"Awas saya mau masuk!"
Tangisku seketika berhenti begitu mendengar suara Zayn. Zayn menerobos masuk dan membuat keributan karena Hamzah berusaha menghalanginya. Zayn tidak terima dan memukul Hamzah.
"Kamu cuma babunya! Jangan bertindak seolah kamu keluarganya!" cibir Zayn.
Ihhh...
Manusia ini lagi! Rasanya aku ingin lompat dari kasur dan menjambak Zayn hingga rohnya keluar dari jasadnya. Namun, badanku terlalu lemah. Yang bisa kulakukan sekarang hanya menekan tombol panggil suster dan keamanan.
"Jika kamu menghalangi saya ... jangan salahkan saya jika Ning Vina akan membencimu seumur hidup!" ancam Zayn.
Seketika Hamzah nampak bimbang, ia tiba-tiba menoleh padaku. Hal itu membuat pertahanan dirinya umtuk menghadang Zayn jadi melemah.
Zayn menggunakan kesempatan itu untuk menerobos bahu Hamzah.
"Saya tahu kamu pasti merindukan saya, kan?" ujar Zayn.
Di ambang pintu, Hamzah di menatapku sekilas, ia menghela napas panjang, seperti bingung dan pasrah secara bersamaan. Apa mungkin Hamzah berpikir bahwa aku ada dipihak Zayn dan aku senang akan keberadaannya di sini?
"Seharusnya kamu tak perlu bertarung hanya untuk mendapatkan cinta saya! Ya, meski sekali pun kamu cemburu pada Sintia."
Sial ... kenapa manusia ini selalu ngomong hal yang tak penting sih?
Belum cukup dengan satu manusia sampah, Hesti, Fafa dan Karin tiba-tiba muncul. Entah bagaimana caranya—aturan pondok sangat ketat soal perizinan di waktu pembelajaran, jelas mereka tidak akan mendapat izin keluar untuk ke rumah sakit.
"Ning Vina ... dari semalam kita cemas keadaan Ning Vina," ujar Hesti.
"Iya, Ning ... kita kaget pas tahu kalau Ning masuk rumah sakit."
Cih ... bukannya semua ini ulah mereka? Hesti pasti sengaja memberitahu abi akan keberadaan di tempat itu, yang jelas niatnya agar citraku semakin buruk di mata semua orang di pondok. Jika bukan karena informasi dari Hesti, Hamzah tak mungkin bisa tahu tempat itu.
Tapi ada baiknya juga saat itu Hamzah datang ... aku jadi bisa segera di bawa ke rumah sakit. Jika Hamzah yang tak ada di sana, entah apa yang terjadi. Zayn dan keronconya itu mana bisa dipercaya!
"Untung Zayn bantuin kita datang ke sini," kata Hesti. "Zayn datang ke sini cuma buat Ning Vina. Dia rela ninggalin teman-temannya."
"Iya, Ning. Zayn tahu Ning Vina pasti pengen ketemu Zayn, kan?"
"Dan gara-gara kamu, saya jadi nunda kepergian saya ke kota," sahut Zayn. Nada suaranya seolah dia sudah melakukan hal paling berjasa dalam hidupku.
"Ning Vina, sekarang semua orang sudah tahu seberapa besarnya cinta Ning Vina pada Zayn. Gak akan ada yang berani lagi ngerebut Zayn dari Ning Vina," ujar Karin.
"Ning Vina beruntung banget. Ning Vina harus manfaatkan kesempatan ini dengan baik," sambung Fafa.
Aku baru sadar akan teknik yang selama ini mereka pakai, kenapa dulu aku bisa segila itu mencintai Zayn. Itu semua tak lepas dari manipulasi pikiran yang Hesti, Fafa dan Karin lakukan.
Mereka terus-terusan menanamkan pemikiran bahwa Zayn adalah berlian yang sangat berharga. Jika aku kehilangan Zayn, aku sangat tidak berarti.
Dasar manusia licik!
"Ya, gara-gara aksi kamu semalam, semua teman cewek saya jadi pergi. Mereka jadi takut buat dekat-dekat sama saya." Zayn memutar bola matanya, kesal.
"Apa sekarang kamu puas? Itukan yang kamu mau?" sambung Zayn.
Jelas-jelas aku menerima tantangan Sintia untuk bertarung karena kehormatanku dan abi. Aku baru hendak menjawab, tapi suara Hesti mendahului suaraku.
