Aku segera menyekat keringat yang mengucur di pelipis wajahku. Seluruh tubuhku rasanya dipenuhi keringat lengket yang membuat tubuhku terasa gatal dan tak nyaman. Keringat ini bukan karena cuaca yang terlalu panas, atau karena kipas tak menyala, melainkan lagi-lagi mimpi itu datang lagi.
Mimpi ditinggalkan.
"Bahkan setelah kembali ke masa lalu, ketakutan itu belum juga reda," gumamku miris.
Aku pikir setelah menjadi Vina dewasa dan kembali ke Vina berusia 16 tahun, semua ketakutan itu akan menghilang atau setidaknya mereda, tapi nyatanya tidak.
Ketakutan itu masih tetap sama. Masih terus menghantuiku. Entah akan sampai kapan aku dihantui mimpi mengenai kepergian umi.n
Dalam mimpiku, aku selalu melihat wanita berjilbab panjang, wajahnya tak terlihat jelas, tapi senyumnya persis senyum umi yang pernah aku lihat.
Wanita itu memiliki sentuhan yang hangat, ia membelai lembut kepalaku sembari berkata, "Putri cantik umi ..." berulang-ulang kali, hingga membuat wajahku tersipu. Saat aku hendak memeluknya, wanita itu berdiri lalu berjalan cepat—tanpa sedikit pun menoleh, meninggalkanku yang menangis histeris di belakangnya.
Begitu terbangun, kondisiku akan dipenuhi keringat seolah aku baru saja lari maraton dan mata sembab. Namun, kali ini mataku tak sembab. Malam ini setidaknya aku tak menangis.
Jam baru menunjukkan pukul tiga dini hari. Dari arah luar, suara lantunan ngaji berirama sendu terdengar sayup-sayup dari speker masjid pondok yang secara otomatis menyala di waktu tahajud.
Biasanya di jam ini beberapa santri secara masing-masing ke masjid untuk melaksanakan salat tahajud. Pihak pondok tak mewajibkan, tapi beberapa santri suka melakukannya.
Aku tahu? Ya, karena dulu meski tak berminat melaksanakan salat tahajud, aku sering terbangun di malam hari dan melihat beberapa santri berjalan dengan mata ngantuk menunjuk ke masjid, langkah mereka tertatih, tapi niat mereka sangat besar.
Kalau ngantuk tidurlah ngapain sok rajin salat malam segala. Gak wajib juga— cercaku dulu.
Aku tak pernah menduga bahwa apa yang dulu aku cercah sekarang ingin aku lakukan.
"Kata Abi, salat tahajud bisa bikin tenang ..." Aku bergegas turun dari ranjang.
Dengan langkah penuh pertimbangan, sepelan mungkin, sangat pelan agar sauara decitan ranjang tak mengganggu siapa pun. Setahuku ada satu anak kamar yang sangat peka dengan suara, dia akan terbangun meski suara itu amat sangat kecil.
"Pelan-pelan ...." Entah kenapa aku mulai merapel kata-kata itu, untuk penyemangat mungkin.
Begitu aku keluar kamar, hawa dingin dini hari langsung menerpaku, berpadu dengan aroma tanah yang menenangkan. Untuk sesaat aku terlena dengan ketenangan ini, menuntun langkahku menjadi sangat ringan menuju masjid.
"Cuma di jam segini kita bisa merasa nyaman dan tenang keliling pesantren ...."
Aku sungguh tak sengaja mencuri dengar obrolan dua santri yang berpapasan denganku. Wajah keduanya terlihat segar, mungkin bekas air wuduh, sepertinya mereka sudah selesai salat tahajud dan hendak kembali ke kamar.
Meski tak kenal kedua santriwati itu, tapi aku sering melihat wajah mereka. Sepertinya kita satu kelas. Namun, aku tak berani menyapa mereka—reputasiku buruk. Jadi aku buru-buru menyingkap ujung jilbabku agar menutupi setengah wajahku. Keduanya sebenarnya tak tak terlalu memperhatikanku.
"Iya benar banget. Satu-satunya waktu kita bisa bebas dari ketidaknyaman Ning Vina dan kronco-kronconya itu!"
Namaku disebut. Langkahku spontan memelan.
"Bener banget, tak ada sejarahnya Ning Vina datang ke masjid di jam segini. Mereka kuatnya party doang, kalau salat mana tahan. Takut setannya ikut kebakar kali ya."
"Bisa aja."
"Lagi kulo heran banget sama Ning satu itu. Anak Kiyai besar, tapi kelakukan kayak setan. Gak heran kalau ibunya pergi ninggalin dia. Orang mana yang mau punya anak kelakukan kayak setan gitu."
"Eh, astagfirullah ... bukan setan–"
"Tapi ... dajal."
Keduanya tertawa. Aku buru-buru mempercepat langkahku meninggalkan keduanya yang juga terus berjalan. Aku sudah terbiasa dengan cibiran semacam itu. Seharusnya aku tak perlu sedih. Itu bukan apa-apa. Buat apa sedih? Tapi aku sedih.
Apa itu aneh?
"Untuk tidak ada orang sekarang." Aku tersenyum puas saat melihat shaf wanita sepi, tak ada orang—hanya aku yang sekarang bisa salat dengan tenang.
Seperempat jam berlalu begitu saja. Entah sudah berapa rakaat salat tahajud kulaksanakan, rasanya aku tak ingin berhenti. Tubuhku terasa lelah, tapi hatiku ingin lagi dan lagi.
"Sungguh aku tak ingin ketenangan ini berlalu begitu saja," lirihku. Lututku terasa nyeri, tapi hatiku tak ingin berhenti.
Jam terus berdeting. Semakin lama semakin aku tak ingin berhenti. Dua jam terasa dua detik. Beberapa santri kembali banyak berdatangan ke masjid. Setiap selesai salat, aku selalu menutupi wajahku agar tak terlihat santriwati yang lain.
Sampai kiamat pun, Ning Vina mana mau salat tahajud. Dia cuma kuat party sampai subuh aja!
Perkataan itu menusukku, tapi pernah benar pada waktunya. Dulu, aku memang tak sudi menginjakan kaki ke masjid, bagiku masjid itu tempat yang membuat aku semakin rapuh, semakin terus teringat akan umi yang janjinya hanya ke masjid, tapi tak pernah kembali.
Aku menutupi wajahku, untuk menjaga kenyaman santri yang lain—mereka jelas tidak percaya akan perubahanku, dan jika melihatku di masjid dini hari, mungkin mereka akan berpikir bahwa aku sedang mempersiapkan trik jahat untuk mereka.
Tapi, saat sedang berdizikir .... lagi-lagi percakapan tiga orang santriwati yang tepat duduk di sebelahku mengundang telingaku secara paksa.
"Ning Vina udah sering banget bikin Kiyai Ahmad sedih, tapi kenapa gak diusir aja ya?"
"Bagaimana pun, dia anak Kiyai Ahmad. Mana mungkin diusir. Ini rumahnya."
"Cih! Kalau tahu ada Ning model gitu di pondok ini, kulo dari awal ogah masuk pondok ini."
"Tapi, kalau kamu gak masuk pondok ini, mana bisa kamu ketemu kita dan seru-seru bareng kita, ngejer akhirat bareng-bareng."
"Iya juga ya ... satu-satunya hal yang bikin gak nyaman di sini cuma si Ning-Ning yang sok berkuasa itu."
"Bener banget!" timpal dua santri kompak. "Mana kita sekamar lagi sama dia. Nyebelin banget! Kamar jadi gak bisa jadi markas buat kita ngumpul lagi."
Ternyata mereka teman sekamarku—mereka selalu menghindariku, lebih buruk dari tawon yang menghindari air.
"Untung masih ada masjid ini. Kita bisa ngobrol nyaman di sini."
"Yap! Senang banget gak ada Ning Vina di sini ...."
Jujur saja semua yang mereka katakan sangat menyakitkan, tapi mendengar mereka bersorak gembira hanya karena dugaan mereka yang melebeliku tak mungkin ke masjid dini hari—mendadak aku sangat malu. Rasa marahku tertutup perasaan malu yang membuatku ingin cepat-cepat peegi dari masjid.
Aku sudah cukup membuat mereka tak nyaman di kamar, aku tak mau mereka jadi malas ke masjid karena tak nyaman akan keberadaanku.
Aku langsung menutupi wajahku dengan mukena begitu bangkit untuk pergi. Namun, karena terlalu terburu-buru ingin pergi, aku tak menyadari ada santriwati yang berjalan ke arahku.
Mukenaku tersingkap. Bertepatan dengan itu, ketiga santriwati itu spontan menoleh ke arahku. Mata mereka tidak berkedip melihatku, dua detik berikutnya tangan mereka gemetar.
"N–ning Vina ...."
"Eh, gak perlu .... kulo cuma—"
Mereka tiba-tiba bersimpu di kakiku. Aku kaget. Bingung dan panik berusaha meraih tubuh mereka agar segera bangkit, tapi tubuh mereka bergetar—sangking takutnya.
Mereka tak mengindahkan perkataanku dan terus mengucap kalimat minta maaf berulang-ulang kali. Keributan itu seketika membela heningnya malam di masjid.
"Diamlah! Kenapa kalian terus mengatakan kalimat itu berulang kali!"
"Lepaskan kaki saya! Biarkan saya pergi!"
"Lepas!"
Bruk!
"Maaf—" Aku hanya ingin kabur, tapi mereka menahan kakiku. Aku benar-benar tak sengaja nepis lengannya dan membuatnya tersungkur. Namun, tatapan semua orang seolah mengatakan aku adalah monster jahat yang sengaja melakukan itu.
Ada Hamzah, suara ngaji yang sayup-sayup terdengar mendadak berhenti. Hamzah terlihat dari kain shaf pembatas santri dan santriwati.
Tentunya bukan untuk membelaku. Dia diam saja, tapi tatapannya terasa menghakimiku.
Bukankah mereka melihat sendiri? Tapi kenapa mereka melihatku seperti itu? Tatapan mereka rasanya lebih menyakitkan dari tamparan Nyai Siti.
Tak ada yang perlu aku jelaskan! Toh, mereka tetap tidak akan mempercayaiku.
Apalagi Hamzah!
Aku buru-buru pergi dari masjid, tentunya aku tak ingin keberadaanku di sana membuat orang tak nyaman.
"Menjadi orang baik ternyata sesusah itu." Entah sudah berapa kali aku mengatakannya. Kalimat itu sekarang seperti kata wajib yang keluar dari mulutku setiap kali menghadapi situasi tak menguntungkan ini.
"Padahal saya hanya ingin pergi. Kenapa jarus ada drama seperti ini?"
Semua drama ini membuat kepalaku nyeri—nyeri lanjutan sisa tadi pagi. Makin parah.
Aku nyaris limbung tepat di dekat tong sampah—tong sampah yang sama tempat Hesti membuang obat Hamzah tadi pagi. Obat yang Hesti buang tadi pagi masih ada di sana. Tanpa pikir panjang, aku buru-buru mengambil obat itu, berharap rasa pusing ini segera menghilang.
Baru hendak minum, tiba-tiba suara berat menggagetkanku.
"Siapa kamu?"
Aku menoleh, Hamzah berdiri di belakangku. Ia menatapku aneh. Apa dia melihat aku mengambil obat dari sampah dan berpikir aku aneh?
Aku malu, panik dan kaget bersatu, mulutku jadi seketika tergagap.
Hamzah kembali bertanya, "apa benar kamu ... Vina yang saya kenal?"
Siapa kamu? Vina yang saya kenal? Apa yang Hamzah maksud? Apa jangan-jangan Hamzah ...