Lelah menangis karena kesal dengan kejadian tadi, aku memutuskan untuk keluar kamar dan melipir duduk di bawa pohon yang ada di depan asrama—pohon favoritku.
Pohon B—namaku untuknya, pohon yang jadi saksi bisu saat aku terpuruk— saat umi meninggalkanku. Waktu itu aku menangus semalam di bawa pohon ini. Tanpa ada yang tahu.
Tak banyak santriwati yang suka pohon ini karena terlalu banyak memberi daun kering. Tak banyak juga yang lalu lalang karena di depan hanya jalan buntu.
"Nasib pohon ini sama sepertiku," ujarku tanpa sadar.
Padahal pohon ini memiliki bentuk yang unik, daunnya lebat, bentuknya mirip seperti tanaman hias barongsai versi besar. Semua orang yang melihatnya pertama kali pasti terpukau akan keindahan pohon ini, tapi saat mereka melihat kekurangannya, semuanya menjauh.
Cantik saja tak cukup untuk dianggap berharga.
Pohon dan tempat ini memberikanku ketenangan serta kenyamanan.
"Aku tak mengira akan terus datang ke pohon ini..."
Walau suka pohon ini, aku juga menyimpan kesedihan di sini. Aku selalu berharap tak akan merasa sedih lagi sehingga harus datang ke pohon ini.
Tapi sepertinya ... aku akan sering ke sini ... Perkataan abi tadi bahkan masih mengiang di telingaku.
Jika saja darah itu bisa ditarik, mungkin Abi akan mengambilnya kembali dari tubuhmu.
Perkataan abi bukan saja menusukku, tapi rasanya seperti membunuhku berkali-kali, tanpa darah hanya ada sakit. Rasanya seperti mati, meski tak mati. Anak mana yang tak sedih mendengar kata-kata itu keluar dari orang tuanya? Apa abi sudah sangat membenciku? Rasanya seperti aku tak diinginkan lagi dan lagi.
Tapi aku tak menyalahkan abi. Abi tak salah, jika aku diposisi abi dan punya anak sepertiku, mungkin sikapku akan sama seperti abi, marah, sedih dan kecewa.
Umi pergi begitu saja. Meninggalkanku. Membuatku membenci dunia.
Sekarang ...
Abi membenciku? Itu artinya ....
Semua orang membenciku. Fakta yang tak bisa aku pungkiri. Rasanya aku tak punya tenaga untuk menangis, meski dadaku terasa penuh dan sesak.
Saat semua orang membenciku, lantas apa yang bisa kutangisi? Bukannya aku yang mendorong mereka semua membenciku? Kemarahanku melahirkan banyak kebencian. Bukannya itu dulu yang aku inginkan? Bukankah aku yang dulu membenci orang?
Apa yang aku rasakan sekarang, hanyalah hasil dari semua yang aku lakukan. Yang bisa aku lakukan sekarang hanya, ya ... memperbaiknya pelan-pelan.
"Tapi enak jadi bintang di langit aja deh ...." gumamku asal saat menatap langit. "Rasanya tenang ... jauh dari semua orang dan tak ada yang membencinya."
Akankah lebih baik jika aku menghilang saja? Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan diriku. Kesedihan ini tak bisa membuatku jadi lemah begini. Bagaimana pun aku telah diberikan kesempatan kedua. Aku tak mungkin menyia-nyiakannya.
.
.
Mengenai kejadian semalam tak hanya, selesai di malam itu saja. Benar dugaanku, kejadiaan semalam menjadi berita yang tersebar ke seluruh pondok.
Ada di setiap kelas, di setiap sudut pesantren. Rasanya tak ada tempat yang luput dari pembahasan mengenaiku.
Berita besarnya: Ning Vina Tak Diakui Sebagai Anak Kyai Ahmad
Citraku makin buruk.
Tentu saja. Semua santri makin memandangku tak suka—meski di depanku, mereka takut dan berusaha untuk tidak menunjukkan kebencian itu. Entah siapa yang menyebarkan berita ini. Aku tak peduli.
Aku sudah terbiasa dibenci semua orang. Jadi apa bedanya? Toh, aku akan tetap seperti ini. Belum banyak yang bisa aku ubah.
"Apa kamu bolos sekolah lagi, Ning?" Hamzah tiba-tiba muncul di hadapanku.
Aku terpaksa berhenti, tak bisa melanjutkan langkah. Meski sudah berusaha memaafkan Hamzah atas peristiwa semalam, tapi kemarahanku muncul lagi saat melihat Hamzah sekarang.
Seharusnya Hamzah jangan muncul di hadapanku dalam waktu dekat—satu pekan, satu bulan, satu tahun, mungkin saat itu kemarahanku sudah benar-benar reda.
Aku spontan memutar bola mata malas, melihat beberapa santriwati yang lewat dan melihat kearahku. Hamzah sangat ini membuat berita terbaru tentangku.
"Bisa minggir dari jalan saya?" ketusku.
"Sekarang waktunya kamu kembali ke kelas. Jam istirahat sudah berakhir," kata Hamzah, kembali menahan langkahku.
"Saya sakit!" Sahutku cepat. "Saya mau ke UKS!"
"Jadi benar kamu sakit?" ulang Hamzah.
Sial, bahkan sakit pun harus dipertanyakan! Apa aku harus pingsan dulu baru dia percaya jika kepalaku rasanya seperti mau meledak!
"Bisa minggir sekarang!" Aku kembali melanjutkan langkahku, tak peduli jika itu mengikis jarakku dan Hamzah. Dia harus minggir sekarang!
"Ning Vina." Hamzah buru-buru melipir, dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. "Di UKS obat pusing habis. Kebetulan saya baru beli obat pusing tadi."
Kebetulan banget .... Aku tanpa sadar menatap Hamzah, penuh curiga. Tapi sepertinya Hamzah tak nyaman, dia jadi salah tingkah, menggaruk pelan tengkuk kepalanya yang entah beneran gatal atau tidak.
"Ini obatnya ..." Hamzah kembali menggerakkan tangannya ke arahku.
Baru aku hendak meraih obat itu, tiba-tiba Hesti datang menghempas obat itu menjauh dari tanganku.
"Si babu selalu saja menggangu Ning Vina," Fafa mencibir.
Karin ikut menimpali. "Iya, gara-gara dia Ning Vina jadi kena masalah semalam. Dasar manusia tak tahu malu."
"Ning Vina mau ke mana? Dari tadi kita nyariin Ning Vina," tanya Hesti.
Kapan mereka berhenti mengusikku? Sungguh aku lelah harus selalu ketempelan mereka!
"Ning Vina mukanya pucat banget. Ning Vina sakit ya?" Karin meraih tanganku, berpura-pura peduli. Aku muak!
"Ning Vina sakit. Dia butuh obat ini!" Bukannya pergi, Hamzah malah bertahan di sini. Apa dia belum puas dihina Hesti dan anteknya ini?
Dasar bodoh!
"Jangan sok peduli pada Ning Vina," seru Hesti. Hesti terlihat sangat marah. Dari dulu Hesti sangat membenci Hamzah, mungkin karena dia tahu Hamzah bisa menjadi batu besar bagi rencanannya menghancurkanku.
"Iya! Anak angkat aja belagu!" tambah Fafa.
"Jika bukan karena dulu Ning Vina nolongi kamu, mungkin kamu sekarang sudah jadi sampah di luar sana. Kamu dan Ning Vina tidak setara dalam apa pun. Kalian sangat berbeda. Ingat itu!" ujar Hesti—tidak seperti Karin dan Fafa yang penuh nada kebencian, Hesti justru mengatakan kalimat itu dengan nada datar, tapi penuh penekanan di setiap kata.
Seolah terus menekankan Hamzah agar menjauh atau lenyap dari kehidupanku.
"Saya tidak bermaksud apa-apa. Saya memberikan obat ini dan permintaan maaf," sahut Hamzah.
Aku salut pada ketegasan Hamzah, dia sama sekali tidak terlihat terintimidasi dengan perkataan Hesti barusan. Dia terlihat tenang, dewasa dan ... tampan.
Zayn dan Hamzah benar-benar bagai langit dan kerak telor. Hamzah langit yang indah dan Zayn, kerak telor hangus.
"Obat?" Hesti merampas obat itu dari Zayn. Kemudian membuangnya ke tong sampah.
"Ning Vina pasti gak sudi terima obat dari babu ...." Hesti menoleh ke arahku, meminta reaksiku.
Aku tak menjawab dan memilih diam saja.
Aku memang benci pada Hesti, dan sejujurnya sangat ingin menampar wajahnya sekarang, tapi kali ini aku membiarkan Hesti melakukan itu—membuang obat pemberian Hamzah langsung di depan Hamzah.
Akan lebih baik, jika Hamzah menjauh dariku untuk sekarang ini.
Aku segera pergi dari sana, tanpa menoleh pada Hamzah. Terserah dia mau menganggapku apa.
Aku tak peduli!
Aku harap ....
Hamzah menjauh dariku?