“Bi, kulo mau bebasin Zayn dari penjara.”
Sudah kuduga, kalimatku barusan akan menimbulkan tatapan kecewa abi dan tatapan tak percaya Hamzah.
Ruangan yang sebelumnya hening, makin hening. Abi termenung. Hamzah terteguh dan aku tak tahu harus melakukan apa. Semua orang terdiam dengan pikirannya masing-masing.
“Kenapa kamu ingin melakukan itu?” Suara Abi yang biasanya berwibawa dan tegas, kali ini terdengar sedikit goyah. Dari suaranya bisa kurasakan, Abi masih berharap pernyataanku dua menit yang lalu hanya bualan semata.
Namun, aku tak punya pilihan. Keputusan untuk mengeluarkan Zayn dari penjara adalah keputusan terbaik yang kupunya.
“Iya, Bi,” jawabku jelas. “Abi tak perlu cemas. Kulo ke sini bukan untuk menyusahkan abi atau pun orang pondok. Kulo hanya ingin memberitahu abi mengenai keputusan kulo hari ini.”
Tak ada jawaban.
Sorot mata harapan itu seketika meredup dari wajah Abi.
Aku tak kuasa jika harus melihat pemandangan ini lebih lama. Ingin rasanya aku memeluk abi, menghapus sorot sedih itu dari wajahnya yang terlihat sangat lelah.
Bi, maafkan Vina…
Maaf karena selalu membuat Abi kecewa….
Segera kutelan tangisku secepat mungkin. “Hari ini kulo akan ke kota naik bis,” ujarku.
Aku segera berbalik.
“Biarkan Hamzah dan beberapa santriwati ndalem ikut bersamamu.”
Langkahku terhenti.
“Tak perlu,” sahutku. Sial! Kenapa suaraku terdengar goyah, untungnya abi dan Hamzah tak menyadari itu.
Aku harus pergi sekarang!
“Vina… sebenci apapun kamu dengan Abi. Kamu tetap anak Abi dan ini tugas Abi menjagamu.”
Sial!
Air mataku luruh. Beruntung aku membelaking abi dan Hamzah. Aku tak sanggup untuk mengeluarkan suara lagi. Jika aku bersuara sekarang, aku sangat yakin Abi dan Hamzah akan menyadarinya.
Tanpa menjawab, aku buru-buru melenggang pergi dari ruangan itu.
“Apa kesalahan Abi? Kenapa kamu selalu berusaha membuat Abi kecewa?”
Perkataan tajam Hamzah barusan benar-benar menusuk hatiku. Rasanya aku ingin melompat dan menjambak rambut hitamnya yang tertutup peci.
Aku mendengus, mencoba meredam emosi.
“Ning Vina! Pikirkan kembali keputusanmu sekarang. Keputusanmu ini pasti sangat membuat Abi kecewa,” ujar Hamzah lagi.
“Tugasmu di sini hanya menemani saya, tak perlu berusaha menjadi penasihat,” ujarku sinis.
“Saya hanya—”
“Jika kamu ingin menyelesaikan tugasmu dengan baik, tutup mulutmu dengan rapat. Jika kamu mengeluarkan satu kata lagi, saya tak akan membiarkanmu menjalankan tugas ini.”
“Dan itu tentunya akan membuat Abi kecewa padamu juga,” pungkasku sukses membuat Hamzah kehilangan kata-kata.
.
.
Misiku telah terpenuhi. Zayn berhasil bebas dari penjara.
Drama ini akan segera dimulai….
“Sial, uang tabunganku jadi habis buat menjamin manusia tak berguna itu!” umpatku tak tertahan.
Jika tidak demi drama ini berjalan dengan mulus, aku tak akan sudi mengeluarkan uang 100 perak pun untuk manusia ular itu!
Bukan hanya uang tabunganku yang terkuras, sialnya aku juga harus mendengar perkataan menjijikan dari Zayn
“Ketampanan saya memang sangat memabukkan banyak wanita. Tak heran jika banyak wanita yang rela melakukan apapun untuk saya.”
Sial!
Rasanya saat itu aku ingin muntah di depan wajahnya. Tanganku rasanya gatal, ingin menampar wajahnya bolak-balik dan menginjak kakinya dengan sangat keras!
“Ning Vina….”
Aku menoleh dan mendapati Hesti, Karin dan Fafa berlari ke arahku.
