LEMPAR TAKDIR PERTAMA

1042 Kata
12 Maret 2017 Aku ingat betul kejadian itu. Mendadak pesantren jadi sangat ramai, padahal itu bukan hari ahad—waktu kunjungan wali santri. Wali santri datang dengan wajah penuh ketegang, tak ada rama tama saat beberapa ustadz/ustadzah menemui mereka. Mereka terlihat marah dan kecewa secara bersamaan. "Saya mau bawa anak saya pulang dari pondok ini!" seru salah satu ibu-ibu yang paling menonjol di antara yang lain. "Ya, ini pesantren gak bener! Bisa-bisa anak kita jadi ikut gak bener!" sahut yang lain bersamaan. "Ya, bener!" "Pesantren abal-abal! Bilangnya pesantren terbaik di Jawa, tapi anak kiyainya saja nakal!" Saat itu, aku sama sekali tak mengerti apa yang mereka ributkan. Aku tak mengerti bahwa akulah yang tengah mereka bicarakan. Dengan santai, aku berjalan melewati mereka. Tapi tiba-tiba... Seorang ibu dari depanku, melempar telur ke arahku. "Itu Ning-nya..." "Iya itu.. dia yang ada di video itu..." "Oh ini toh anak nakal itu..." "Ning tapi kelakuannya kok gitu..." Cibiran itu terus berdengung di telingaku. Aku tak bisa lari dari sana karena lemparan telur dan beberapa tomat busuk terus menghantamku. "Ibu-ibu saya harap tenang semuanya." Hamzah mencoba meredam kemarahan mereka. Awalnya suara Hamzah kalah. Hamzah dengan cepat berdiri di tengah-tengah, menghalangi lemparan mereka padaku. "Saya tangan kanan Kyai Ahmad selaku pimpinan pondok. Hari ini beliau sedang berada di luar. Jadi saya harap kita bisa mendialogkan ini dengan kepala dingin," ujar Hamzah. Lemparan itu telah berhenti, tapi rasa malu langsung memelukku erat. Wajahku sudah dipenuhi tomat busuk dan aroma telur amis. Aku merasa marah, tapi tak berdaya. Aku segera pergi dari sana! Belum reda dengan kemarahanku, abi mendatangi kamarku. Menamparku dengan kencang. Aku terduduk, kaget, sakit dan marah bercampur aduk. Saat itu aku semakin membenci abi... "Jika abi tak memberimu tamparan hari ini, lantas bagaimana abi akan menjawab pertanyaan Allah nanti? Abi memang terlalu memanjakanmu hingga kamu kelewatan batas!" Aku bangkit, menatap mata abi yang penuh kemarahan dan kecewa. "Sejak abi memutuskan untuk menikah dengan wanita itu, sejak saat itulah kulo tak lagi menganggap abi sebagai orang tua kulo. Bagi kulo, abi sudah lama mati—" Tangan abi kembali terangkat. "Tampar kulo lagi agar kulo visa sepenuhnya membenci abi!" Abi tersadar, ia menahan tangannya lalu menghempas keras ke udara. "Vina benar. Abi sudah lama mati dan kehilangan putri kecil abi yang dulu selalu tersenyum. Maafkan, Abi...." Abi menatapku, sorot kesedihan dari matanya, saat itu aku abaikan. Abi berbalik dan pergi menemui kerumunan di luar. Seorang diri tanpa ustadz lain. Dari jendela, aku melihat kerumunan masih berkumpul mendengarkan perkataan abi yang tak bisa kudengar. Aku hanya bisa melihat. Tiba-tiba, abi menangkupkan tangannya di depan d**a lalu menjatuhkan lututnya di tanah. Berdiri dengan lutut. Abi mengatakan sesuatu. Aku membaca gerak bibir abi. Hukum saya saja. Saya yang telah gagal memberikan pelajaran terbaik untuk putri saya. "Memangnya apa yang saya lakukan?" gumamku pelan. "Ternyata pemeran utama kita belum tahu apa yang telah ia lakukan..." Nyai Siti tersenyum padaku, senyum mengejek. Ia menyodorkan ponsel di depan wajahku. "Kamu pasti kenal siapa orang yang ada di dalam video ini..." "Dari mana Nyai dapat video ini?" desakku. Di video itu terlihat aku sedang mencium pipi Zayn. Video di edit berulang kali hingga terlihat seperti aku terus-terusan mencium Zayn. "Ternyata