"Ning Vina ... mulai sekarang Ning Vina bisa bebas ngejer cinta Zayn, tak ada yang akan mengganggu Ning," ujar Hesti.
"Ya, Saya tahu, kamu pasti sedih karena semalam saya memutuskanmu. Jadi saya—"
Suara perawat memotong perkataan Zayn. Huft.. untunglah perawat datang di waktu yang tepat. Aku jadi tak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengusir manusia menyebalkan ini...
Aku segera memberi sinyal lewat mata pada Suster. Jelas aku ingin makhluk tak bermoral seperti Zayn pergi secepatnya dari pandanganku. Mataku rasanya sepet jika terlalu lama melihat Zayn.
Suster awalnya bingung dengan sinyalku itu, tapi setelahnya dia menggangguk kecil. Mengiyakan.
"Pasien butuh istirahat lebih sebelum pulang, sebaiknya, Mas keluar dari sini," kata perawat yang membuat Zayn kesal.
"Saya mau di sini!" bantah Zayn bersikeras. "Tak ada yang bisa mengusik keputusan saya ini!"
"Perawat sudah bilang buat kamu keluar dari sini! Jangan buat keributan di rumah sakit." Untunglah Hamzah angkat suara.
"Cih! Kamu siapa? Apa hak kamu bersuara sekarang?"
"Saya orang yang ditugaskan abinya untuk menjaga Ning Vina."
"Bacot!" Zayn tiba-tiba melayangkan pukulan ke wajah Hamzah.
"Zayn!" teriakku spontan.
Hamzah tak sempat mengelak, wajahnya terkena pukulan keras Zayn.
Perawat dengan cepat langsung memanggil keamanan. Dua satpam bertubuh besar datang. Keduanya langsung menahan Zayn yang berusaha kembali menyerang Hamzah.
Zayn tak terima di tarik keluar. "Jika kamu tak membela saya hari ini, jangan harap saya akan menerimamu lagi!"
"Ning, suruh satpam itu lepasin Zayn," desak Hesti.
"Ning, ayo bilang, jangan buat Zayn marah..." sambung Fafa dan Karin.
Hamzah angkat suara. "Bukan cuma Zayn yang pergi, tapi kalian bertuga juga! Saya sudah telepon pihak pondok untuk menjemput kalian kembali ke pondok!"
"Diam kamu! Ada hak apa kamu bicara di sini!" cerca Hesti.
"Ya, kamu cuma babu Ning Vina! Tak usah mengatur kami!" Fafa menimpali.
"Tak peduli apa kata kalian, kalian harus kembali ke pondok sekarang!"
"Kita mau di sini!" Hesti menoleh padaku, yang balik menatapnya, malas. "Ning Vina, bilang ke babu sialan ini untuk pergi dari sini ...."
Siapa dia berani menyuruh-nyuruhku? Aku menatap Hesti. Hesti nampak bingung sesaat, sebelum akhirnya dia sadar akan kalimatnya sendiri.
"Ning Vina ... kamu tak mungkin mengusir kita dari sini, kan?" cicit Hesti.
Tak mungkin? Jika bukan karena masa lalu dan rencana besar ini. Aku sudah mengusir kalian dari detik pertama kalian menginjakan kaki di sini. Menyebalkannya, aku masih harus bersabar lebih lama lagi terhadap kalian!
"Iya, Ning Vina tak mungkin mengusir kita, apalagi Zayn. Semua ini pasti ulah babu sialan itu—Hamzah!" seru Fafa.
"Ya, seharusnya kalian tangkap dia. Dia yang buat keributan!" Zayn melepaskan diri dari dua satpam yang sekarang menatapku bingung.
"Usir dia dari sini, Vina! Jika kamu tak mengusirnya, jangan harap saya mau bertemu denganmu lagi!" ujar Zayn.
"Ning, turuti saja permintaan Zayn ..." bujuk Hesti. Hesti meraih tanganku, yang spontan langsung kuhempas keras, sejak tadi aku sudah berusaha menahan emosiku.
Sialnya, aku kelepasan.
Hesti menatapku bingung sekaligus penuh kecurigaan. Ini bahaya jika Hesti mulai menyadari perubahanku. Peristiwa masa lalu akan berubah total dan ...
"Ning Vina ... siapa yang akan Ning Vina pilih. Zayn atau Hamzah?"