“Ck! Kenapa hari ini sangat melelahkan.” Aku berusaha menahan wajah kesalku agar tak terlalu kelihatan kalau aku ingin mencakar wajah munafik mereka.
“Dari mana saja Ning Vina? Kita dari tadi nyariin” ujar Karin begitu mereka sampai di hadapanku.
Hesti mengangguk, mencoba menyakinkan. Aku benci senyum pura-pura baiknya itu.
“Iya, benar. Sejak tadi kita kelelahan mencari Ning,” katanya.
“Apa kalian merindukan saya?”
“Tentu saja!” jawab ketiganya kompak.
“Tanpa Ning, kita jadi tak bisa melakukan apapun,” tambah Karin polos. Hesti dengan cepat langsung menyenggol lengan Karin agar segera menutup mulutnya.
Sial!
Dari awal mereka memang hanya memanfaatkanku. Herannya, kenapa dulu mataku sama sekali tidak bisa melihat wajah asli mereka.
Dulu aku terlalu naif.
“Ning, saya dengar, hari ini Ning Vina membantu Zayn keluar dari penjara. Itu benar, kan?” Hesti mencoba mengganti topik pembicaraan.
“Cinta Ning Vina pada Zayn memang tidak perlu diragukan lagi!” Fafa memotong.
Karin mengangguk-ngangguk setuju.
“Jelas pasti Ning Vina melakukan itu karena sangat mencintai Zayn!”
“Zayn sangat beruntung mendapatkan cinta Ning Vina,” Hesti menambahkan.
Aku mendengus. Andai saja mereka bisa mendengar suara hatiku, mereka pasti akan kaget atau nyaris jantungan sampai mati, mengetahui kenyataan kenapa aku sangat berambisi membebaskan Zayn.
Cinta!
Cihh….
Perasaan itu terlalu suci untuk manusia kotor sepertinya. Dia bahkan tak layak untuk dibenci!
“Ning Vina…” Suara Hesti menarikku dari lamunan. “Ning Vina, maafkan kita kemarin yang sempat meragukan Ning Vina…”
“Iya, saat tahu Ning Vina melaporkan Zayn ke polisi, kita kira kalau Ning Vina bukan lagi Ning Vina yang kita kenal,” Fafa menambahkan.
Sejujurnya, aku benar-benar mual sekarang. Suara mereka penyebab utamanya. Setelah mendengar suara asli mereka yang penuh dengan kebusukan, nada lembut seperti ini terdengar sangat menyebalkan.
“Kita bingung harus melakukan apa,” lirih Karin.
Tingkat menipu mereka memang di atas rata-rata. Sekarang aku tak heran kenapa di masa lalu aku bisa tertipu oleh mereka.
“Ning Vina mau memaafkan kita, kan?” Hesti si ratu drama mulai mengeluarkan ekspresi sok lugunya itu.
“Tentu!”
“Ning Vina sangat murah hati!” ujar Karin.
“Mulai sekarang, kita berjanji tidak akan pernah mempertanyakan keputusan Ning Vina,” Hesti menambahkan.
Itulah yang aku inginkan!
“Ya, saya berjanji.” Karin dan Fafa menimpali.
“Itu terdengar bagus. Saya harap kalian tidak akan menyesali janji itu,” ujarku pelan, nyaris seperti bisikan pelan yang membuat ketiganya seketika menatapku bingung.
“Maksud Ning?”
Aku segera menarik ujung bibirku, berharap itu terlihat seperti senyum, tapi sepertinya garis itu lebih mirip dikatakan sebagai seringaian.
“Karena kita sempat terlepas. Ada baiknya kita memperjelas hubungan kita. Harus kita sebut apa hubungan ini?”
“Sahabat,” jawab Karin polos.
Hesti langsung menyikut keras lengan Karin, tak lagi sabar akan akan kebodohan Karin. “Jelas kita tak pantas berada sejajar dengan Ning Vina. Hubungan kita itu seperti…”
“Majikan dan babu,” potongku.
Hesti terdiam sesaat. Ia menatapku. Dapat aku lihat sorot matanya tidak terima dengan istilah itu. Namun, sifat munafiknya segera mengambil alih. Dia tersenyum lalu mengangguk pelan.
“Ya, benar. Kita akan selalu siap melayani Ning Vina,” katanya. “Kita siap menjadi pelayan setia Ning Vina.”
Spontan aku tersenyum. Maka akan aku beri hadiah terbaik untuk kalian sebagai majikan yang baik hati…