginikah, beginikah rasanya pelukan seorang ibu? Ternyata pelukan seorang ibu itu begitu hangat, begitu nyaman. Pelukan yang tidak pernah ia rasakan dalam ingatannya. Apakah pelukan seperti yang dirasakan saudari kembarnya setiap malam ketika kecil. Pasti nyaman sekali dipeluk dan dibacakan dongeng sebelum tidur. Ah, dia jadi iri pada saudari kembarnya. Arsel belum juga membalas pelukan itu. Tenggorokannya terasa begitu tercekat hingga untuk mengeluarkan suara pun rasanya sulit sekali. "Maafkan bunda" ucap Elina terisak begitu pilu. "Maafkan bunda" ucapnya lagi. "Kenapa kau tidak pernah menemuiku?" lirihnya dengan suara yang susah payah ia keluarkan. Tenggorokannya terasa sakit saat mengeluarkan suara karena menahan tangis. Mendengar itu Elina semakin menangis tergugu dan semakin mengeratkan pelukannya. "Maafkan bunda, Arsel. Maafkan bunda" ia menangis semakin keras. "Kau tak perlu minta maaf, aku hanya butuh penjelasan. Meskipun penjelasan itu mungkin sudah tidak berguna sekarang." Dengan lembut ia mengurai pelukan ibunya. "Penjelasan yang dimaksud tadi, lupakanlah. Aku kesini untuk meminta restu mu. Aku akan menikah. Bagaimanapun juga kau ibuku kan? Jadi aku harus tetap meminta restumu meskipun kita terasa asing" kata-kata itu entah kenapa keluar begitu saja. Kata-kata yang begitu jahat. Bahkan dirinya tidak percaya bisa berkata seperti itu. Apakah kecewa dan sakit hati begitu menggerogotinya? "K-kau akan menikah nak?" "Ya, lama sekali bukan kita tidak bertemu? Hingga ketika bertemu aku sudah akan menikah" Arsel terkekeh rendah "Bahkan aku tak tahu apakah kau ingin bertemu denganku atau tidak bahkan jika aku tidak datang kesini entah sampai aku sudah punya cucu sekali pun kau tidak akan menemui k–" Plak Sebuah tamparan keras mengenai pipi kirinya hingga wajahnya tertoreh ke samping. "Jaga ucapan mu Arselio Brawijaya!" Ya, tamparan tadi berasal dari saudari kembarnya. Ia menatapnya nyalang. "Ersya sudah" lerai Elina. "Kau tidak harus berbicara seperti itu! Kau pikir kau saja yang merasakan kesakitan karena berpisah dengan seorang ibu? Tidakkah kau melihatku? Aku juga berpisah dengan ayah, tapi apakah aku datang ke rumah megah kalian lalu mengamuk dan berbicara kasar pada ayah? Tidak bukan. Kau pun tidak seharusnya bicara seperti itu pada bunda!" Teriak Ersya terengah-engah menatap tajam saudara kembarnya. "Ersya sudah" Elina merangkul Ersya dari samping menenangkan. Sementara itu Arsel hanya diam menatap lurus ke depan dengan rahang menegang. "Kau tidak tahu kan bagaimana bunda begitu merindukan mu? Bagaimana ia menangis dan tak pernah bahagia setia hatinya? Kau tidak tahukan saat hari ulang tahunku, hari ulang tahun kita, ibu tidak tersenyum bahagia atau penuh haru. Tapi ia selalu menangis karena teringat padamu. Ini bukan salah bunda, tapi keadaan yang membuat kita seperti ini!" "Kalau begitu kenapa dia tidak pernah datang di hari ulang tahunku sekali saja. Atau ketika ada acara hari ibu yang diadakan sekolahku ketika aku masih seorang anak TK yang masih cengeng dan mengharapkan kedatangan ibunya? Kau bisa bicara seperti itu karena yang kau rasakan tidaklah sama denganku. Ayah masihlah menjumpai mu sesekali. Kau tidak pernah datang ke rumah kami bulan karena pintu tertutup, tapi kau yang tidak mau datang" pungkasnya tanpa menatap pada Ersya ataupun pada ibunya. Tidak lama setelah itu pintu gerbang kembali terbuka, sebuah mobil memasuki pelataran rumah. Lalu seorang laki-laki paruh baya keluar dari mobil itu. Arsel tersenyum miring. Jadi inikah suami ibunya. Laki-laki yang membuatnya sanggup meninggalkan ayahnya yang bahkan memutuskan tidak menikah lagi karena terlalu mencintai ibunya. "Lihat? Kau bahagia bukan bersama suami dan anak-anak mu? Bahkan ayah tidak menikah karena tidak bisa melupakan mu" setelah mengucapkan itu Arsel melenggang pergi. Laki-laki paruh baya yang menjadi suami ibunya menatapnya tajam. Sementara itu Elina kembali menangis bahkan lebih histeris. "Arsel" ia berulangkali memanggil-mangil namanya. Ketika ia baru saja hendak berlari untuk mengejarnya, tangannya di cekal oleh suaminya. Elina kembali meraung memanggil Arsel "maaf bunda nak, maafkan bunda" kata itu terus terucap. Tapi Arsel tidak pernah menoleh lagi. * Hari sudah sore saat ia melakukan mobilnya menuju apartemennya. Ia memutuskan untuk tidak pulang ke rumah disaat perasaanya tengah kalut seperti ini. Ia berjalan lesu di lorong menuju apartemennya. "Kau dari mana?" Suara lembut yang mengalun begitu indah di telinganya membuat Arsel mengangkat kepalanya. Dan di sana, ia melihat gadis yang memang ia harapkan berada disisinya kini ada di hadapannya. Pun matanya berkaca kini. Hatinya bergetar sakit. Kesakitan yang dapatkan hari ini, kesakitan yang coba ia lupakan kini kembali terasa. Melihat gadis itu dihadapannya membuatnya ingin memeluknya lalu menumpahkan semua yang ia rasakan di pelukannya. Pelukan gadis itu yang sedari kecil ia dapatkan ketika ia tengah tidak baik-baik saja dengan dunianya. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN