Hesti sialan!
Dia memang wanita ular paling menyebalkan! Kepalaku masih pusing dan dia mencoba membuat hidupku makin tidak nyaman.
"Keluar!" Aku menatap semua yang ada di ruangan itu, tak kecuali Hamzah.
"Kalian semua keluar!" desisku.
Seketika semuanya terdiam. Hesti menatapku. Aku balas menatapnya tajam, hingga dia akhirnya ragu dan menurunkan matanya.
Dia pikir aku bisa dia tindas dengan semua sifat manipulatifnya itu?
"Kamu beneran ngusir saya?" Zayn bersuara. "Kalau kamu ngusir saya dari sini, saya tak akan izinkan kamu huat ngejer saya lagi."
"Pergi!"
"Vina!" serunya.
"Apa kalian semua tuli? Saya bilang pergi ya pergi! Saya muak liat kalian di sini!" pekikku.
Semua kembali terdiam. Kali ini Hamzah menatapku bingung.
"Bukannya kamu membenci saya?" Aku menatap Hamzah. Hamzah memalingkan wajahnya. "Cih! Kalian pergi dari sini! Saya tak ingin melihat kalian."
Zayn mendengus sebelum akhirnya pergi. Hesti, Karin dan Fafa menyusul di belakang. Hamzah pergi setelahnya sebelum menoleh ke arahku dengan ekspresi yang tak kupahami.
"Apa dia marah?"
.
.
Sudah dua menit lebih aku mengamati sekitar. Instingku mengatakan jika sekarang waktu yang tepat untuk melaksanakan misiku. Tak ada orang yang lewat.
"Aman!"
Aku dengan cepat langsung masuk ke ruangan bertuliskan "santri dilarang masuk".
Ruangan ini terletak di lantai dua— dulunya ruangan milik abi, aku sering ke ruangan ini sewaktu kecil. Abi sering mengajakku untuk melihat pemandangan dan aktivitas santri dari jendela yang langsung menghadap ke dalam pondok.
Bagiku melihat sesuatu dari ketinggian seperti terapi ketenangan. Aku bisa melihat semua orang dari atas, tanpa mereka mengetahui keberadaanku. Rasanya seperti pengamat misterius yang tahu segalanya.
"Ruangannya gak banyak berubah ..." gumamku setelah mengamati semuanya.
Hal yang berubah hanyalah kursi yang dulunya sering aku gunakan untuk berputar-putar, kini hanya bisa bergerak pelan dan mengeluarkan decitan suara. Dan satu lagi, papan nama abi digantikan dengan papan nama bertuliskan Hamzah.
Yap! Ruangan ini kini menjadi tempat Hamzah. Abi sangat mempercayai Hamzah sebagai tangan kanannya dan karena itu abi memberikan ruangan ini untuk Hamzah.
"Simpan di sini aja kayaknya ...." Aku segera memasukan paper bag kecil di dalam laci Hamzah dan buru-buru kembali ke asrama
"Misiku selesai—"
"Misi apa?"
Aku tersentak kaget. Senyum mekar di wajahku seketika lenyap. Hamzah berdiri di depanku. Mencegat langkahku di depan masjid. Ia menatapku tajam. Entah kenapa aku merasa Hamzah mencurigaiku. Apa dia tahu aku masuk ke ruangannya?
"Bukan apa-apa," sahutku seraya melangkah cepat.
Hamzah tiba-tiba mengela napas berat dan berkata, "Saya yang memang terlalu berharap. Bagaimana bisa saya berpikir jika Ning Vina akan mengakui kesalahannya dan berhenti dengan trik kotor ini."
"Trik kotor?" Aku berbalik kembali.
"Kaki saya baru sembuh lusa kemarin. Sekarang apa yang Ning Vina incer? Tangan saya, atau mungkin nyawa saya?"
"Saya tak paham kamu bicara apa? Incer apa? Saya cuma—" Aku terkesiap, Hamzah menekan 'send' pada nomor abi di ponselnya.
