Jujur

1008 Kata
Dhea menggeliat saat sinar mentari yang menyorot dari celah gorden mengenai wajahnya. Ia mengerjap beberapa kali menyesuaikan penglihatannya. Kedua tangan besar mendekapnya. Pun aroma wangi dari tubuh pria yang memeluknya menyeruak. Dhea mengangkat wajahnya lalu menatap Arsel yang masih terlelap dengan nafas teratur. Dhea tersenyum menyusuri wajah Arsel dengan telunjuknya. Lalu ia tersenyum mengagumi betapa tampannya laki-laki ini. Perlahan Dhea melerai pelukan Arsel hati-hati takut membangunkannya. Tapi yang terjadi selanjutnya justru yang membangunkan Arsel. Bagaimana tidak, setelah turun dari ranjang, Dhea menjerit. Arsel mengerjap dengan kening mengerut. Lalu masih dengan linglung ia cepat turun dari ranjang dan menghampiri Dhea. "Ada apa?" Arsel memperhatikan Dhea yang terlihat terkejut dengan pandangan mengarah ke kasur. Baru Arsel akan memutar kepalanya mengikuti arah pandang Dhea. Tapi dengan cepat Dhea menangkup kedua pipinya agar tidak melihat ke arah sana. "Jangan lihat ke sana. Jangan" ucapnya seraya menggeleng. "Ada apa?" Arsel akan memutar kepalanya lagi. Penasaran. Tapi lagi-lagi Dhea menahannya. "Dhea, ada apa? Kamu lihat apa? Kenapa aku juga tidak boleh melihatnya?" Tiba-tiba bibir Dhea melengkung ke bawah "tembus" ucapnya pelan dengan wajah dan telinga yang memerah. Arsel menangkup lembut kedua tangan Dhea yang masih di pipinya lalu menurunkannya. Kemudian ia menoleh ke arah tempat tidur. Dan benar saja terdapat noda darah di sana. Seprai Arsel yang berwarna abu muda cukup kontras dengan merahnya darah Dhea. "Ya ampun, aku apa" "Arsel maaf, aku gak tahu kalau ternyata hari ini periode ku" Dhea memilin-milin jari tangannya tidak enak. "Tidak apa Dhea, tidak perlu minta maaf" Arsel kemudian berjalan ke arah kasur hendak mencopot seprai itu. Tapi buru-buru Dhea mencegatnya. "Biar aku saja" Arsel membiarkannya saja, ia lalu berjalan ke arah kamar mandi. Sementara Dhea mencopot seprai itu lalu menaruhnya ke keranjang cucian. Dhea melirik pintu kamar mandi yang sudah tertutup. Lalu ia memejamkan matanya malu. Bisa-bisanya ia bocor di kasur laki-laki. Demi apa pun Dhea sungguh malu sekarang. Belum lagi, Dhea melirik pada celana joger yang dipakainya. Celana milik Arsel. Ia juga mengotori celana Arsel. Namun untungnya ia selalu membawa satu atau dua pembalut di tasnya. Takut-takut kejadian seperti ini, ia sedang tidak di rumah tapi periodenya datang. Tidak lama Arsel keluar dari kamar mandi dengan rambut sedikit basah. Lalu pria itu membuka lemari dan mengambil kaos hitam dan celana joger lainnya. "Arsel aku akan membawanya ke rumah" cicit Dhea menahan malu. Wajah dan telinganya masih memerah. Arsel berjalan ke arah dengan terkekeh. Lalu ia memiringkan wajahnya, mengecup pipi Dhea. Ia tidak tahan, gemas sekali melihat ekspresi Dhea yang menahan malu seperti itu. "Tidak perlu sayang, nanti ada orang yang mengambilnya ke untuk di bawa ke loundry" Dhea mendongak menatap Arsel dengan raut muka sedikit terkejut. Bukan perkara seprai itu. Tapi panggilan Arsel barusan, apakah baru saja laki-laki itu memanggilnya sayang?. Jika iya, rasanya Dhea ingin berkata ucapkan sekali lagi selama sembilan tahun mencintainya, dari yang mulai cintanya yang bertepuk sebelah tangan, lalu berakhir Arsel juga mencintainya, baru kali ini Dhea merasa begitu berbunga-bunga. Arsel kemudian menyodorkan pakainya yang ia ambil tadi dari lemari. "Pakai. gantimu, di kamar mandi ada sikat gigi baru dan sabun kesukaanmu" Dhea menerima pakaian yang disodorkan Arsel. "Makasih" lalu ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus mencuci baju dan celana Arsel yang terkena noda darahnya. Saat Dhea selesai dari kamar mandi, Dhea mencium aroma harum masakan yang membuatnya lapar. Dan ternyata di sana, Arsel tengah menyiapkan sarapan. Bukan sarapan istimewa, hanya nasi goreng yang dicampur potongan-potongan udang. Dhea langsung duduk di kursi bar mini saat Arsel menghidangkan nasi goreng yang terlihat lezat itu. "Makasih" ucap Dhea yang kedua kalinya pagi itu. Arsel tersenyum mengangguk lalu ia memutari meja bar membawa piring nasi gorengnya. "Ayo makan di sana" ajaknya berjalan ke arah ruang tengah. Dhea yang sudah mengisi penuh mulutnya, berjalan mengikuti Arsel. Mereka duduk di sofa seraya menonton televisi yang menampilkan tayangan kartun beruang dan gadis kecil juga hewan-hewan liar. Dhea menoleh sekilas pada Arsel yang sesekali tertawa pelan menonton kartun itu seraya mengunyah nasi gorengnya. Dhea ikut tersenyum melihatnya "aku tidak menyangka kamu suka tayangan seperti itu" Arsel menoleh "lucu. Suatu saat nanti aku ingin memiliki anak perempuan" lalu ia memusatkan kembali perhatiannya pada televisi. "Kalau kamu tidak suka, kamu bisa menggantinya ke channel lain". "Tidak, aku suka melihatmu tertawa seperti itu" Dhea masih menatap Arsel dengan senyum di wajahnya. Arsel menoleh lagi, lalu menyangga kepalanya dengan tangan yang ia sandarkan ke sandaran sofa "seperti yang kau lakukan di tempat tidur tadi pagi?" ucapnya seraya tersenyum menaikkan alisnya. Dhea berkedip cepat "tadi kamu sebenarnya sudah bangun?" "Hm" Arsel mengangguk seraya menahan senyum. "Kamu tidak ada jadwal ke rumah sakit?" Ucap Dhea mengalihkan pembicaraan. "Nanti sore" jawab Arsel masih memaku tatapannya pada gadis di depannya yang terlihat cantik dan manis tanpa riasan. "Habiskan makanannya, jangan melihatku seperti itu. Aku malu" Dhea mencebik. Arsel terkekeh melepas tatapannya pada Dhea lalu melanjutkan makannya. Selang beberapa menit terdengar bel di pintu. Arsel meletakan piringnya di meja. "Sepertinya itu petugas loundry, sebentar" ucapnya seraya beranjak. Sementara Dhea kembali mengalihkan tatapannya pada televisi di depan. "Ayah" Dhea mengerutkan keningnya saat mendengar suara anak kecil yang memanggil ayah. Lantas Dhea juga meletakkan piringan di atas meja dan beranjak menyusul Arsel menuju pintu apartemen. Dan di sana...Dhea melihat seorang anak kecil tengah memeluk kaki Arsel. Juga Arsel yang merunduk merengkuh tubuh kecil anak itu. Seorang anak laki-laki sekitar usia 4 tahun. "Maaf den, dia merengek minta diantarkan ke sini sejak semalam. Bahkan nyonya Nara pun kewalahan" "Iya tak apa, terima kasih pak" ucap Arsel. Supir pribadi keluarganya itu mengangguk. Lalu pergi dari sana. "Alik gak mau di rumah nenek, Alik mau sama ayah" anak itu mendongak mengadu pada Arsel. "Maaf ya, ayah banyak pekerjaan" Arsel mengelus lembut pipi anak itu. "Arsel" panggil Dhea. Arsel menoleh, jantungnya bertalu cepat dan raut wajahnya sedikit tegang melihat tatapan datar Dhea. Tatapan matanya menyiratkan banyak pertanyaan. "Kenapa dia memanggilmu ayah?" "D-Dhea, dengar aku dulu ya. Aku akan menjelaskannya" "Kamu memang harus menjelaskannya" "Ayah, tante itu siapa? Apa dia akan menggantikan mamah?" Sontak Arsel dan Dhea mengalihkan tatapannya pada anak itu yang menatap Arsel dengan tatapan bertanya. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN