Dengan langkah cepat ia menghampiri gadis itu lalu menghambur ke dalam pelukannya. Ia memeluknya erat menyeludupkan wajahnya ke leher gadis itu. Dia menangis. Bukan hanya sekedar mengeluarkan air mata, tapi ia terisak.
Dhea sedikit termenung, ia bingung. Pasalnya tadi siang laki-laki itu begitu marah padanya karena cemburu. Tapi sekarang dia memeluknya dan menangis.
Dhea membalas memeluknya "kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu?"
"Dhea, rasanya sakit sekali" suaranya teredam.
"Masuk dulu ya, disini banyak yang lewat"
Pun Arsel melepas pelukannya mengusap air mata di kedua matanya dengan jari jempol dan jari telunjuknya. Kini Dhea dapat melihat betapa banyaknya air mata di wajah laki-laki itu. Jadi dia benar-benar menangis dan itu membuat Dhea menelan ludahnya rasanya sesak yang dirasakan Arsel sampai padanya. Dari berantakannya laki-laki itu saja sudah membuat Dhea dapat merasakan sakitnya meskipun Arsel belum mengatakan apa-apa.
Arsel membuka pintu apartemennya. Lalu ia masuk diikuti Dhea. "Duduklah dan katakan ada apa? Kenapa kamu menangis hm?" Dhea menuntun Arsel duduk di sofa ruang tengah.
Arsel menurut. Ia duduk menunduk seraya menekan kedua matanya dengan jari jempol dan jari telunjuknya. Dhea terus memperhatikannya.
"Aku bertemu wanita itu" ucapnya.
"Wanita siapa?" Tanya Dhea cepat. Jujur saja perasaannya sedikit tidak enak.
"Ibuku"
"Apa?" Dhea sedikit memekik. Terkejut juga lega di waktu bersamaan. Tadi dia hampir berpikiran buruk.
"Tante Elina?"
Arsel mengangguk. Lalu ia menceritakan bagaimana pertemuan dia dengan ibunya. Bagaimana ia bersikap dan begitu marahnya Ersya karena sikap kurang ngajarnya pada ibunya. Tentang bagaimana ia melampiaskan rasa kecewanya yang ia pendam sedari kecil.
Dhea menarik Arsel ke dalam pelukannya. Posisi mereka seperti seorang ibu tengah memeluk anaknya. Arsel bersandar di d**a Dhea dan Dhea memeluknya. Dhea mengusap-usap dengan lembut belakang kepala Arsel.
"Dia juga memelukku Dhea. Pelukan hangat yang belum pernah aku rasakan dari semenjak aku ingat."
Dhea masih mendengarkannya tanpa berkomentar apa pun. Dhea ingin agar Arsel bercerita hingga ia merasa lega. Bahkan kini air matanya mulai ikut mengalir. Ia begitu mencintai laki-laki ini. Jadi apa pun yang membuatnya sesedih itu dan membuatnya sampai menangis juga tentu akan membuatnya menangis juga.
"Aku sudah bersikap kurang ngajar padanya. Aku menumpahkan semua rasa kecewaku" Arsel masih terisak. "Katakan sesuatu Dhea, apa yang harus kulakukan sekarang?"
"Pergilah temui ibumu lagi. Aku tahu kamu kecewa padanya. Tapi dia tetap ibumu bukan. Waktu itu kau bilang padaku aku bisa bicara seperti itu karena aku tidak pernah merasakannya, karena aku tumbuh di tengah-tengah keluarga yang begitu menyayangiku. Tapi Arsel, aku tahu bahwa ibumu tidak mungkin melakukan itu, mencampakkan mu tanpa sebuah alasan. Mamah pernah cerita bahwa tante Elina adalah perempuan yang sangat baik karena itulah ia juga melahirkan anak yang baik" Dhea bicara seraya tersenyum meskipun air matanya berlinang. "Dan aku pun juga tahu bahwa jauh di dalam hatimu, kau sangat merindukannya. Bahwa kau begitu senang ketika akhirnya kau bisa bertemu dengannya, memeluknya. Sikapmu yang tadi kau tunjukkan pada ibumu, itu adalah ego mu yang masih mencoba membentengi dirimu"
Arsel termenung. Gadis ini, kenapa selalu berhasil membuatnya tenang. Dari kecil ketika ia merasa terpuruk atau ketika ia merasa sedih karena anak-anak lain mengejeknya karena dulu ia anak yang manja dan cengeng, Dhea selalu ada dan menghiburnya. Dan kini ketika Arsel merasakan hatinya begitu sakit, Dhea ada memeluknya. Bagaimana ia tidak mencintai perempuan ini? Dan bagaimana ia tidak begitu cemburu dan takut kehilangannya saat ia dekat dengan laki-laki lain?
Oh iya, dirinya baru ingat. Bukankah tadi siang dia begitu marah karena rasa cemburunya? Tapi sekarang ia telah melupakan itu. Rasa marahnya telah hilang begitu saja. Ia butuh Dhea sekarang.
"Kalau begitu temani aku" ucap Arsel menjawab perkataan Dhea.
Dhea mengangguk "tentu. Akan aku temani"
"Jangan pulang" ucapnya lagi. Kali ini dengan suara pelan.
"Hm?" Arsel mengurai pelukannya. Lalu menatap Dhea. "Temani aku malam ini" ia menggenggam tangan Dhea.
Dhea mengangguk lagi "iya" lalu tangannya terulur mengusap air mata Arsel.
Arsel menangkup tangan Dhea di pipinya. Matanya terpejam meresapi kelembutan tangan Dhea. Lalu ia mencium telapak tangan Dhea.
"Sudah makan?"
Arsel menggeleng dengan masih membiarkan tangan Dhea tetap di pipinya dan menggenggamnya. "Aku buatkan, tapi telur ceplok dan mie instan saja ya? Karena aku tidak bisa membuat makanan selain itu" cicitnya seraya sedikit tertunduk malu.
Arsel terkekeh melihatnya. Oh begitu menggemaskannya makhluk cantik ini. "Iya, tak apa"
Mereka berjalan ke dapur. Sembari menunggu Dhea menyiapkan masakan sangat sederhananya Arsel duduk di meja bar kecil. Ia termenung lagi.
"Aku tidak mau menyelesaikan masakan spesial ku jika kamu bengong terus" Dhea sedikit mencebikkan bibirnya.
Arsel mengalihkan tatapannya pada Dhea dan terkekeh lagi.
Dhea membawa mangkuk mie instan spesial telor itu ke hadapan Arsel. Lalu ia duduk di kursi di samping Arsel. "Suapi" ucap Arsel.
"Manja" decak Dhea. Tapi ia tetap melakukannya. Menyuapi Arsel layaknya anak kecil sampai mie instan di mangkuk itu habis.
Ketika selesai dengan kegiatan menyuapi bayi besar itu, Dhea membawa mangkuk kotor ke wastafel untuk di cucinya. Sementara Arsel duduk terdiam memperhatikannya dengan sesekali tersenyum kecil. Sebelum ia kembali teringat kejadian tadi siang bersama ibunya hingga membuat ia kembali melamun.
Dhea yang baru selesai mencuci mangkuknya, membalikkan badan dan mendapati Arsel yang melamun lagi. Kemudian ia menghampiri laki-laki itu lalu duduk di tempat tadi.
Dhea mengambil tangan Arsel dan menggenggamnya "melamun terus. Besok-besok kan mau ke sana lagi. Jadi berhenti membuat ekspresi sedih seperti itu. Tidak cocok tau."
Arsel menoleh pada gadis di sampingnya lalu terkekeh melihat bibirnya yang sedikit mencebik. "Terus cocok gimana?"
"Cuek, dingin, bodo amat, tapi selalu merhatiin aku. Belaga tidak mau padahal mau, belaga menghindar padahal dari jauh lihatin aku terus" ucap Dhea dengan percaya dirinya.
"Sok tau" Arsel mencolek hidung Dhea.
"Padahal benar kan?"
Kali ini ia tidak menanggapi dan kembali dengan wajah murungnya. Satu tangannya terlipat di meja sementara satu tangannya lagi memijat keningnya. Rambutnya tampak acak-acakan. Jujur saja Dhea tidak suka melihat Arsel seperti ini. Lama Dhea memperhatikannya sebelum ia mengalihkan pandangannya pada jendela dan melihat hujan diluar sana. Lalu ia berlari kecil ke arah jendela itu.
"Arsel" panggilnya saat sudah di samping jendela.
Arsel mengangkat kepalanya dan melihat ke arah gadis itu yang tengah tersenyum ceria. Lalu gadis itu membuka tirai jendelanya dan tampak hujan di luar saja.
Arsel mengerutkan kening "hujan?" Sebenarnya apa maksud gadis itu? Memangnya ada apa dengan hujan? Dari tadi juga Arsel tahu bahwa di luar sedang hujan. Lalu untuk apa Dhea menunjukkan padanya?.
Dhea kembali ke arahnya. Mendekatkan wajahnya lalu berbisik "ayo lakukan hal-hal menyenangkan" ucapnya seraya tersenyum riang.
Arsel sempat terdiam sebelum sedikit membelalakkan matanya. Hujan, malam, udara dingin, berdua. Ayo lakukan hal-hal yang menyenangkan. Tunggu, tidak mungkin'kan? Tidak mungkin'kan Dhea mengajaknya...
Gadis itu kembali berlari kecil ke arah nakas. Lalu mengambil mini speaker milik Arsel. Setelah itu ia kembali ke arah Arsel, menggenggam tangannya lalu menariknya. Percayalah jantung Arsel sudah berdebar kini. Dhea menarik tangannya, apakah ia akan membawanya ke kamar?.
Tapi
Dhea menariknya berlari menuju pintu keluar. Meski Arsel sempat tertegun karena dugaannya salah, tapi tetap mengikuti gadisnya berlari-lari di koridor, memasuki lift, keluar lift, keluar apartemen, hingga mereka tiba di taman belakang apartemen.
Dhea melepaskan genggamannya tangannya. Meletakan mini speaker tadi di teras lalu mengambil ponsel dari saku celana jeans-nya. Dengan tatapan bingung ia memperhatikan Dhea. Entah apa yang akan dilakukan gadis itu. Arsel masih tak mengerti.
Setelah menyambungkan bluetooth handphonenya ke speaker, ia memutar lagu "Senorita" lalu gadis cantik itu kembali menarik tangannya dan ia bawa ke tengah taman di bawah hujan yang turun tidak terlalu deras malam ini. Hingga baju mereka basah kini.
Dengan wajah ceria dan senyum lebarnya ia menari dengan enerjik. Lalu menggoyang-goyangkan tangan Arsel agar ikut menari bersamanya meskipun Arsel tak bereaksi apa-apa dan hanya menatap wajah Dhea dan tawa cantik itu. Arsel sungguh mabuk kepayang kini. Dhea begitu cantik dengan cahaya lampu yang memantul pada buliran air hujan di wajahnya membuat wajahnya terlihat berkilauan membuat Arsel terkekeh di tengah keterpesonaanya.
Ia melepas tangan Arsel dan kembali menari-nari lagi. Bahkan kini gadis itu melompat-lompat senang. "Arsel ayo menari, ini menyenangkan. Bukankah sudah lama kita tidak main hujan-hujanan? Jangan sedih lagi" ucapnya sedikit keras karena suaranya teredam hujan.
Ia kembali lagi pada Arsel lalu menggoyang-goyangkan tangannya lagi. Tapi Arsel masih diam saja memperhatikannya. Hingga ia melepaskan lagi tangan Arsel. Lalu dirinya berjalan ke belakang Arsel.
Gerakannya mengikuti gerakan tari lagu itu seperti yang ditari'kan orang-orang. Dengan gerakan sensual tangannya membelai pundak Arsel. Lalu ke leher, telinga, hingga berakhir di pipi Arsel. "Menarilah bersamaku, Arsel" tatapan matanya, gerakan bibirnya, ekspresi wajahnya...Arsel bersumpah ekspresi wajah Dhea sungguh seksi. Dan Arsel tidak menyangka gadis di hadapannya bisa membuat ekspresi seperti itu. Hingga Arsel larut dalam pesona yang menguat dari gadis itu malam ini dan....ia ikut menari.
Dhea berputar di bawah tangan Arsel. Lalu dengan tangan bertaut tubuh Dhea berputar menjauh kemudian Arsel kembali menarik tangannya dan laki-laki itu menangkap pinggang rampingnya. Perlahan tangannya naik ke atas dan mengalungkannya di leher Arsel. Wajah Arsel memiring ke arah kanan. Lalu menempelkan bibirnya di bibir Dhea seraya memejamkan matanya. Dengan gerakan lembut mulai memangut bibir manis itu dan disambut Dhea dengan sama lembutnya. Satu tangannya merengkuh pipi Dhea sementara tangan satunya memeluk pinggangnya memperdalam pangutan bibirnya. Keduanya larut dalam ciuman itu. Ciuman yang penuh bermacam-macam perasaan di dalamnya.
Arsel menyatukan keningnya dengan Dhea setelah melepas tautan bibir keduanya. Ia menatap dalam mata Dhea yang kini tengah terpejam dengan bibir tersenyum. "I love you Dhea. I love you so much" ucapnya dengan suara teredam.
"I love you more Arsel. Selalu" balas Dhea dengan mata masih terpejam serta senyum yang bertahan di bibirnya.
Setelah itu Arsel membawa Dhea ke dalam pelukannya. Menenggelamkan kepala Dhea di dadanya dan dua beberapa kali mengecup kepala Dhea. Pun pelukan itu di balas Dhea sama eratnya.
"Jauhi laki-laki itu.
Aku tidak suka melihat dengannya atau pun berdekatan dengannya. Itu sungguh mengganggu ku. Sangat."
To be continued