"Apa yang kamu kirim?" tanyaku spontan. "Abi baik-baik saja, kan?"
Hamzah hanya mengangkat kepalanya, tak berniat menjawab pertanyaanku. Dia hanya diam.
"Jawab saya! Apa abi sakit?"
"Jawab saya Hamzah!"
"Apa kamu bisu ha!"
"Abi tak akan sakit jika kamu berhenti membuat ulah," sahut Hamzah akhirnya.
"Kabur dari pesantren, pingsan di sana dan sekarang membuat misi balas dendam lagi! Apa kamu pikir abi tak akan sakit memikirkan semua ulahmu itu?"
"Berhenti menjadi anak yang selalu berusaha mencoreng nama orang tua, Ning Vina!"
"Misi balas dendam apa? Saya tak melakukan apa pun!"
"CCTV ruangan ini sudah saya kirim ke abi. Sekarang abi akan tahu apa yang kamu lakukan di dalam ruangan saya."
"Hah?" Lagi-lagi aku terkesiap. "Buat apa kamu kirim rekamanan CCTV itu ke abi?"
"Buat apa? Kamu pasti lebih tahu kenapa saya kirim rekaman itu ke abi. Agar abi tahu bagaimana trik kotormu itu terjadi!"
"Trik kotor apanya!" Aku nyaris berteriak.
Suara ributku mulai menarik beberapa santri yang lalu lalang ke masjid. Mereka melirik sekilas berpura-pura terlihat tak penasaran.
"Abi memintamu untuk menemuinya di ruangan itu sekarang," kata Hamzah lagi.
"Semalam ini? Biasanya abi sudah istirahat."
"Seharusnya kamu ingat itu sebelum melakukan trik kotor sebelumnya!" pungkas Hamzah.
"Tapi itu bukan trik kotor. Saya hanya—" Rasanya suaraku tercekat di tenggorokan. Apa iya aku harus mengatakannya langsung? Sejujurnya gengsiku masih setinggi langit. Aku malu.
"Abi sudah memanggilmu sekarang." Hamzah berjalan mendahuluiku.
Aku mencoba mengejar langkahnya, agar selaras, tapi itu percuma. Semakin aku mempercepat langkahku, langkah Hamzah dua kali lebih cepat.
"Hamzah ...." keluhku. Rasanya aku seperti mengejar kereta api. Cepat sekali. Napasku ngos-ngosan.
"Itu bukan trik kotor, Hamzah. Saya hanya—"
Hanya ingin meminta maaf...
Ya ... kejadian di rumah sakit itu, sangat mengusik hatiku.
Hamzah sudah datang menolongku, tapi aku memperlakukannya sangat buruk. Aku mengusirnya dan bahkan membantah perkataannya.
Karena kesal, aku mengambil keputusan gegabah. Aku pulang ke pesantren naik bis, meninggalkan Hamzah dan beberapa santriwati yang sudah menungguku di parkiran.
"Hamzah, dengerin dulu!" pintaku.
Hamzah benar-benar menganggapku tak ada. Dia terus berjalan. Apa yang harus aku katakan pada abi soal paper bag itu?
"Gawat! Bisa-bisa abi nanti salah paham! Perjodohanku malah dipercepat!" dengusku. Aku tak ingin menikah muda! Aku masih mau masa SMA-ku.
"Berhenti!" teriakku.
Sialnya bukan Hamzah yang berhenti, malah beberapa santriwati yang lewat. Mereka berhenti tepat di depanku, menatapku takut-takut. Langkahku terhalang karena mereka.
"Ning ... kita—"
"Afwan, bukan kalian," ujarku cepat. Buru-buru kembali mengejar langkah Hamzah yang sudah lima langkah lagi dari ruangan abi.
"Hamzah! Dengerin saya dulu!" teriakku.
Hamzah akhirnya berhenti.
