HAPPY ENDING

1119 Kata
“Simpelnya hidup itu adalah kumpulan dari pilihan-pilihan kecil yang kita ambil. Hendaknya kita memilih berlandaskan pada Iman dan Taqwa. Pilihan yang membuatmu baik di mata Rabb-Mu.” “Gimana caranya?” “Maka hal yang pertama yang perlu kita latih adalah hati kita. Latih hati untuk selalu peka akan kebaikan dan menjauhi hal yang buruk. Latih hati untuk selalu husnudzon akan takdir yang Allah tetapkan.” “Dengan begitu setiap puzzle yang dipilih tidak hanya membawa kebaikan di dunia, tapi juga bekal di akhirat.” “Meninggal dengan khusnul khotima sebagai happy ending yang sesungguhnya.” Happy ending. Tanpa sadar aku tersenyum. Air mata masih belum kering, tapi rasa hangat mendadak membuatku ingin tersenyum makin lebar. Ceramah dari toa masjid entah kenapa sampai di kamarku yang letaknya paling ujung. Sangat jelas, hingga aku merasa suara Hamzah berada tepat di sebelah telingaku. “Ya Rabb… apa yang ingin kau sampaikan pada hamba?” lirihku. Rasa sesak di dadaku belum sepenuhnya hilang, tapi anehnya aku merasa sangat lega, seolah semua udara berkumpul di hidungku. “Ya Rabb… hamba akan wujudkan happy ending itu. Tolong beri hamba kemudahan dalam meniti jalanmu. Hamba ingin kembali. Hamba ingin bertaubat.” Malam itu menjadi malam terpanjang dan sangat berarti bagiku. Aku seolah menemukan diriku dalam versi lain. Menemukan semangat hidup yang berbeda dari sebelumnya. Aku tak lagi berpikir hidup hanya untuk sekedar menjalani hidup dengan bahagia. Namun, aku ingin hidup dengan penuh arti, tak peduli seberapa lama aku akan ada dan tetap bernafas. Kualitas hidup. Aku berharap perjuangan ini tak akan berat. “Sudah dengar kabar? Ning Vina yang selama ini sombong dan selalu suka menindas kita, akhirnya dapat hukuman juga. Dia diusir dari rumahnya sendiri.” “Dia pantas mendapatkan itu. Orang jahat tak perlu dikasihani.” “Iya, terkadang kulo kasian sama kyai harus ketempelan anak sejahat Ning Vina.” “Iya, mungkin itu ujian buat kyai.” Dan… aku salah. Sejak kapan ada perjuangan tanpa kesulitan? Untuk sekedar memperbaiki citra saja aku butuh tenaga ekstra. Setiap aku mendekat, mereka menjauh takut-takut. Mereka tersenyum menjawab pertanyaanku, tapi mata mereka bergerak was-was. Mereka ketakutan. Aku jadi tak tega. Setelah seharian mencoba menjadi Ning Vina dalam versi yang baru, aku memutuskan untuk berhenti sejenak. Mungkin benar, aku tak bisa langsung masuk dan memperlihatkan perubahanku pada mereka, mereka pasti akan kaget dan mungkin berpikir ini salah satu trik untuk membully mereka. Pantas saja, saat manusia ingin bertaubat, Allah tidak memberi syarat untuk harus terlihat baik di mata manusia. Sebab kalau itu jadi syarat, tentu akan sangat lama dan terasa sangat-sangat berat. “Manusia lebih mudah ingat satu keburukan ketimbang sepuluh ribu kebaikan,” dengusku tanpa sadar saat melihat beberapa santri nampak kaget melihatku duduk di bawa pohon, sedikit bersembunyi. Aku berusaha menghindari Hesti, Karin dan Fafa yang sejak tadi sibuk mencariku. “Dikira aing hantu, kah?” kesalku. Seingatku, aku ini terbilang wanita paling cantik di pondok. Bukan bermaksud peres, tapi ini faktanya. Meski asli keturunan Jawa totok, orang-orang sering mengira aku blasteran Arab-Eropa, karena bentuk wajahku yang tegas dengan hidung mancung kecil, alis tebal rapi, mata belo sayup dengan bulu mata yang lumayan lebat. Ada lesung pipit juga di kedua pipiku. Dipermanis dengan sentuhan tahi lalat di ujung mata kanan dan ujung sudut atas bibir. Jika dulu aku sering tersenyum, sudah bisa kupastikan semua pria yang melihatku akan langsung terpikat. Aku sangat cantik. Kalimat itu sering bunda katakan. Itu kalimat terakhir yang aku ingat sebelum bunda tiba-tiba pergi meninggalkanku. Setiap kali ada yang mengucapkan kata itu, setiap itu pula hatiku terasa sakit. Ada rasa rindu, marah dan frustasi di benakku. Kenapa bunda meninggalkanku? Jika aku sangat cantik, kenapa bunda tidak menginginkanku? Kenapa bunda pergi? Apa aku tak cukup layak untuk jadi pertimbangan bunda? Aku sangat benci kalimat itu. Aku benci setiap kali orang melihat wajahku dan basa basi memujiku. Aku benci harus terus mengingat bunda dan merasa merana. Namun, sekarang… Semua terasa sedikit berbeda. Luka itu masih sama sakitnya, tapi aku tak lagi berusaha menghindarinya. Ternyata itu jauh lebih melegakan. Aku tak lagi takut akan rasa sakit itu. Aku juga baru sadar jika terus bersembunyi dari rasa takut, hanya membuat rasa takut itu semakin membesar. “Itu jauh lebih menyiksaku dua kali lipat lebih besar dari yang seharusnya aku rasakan.” Aku perlahan berusaha tersenyum saat sisa kenangan manis dan pahit tentang bunda samar-samar bermunculan di benakku. “Apa bunda merindukanku?” lirihku pelan nyaris bersamaan dengan buah jambu busuk yang jatuh dari pohon. Tidak mengenaiku. Tergelinding tepat di sebelah tanganku. “Pohon, apa kau berusaha menghiburku? Jika iya, seharusnya jatuhkan buah jambu yang manis bukan busuk seperti ini,” gumamku lalu melempar jambu ke sembarang arah. “Ini hanya membuatku makin sedih!” “Awww!” Aku terkesiap mendengar suara kelu begitu jambu itu mendarat. Jambu busuk itu mengenai Karin. Tepat di depan wajahnya. Secara naluri, aku buru-buru bersembunyi, meski tak takut sedikitpun dengan Karin. “Lagian ngapain coba tiba-tiba muncul di sana,” desisku malas. Karin nampak sangat marah, ia berteriak kencang kepada semua santri yang lewat di hadapannya. Sekilas ia terlihat seperti orang kesurupan, dengan wajah belepotan jambu busuk dan mata merah menyala. “Siapa yang lempar jambu busuk ini!” pekiknya dengan suara nyaring, meneriaki beberapa santri yang diam-diam menahan tawa melihat kondisinya yang sangat memprihatinkan. “Mengaku sekarang!” teriak Karin mulai frustrasi dan malu. Selang tiga detik, Hesti dan Fafa datang menghampiri. Mereka nyaris ikut tertawa melihat wajah belepotan Karin. Namun, sebisa mungkin untuk terlihat menyeramkan. “Siapa yang lempar buah busuk ini?” Fafa ikut-ikutan berteriak, mencoba mengintimidasi. “Mengaku sekarang! Kenapa peristiwa ini terasa tidak asing? Aku tertegun sesaat. Jika benar dugaanku, maka setelah kalimat itu seharusnya ada kalimat… “Kalau gak ada yang ngaku, kita bakal liat CCTV! Dan pelakunya gak akan pernah hidup tenang setelah ini…” “Astagfirullah!” Aku spontan menutup mulutku yang bergerak pas dengan kalimat yang Karin ucapkan. Kalimat itu.. Kalimat yang aku ucapkan di masa lalu. Saat aku terkena lemparan buah busuk, di tempat dan posisi yang sama. “Peristiwa itu seharusnya aku yang mengalami, tapi sekarang….” Aku terkesiap. “Karin yang mengalaminya…” “Apa itu artinya…” Seketika senyum muncul di wajahku. Buru-buru aku kembali ke kamar untuk merenungkan semua pola yang mulai aku pahami. Peristiwa masa lalu harus terjadi dan tidak bisa diubah. Itu poin pertama yang harus aku ingat. “Kalau aku berusaha mengubah peristiwa masa lalu yang akan terjadi aku dapat konsekuensi berupa kejadian buruk sebagai pengantinya dan hidungku yang tiba-tiba mimisan.” Namun, kabar baiknya peristiwa masa lalu bisa aku lempar sebagai gantinya. Berbekalkan ingatan akan masa depan, aku bisa memperbaiki hidupku sekarang. “Ya Rabb… makasih…” “Sekarang aku siap. Fafa, Karin, Hesti, Zayn... kalian tak akan lepas dariku!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN