Hari ini tak terjadi apa-apa. Hanya hari panjang yang seperti biasanya, sedikit melelahkan. Namun, kenapa hatiku terasa amat penuh. Aku ingin menangis, semua yang terjadi hari ini terasa sangat dramatis.
Hariku dimulai dengan keadaan yang tak nyaman. Aku harus berpura-pura di hadapan Hesti, Fafa dan Karin.
"Saya lepas kendali. Saya tak suka kalian mengambil apa yang seharusnya saya lakukan," ujarku, mengawali.
Ketiganya masih diam. Aku kembali melanjutkan perkataanku. "Seharusnya aku yang memberikan pelajaran pada Hamzah dan Fatmah."
"Apa yang kalian lakukan sama sekali tak membuat saya puas!"
"Jadi, Ning menampar kita bukan karena berada di pihak mereka?" tanya Karin polos.
Fafa melanjutkan perkataan Karin. "Kita pikir, Ning Vina membela mereka."
Hesti mengangkat kepalanya. Menengahi. "Seharusnya, kita paham itu. Kita tidak bisa memahami Ning Vina dengan baik. Maafkan kami, Ning."
Aku mengangguk pelan, berpura-pura tidak menyadari kebohongan mereka. Mulut mereka kompak berkata maaf, tapi kilatan mata mereka berbeda. Di mata mereka terlihat jelas ada kemarahan yang tersembunyi.
Dulu, aku tak pernah menyadari itu...
Bodoh sekali!
Belum lega dengan keaadan tak nyaman itu. Aku harus berhadapan dengan Nyai Siti—ibu tiriku yang tiba-tiba datang membawakanku makan. Ia memelukku di depan semha orang, seolah menunjukkan bahwa dia ibu tiri yang baik hati.
"Ning Vina, bagaimana dengan kamarmu di asrama? Apa nyaman?"
"Jika kamu merasa tak nyaman, umi akan minta abi untuk segera menjemputmu kembali ke rumah."
"Umi tak tega jika melihatmu kesulitan di sana." Nyai Siti lantas memelukku. Ia berbisik padaku.
"Kau memang pantas tinggal di asrama. Asrama ini satu-satunya tempat yang mau menerima kehadiranmu. Oh, atau jangan-jangan, orang di kamar asrama sebenarnya terpaksa menerimamu..." bisiknya.
Nada lembutnya di depan umum telah sirna, berganti suara aslinya yang penuh dengan pisau tajam.
Aku tak kaget. Jelas aku tahu kalimat manis itu hanya tipu muslihat wanita ular itu. Pengalaman masa lalu telah memberi pelajaran terbaik untukku. Untuk diam meski kepalaku rasanya sudah dibakar api kemarahan.
Tahan Vina.... aku menghela nasap panjang berkali-kali, menekan jempolku dengan keras. Aku tak akan membiarkan citraku makin rusak karena provokasi Nyai Siti.
Dan akhir hariku di tutup dengan bertemu Hamzah di masjid. Dia tidak melakukan apa pun, tapi kebisuan dan tatapan dinginnya membuat hatiku tak nyaman.
"Cari sendal, ya?" Aku menyodorkan sendal berwarna cokelat yang sendari tadi Hamzah cari. Sendal miripnya.
Gifsun di kaki Hamzah telah di lepas, tapi kakinya masih belum bisa bergerak bebas. Ruang geraknya terbatas. Ia tak melihat jika sendal yang sendari tadi ia cari tertendang di bawa beberapa sendal.
Ia tak menjawab.
"Ini sendal kamu, kan?" Aku kembali memastikan dan langsung yakin karena sendal yang aku sodorkan benar-benar sama dengan sendal yang Hamzah gunakan.
Hamzah masih diam. Aku pikir dalam heningnya, ia sedang meminta bantuanku untuk meletakkan sendal itu di depannya.
"Kenapa malah bengong?" tanyaku bingung. "Tinggal pake aja."
Hamzah melangkah maju. Namun, bukan untuk mengenakan sendal yang aku letakkan di hadapannya. Ia melewati sendal itu.
"Tangan saya tak najis. Sendalmu tak perlu dibuang hanya karena saya menyentuhnya!" teriakku, menarik perhatian banyak orang. Beruntung Hesti, Karin dan Fafa selalu absen kegiatan dzikir dan ceramah sehabis salat isya.
"Hamzah!" teriakku lagi. Kemarahanku sudah melewati batas.
Hatiku bergejolak dalam kemarahan. Tanpa pikir panjang, aku mengambil sendal itu dan melemparnya keras ke arah Hamzah. Tepat sasaran mengenai punggung Hamzah.
"Tanganmu memang tak najis, tapi sikapmu bahkan tak layak disandingkan dengan hewan najis mana pun."
Aku terkesiap. "Ya, kau benar. Sikapku lebih najis dari anjing! Terima kasih telah mengingatkan!"
Bagaimana? Apa serangkaian kejadian ini cukup menjadi alasanku menangisi sekarang? Apa aku bisa menangis sekarang? Tapi siapa yang akan menepuk pelan bahuku sembari berkata, "apa sekarang sudah lebih tenang? Apa kamu ingin aku belikan seember es cream?".
Tak ada! Aku tersenyum miris. Sejak awal aku memang tak punya siapa-siapa di sisiku. Aku hanya sendiri. Menangis, bahagia dan terluka.
Semua sendiri.
Tak ada yang paham lukaku. Tak ada yang peduli akan kesedihanku.
Semua harus kutanggung sendiri.
"Bunda, apa semua orang akan pergi seperti Bunda meninggalkanku?"
Lagi-lagi pertanyaan yang harus kujawab sendiri. Sejujurnya, aku iri pada suara di luar kamarku. Beberapa santri masih berada di luar kamar. Mereka bercerita dan tertawa lepas, hal yang tak pernah atau bahkan akan aku lakukan?
"Kakakku menyarankan untuk pakai skincare keluaran terbaru itu supaya wajah kita putih berseri."
"Emang iya, pake itu bisa bikin wajah bersinar?"
"Ya. Kata Pricil, dia sudah coba sendiri. Wajahnya jadi makin putih berseri."
"Ih itu mah bukan karena skincare itu, tapi emang kulitnya udah putih."
"Lah iya juga ya.. kok kamu menyadarkan saya sih?"
"Padahal saya tadi hampir kemakan omongan Pricil."
Mereka tertawa bersama. Topik sederhana tapi terasa sangat hangat. Andai aku bisa ikut bergabung, bukan hanya sebagai pendengar ilegal seperti sekarang.
Namun itu tak mungkin. Jika aku datang, tawa mereka pasti akan hilang dan topik ringan itu berubah jadi hal tak menyenangkan.
Hanya karena keberadaanku.
Aku.
"—orang di kamar asrama sebenarnya terpaksa menerimamu.."
Apa aku harus mengakui perkataan Nyai Siti? Sepertinya ini satu-satunya kalimat jujur yang Nyai katakan dari mulutnya. Aku menertawakan pikiranku. Sendirian.
"Semoga besok, pelangi datang..." gumamku, sebelum terlelap.
.
.
"Ning Vina..."
Aku tanpa sadar memutar bola mata saat melihat Karin menghampiriku. Gadis berwajah jawa totok itu terlihat sangat bersemangat membawa sesuatu di tangannya.
Kertas itu mengingatkanku akan...
"Ning Vina... ini ada surat dari Zayn!" katanya nyaris berteriak membuat beberapa santri yang melewati kami, tanpa sadar menoleh.
Surat...
Ah.. aku ingat! Dulu surat itu berhasil membuatku berbunga-bunga seharian, seolah aku baru saja mendapatkan sebongkah emas.
Karin bahkan terheran-heran saat tiba-tiba aku memeluknya, hal yang tak pernah kulakukan. Aku sangat anti kontak fisik pada siapa pun, bahkan pada Zayn yang dulu sangat aku cintai sampai t***l!
"Surat ini..." Aku mengambil surat itu dari tangan Karin. Menimbangnya sesaat. Warna pink terang membuat mataku terasa pedih. Sangat menjijikan. Surat ini berisi pesan Zayn yang ingin bertemu. Ia ingin memberikanku kejutan sebelum pergi lama.
"Karin besok kamu harus ikut saya pergi."
"Ha? Pergi kemana, Ning?"
"Keluar pondok."
"Oke, saya bakal kasih tahu Fafa dan Hesti—"
"Tak perlu. Hanya saya dan kamu."
"Berdua saja? Memangnya mau kemana, Ning?"
"Menemui Zayn. Zayn ingin bertemu besok sore."
"Ning Vina belum baca suratnya, tapi kenapa Ning Vina bisa tahu isi surat itu?"
Jelas aku tahu, bahkan aku juga tahu bahwa pertemuan ini juga salah satu rencana busuk kalian. "Kamu juga tahu. Apa kamu baca surat saya?"
Seketika wajah Karin menegang. Ia menggeleng berkali-kali mencoba menyakinkanku. "Tidak, Ning... s-saya hanya bingung."
"Oke. Besok siap-siap pergi bersama saya."
Karin menggangguk pelan.
"Tapi ingat, jangan sampai Hesti dan Fafa tahu soal kamu ikut bersama saya," peringatku. "Jika sampai mereka tahu, kamu pasti tahu apa yang akan terjadi padamu, kan?"
"Ah iya, Ning." Karin terlihat makin kikuk. Sepertinya di otaknya, Karin sudah berencana memberi tahu Hesti mengenai ini. Dia memang sangat setia pada Karin.
"Saya akan simpan rapat-rapat soal ini," tambahnya.
"Good girl." Aku tersenyum. Aku membutuhkan Karin untuk melempar peristiwa buruk yang akan aku alami di sana.
Peristiwa buruk itu...