"Saya tak melakukan apa pun. Saya tak ingin menjebakmu. Yang saya lakukan di sana hanya meletakkan paper bag. Itu saja," jelasku cepat. Semoga Hamzah mengerti.
"Apa isi paper bag itu?"
"Ha? Itu isinya ...."
"Serangga? Racun? Atau apa?"
"Ck! Memangnya saya sejahat itu?" dengusku.
Aku jelas berharap Hamzah menjawab 'tidak' atau minimal menggeleng, tapi yang terjadi Hamzah hanya dia. Ekspresi wajahnya seolah menjawab pertanyaanku dengan kata 'ya'
"Ck!" Aku spontan memutar bola mata kesal. Haruskah aku beritahu saja? Isi paper bag itu dua batang cokelat, permen, pulpen dan buku ....
Hanya itu ...
Ya, apa yang memalukan dari itu ... kecuali
Surat permintaan!
Sial! Seharusnya aku mendengarkan otakku dan tidak mengikuti kata hati. Seharusnya aku tak perlu memasukan surat permintaan maaf itu ke sana. Bagaimana jika abi yang melihatnya?
"Kamu harus ambil paper bag itu dari abi sekarang!" titahku.
Alis Hamzah berkerut, seolah bertanya, 'kenapa harus saya ambil?'
"Pokoknya kamu harus ambil paper bag itu sekarang dari abi!"
"Saya tidak bisa!"
"Kenapa tidak bisa? Itu paper bag yang saya kasih ke kamu! Kamu harus ambil sekarang!" Nada suaraku tanpa sadar sudah terus meninggi.
Aku hendak meraih tangan Hamzah. Hamzah dengan cepat menepis tanganku agar menjauh darinya. "Ning Vina!" bentak Hamzah.
"Kenapa?!" Aku balas membentak Hamzah. "Saya hanya minta kamu ambil paper bag itu! Apa kamu TULI, hah?!"
"Ning Vina!" Aku terperanjat mendengar suara abi. Abi berdiri di belakang Hamzah, entah sejak kapan—tapi dari ekspresinya, aku tahu abi pasti mendengar umpatanku barusan.
"Abi tak tahu lagi harus berkata apa padamu. Hamzah beberapa kali telah menolongmu, tapi kamu terus saja merendahkannya!"
Abi ... bukan itu maksudku. Aku cuma ingin dia ambil paper bag itu dari abi.
"Kulo tak pernah memintanya menolong kulo," sahutku. "Suruh dia ambil kembali jasanya itu jika tak ikhlas."
"Ning Vina!" seru abi.
Aku tersadar. Aku tak paham pada diriku sendiri, kenapa setiap kali berhadapan dengan abi, selalu saja kata tak beremosi yang keluar dari mulutku.
"Jika saja darah itu bisa ditarik, mungkin Abi akan
mengambilnya kembali dari tubuhmu," sambung abi.
Seketika hatiku terasa sakit. Perih.
"Bukankah itu yang kamu inginkan?" Abi menatapku. Kekecewaan begitu penuh di matanya. Aku tak sanggup menatap mata abi.
"Bahkan sekarang, kamu tak sudi melihat abimu sendiri?" Abi meraih tanganku dan memberikan kembali paper bag itu padaku.
"Jangan rusak dirimu sendiri hanya karena kamu membenci abi. Benci saja abi sampai kamu puas, tapi jangan benci dirimu sendiri. Abi tak bisa melihatmu hancur, nak..."
Abi tolong jangan katakan itu ... suaraku tercekat, hilang. Seketika kenangan buruk di masa depan memenuhi kepalaku. Aku yang hancur dan menghancurkan semua orang.
"A-abi ...." Suaraku terlambat. Abi pergi.
"Puas? Sekarang kamu sudah berhasil membuat Abi semakin membenci saya!"
Aku langsung melemparkan paper bag itu ke arah Hamzah. Isi di dalam paper bag itu berserakan keluar, tepat di kaki Hamzah.
Persetan dengan surat itu, aku tak peduli !
**