Ning kita sangat liar. Tak pantas jadi panutan. Wajar orang datang berbodong-bodong ke sini. Video ini sangat viral di internet." "Ning Vina..." suara cempreng Karin kembali menarikku dari ingatan panjang itu. "Ning Vina kenapa bengong?" Aku melirik sekitar mencari kamera tersembunyi yang sudah Zayn persiapkan untuk merusak reputasiku. Video itu diambil dari angle depan yang hanya memperlihatkan aku dan Zayn itu artinya kamera itu ada di... Ketemu! Kamera itu ada tepat di depanku.... "Sayang, akhirnya kamu datang juga. Khusus buat sayang harus duduk di sini." Zayn Aku mengangguk pelan. Sekarang waktunya ikut alur permainan mereka. Aku duduk di sebelah kiri Zayn. "Haus. Apa bisa sayang—" Sial! Aku tercekak karena kata menjijikan itu. "Tolong ambilkan saya air minum dingin," sambungku. Zayn nampak enggan, ia hendak menyuruh Karin. Namun, langsung kuhentikan. Teman-teman Zayn mulai berdatangan. "Saya hanya ingin minum dari minuman yang kamu bawa," ujarku berusaha membujuk Zayn. "Tapi..." Zayn nampak memperhatikan teman-temannya. Dari raut wajahnya terlihat jelas Zayn tidak ingin melakukan itu karena takut harga dirinya tercoreng. Dia takut, teman-temannya mengejeknya sebagai pria yang bisa diatur wanita. Zayn penganut keras patriaki. Dia bahkan tak mau sekedar mencuci piring bekas makannya sendiri. Bagi Zayn, itu aib. Hesti sangat tidak beruntung di masa depan memiliki suami macam Zayn. "Minuman itu hanya berjarak 10 kaki darimu..." Aku berpura-pura ngambek. Cara itu lumayan berhasil. Zayn akhirnya mau menuruti permintaanku. Ia berdiri dari kursinya. "Karin..." aku menoleh pada Karin yang nampak jelalatan melihat teman-teman Zayn. Dari binar di matanya, ia menyukai tempat dan semua teman Zayn. Atau mungkin, ada satu cowok yang dia incer? "Pindah duduk sini." Aku menepuk pelan kursi bekas Zayn. Karin tak langsung berdiri mengindahkan permintaanku, ia nampak bingung. Seingatku kamera yang tersembunyi bukanlah ide Hesti dan gengnya. Itu murni ide Zayn, yang kelak setelahnya baru ketiganya ketahui. "Tapi, Ning... itu tempat duduknya Zayn," tolak Karin. "Saya tak mau mengganggu waktu Ning Vina dan Zayn." "Pindah," ujarku kali ini dengan nada perintah. Karin yang takut padaku, secara refleks langsung duduk di kursi sebelahku, bertepatan dengan Zayn yang baru saja datang membawa dua botol minuman dingin. "Eh, kok—" "Terima kasih ...." Aku berdiri menyambut Zayn. Lalu segera mengambil dua botol minum dari tangan Zayn, untukku satu dan satunya untuk Karin. "Buat saya mana?" Zayn bingung. "Di sana masih banyak. Kamu bisa ambil lagi," sahutku sembari tersenyum. "Sayang, tolong ambilkan saya tisu? Di sini sangat panas." "Tisu? Apa kakimu tak berfungsi?" protes Zayn. Karakter aslinya mulai perlahan tersingkap. "Sayang..." Aku tak percaya kata menjijikan ini sudah tiga kali kuulang. "Saya lakukan ini agar kamu terlihat baik dan romantis dengan pasangannya. Itu artinya populeritas kamu akan meningkat, dan akan banyak wanita iri ingin berada di posisi saya." "Tapi..." "Saya hanya mencoba membantu kamu. Apa kamu kini tak percaya pada saya lagi? Apa cinta saya tak cukup menyakinkanmu." Kalimat ini sama persis seperti kalimatku dulu. Dulu... aku mengatakan hal itu murni apa yang hatiku rasakan. Zayn tak menyahut, langsung memutar arahnya. Ia berjalan ke arah meja yang menyediakan tisu. Setelah, Zayn agak jauh.. aku buru-buru mengganti posisi kamera mengarah pada Karin dan Zayn. Sekarang waktunya mengubah pemeran! **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN