Langkahku terseok menuju asrama putri. Jarak menuju asrama yang biasanya hanya terasa 50 langkah, kini terasa seperti jalan tak berujung.
Semua orang berlalu lalang sangat cepat, meninggalkanku sendiri dengan pikiran penuh. Sesekali mereka menoleh ke arahku, hanya sekedar kaget begitu melihat tas besar di kedua tanganku. Hanya tas besar ini satu-satunya yang berada di sisiku sekarang, sebagai teman dan saksi bisu bahwa aku telah diusir keluar dari rumahku sendiri.
Aku terus berusaha berjalan, meski setiap langkah rasanya aku ingin berhenti. Sangat ingin rasanya aku berteriak keras menumpahkan semua yang ada di kepalaku sekarang!
Apa gunanya aku kembali ke masa lalu jika semua yang terjadi tidak dapat aku ubah? Apa Tuhan hanya ingin aku melihat lukaku untuk kedua kalinya seperti orang bodoh, tanpa bisa melakukan apa pun?
“Ya Rabb….” Suara lirih itu akhirnya berhasil keluar dari mulutku yang gemetar menahan tangis. Mataku mulai memerah pedih. Setetes air mata jatuh begitu saja di pipiku. Dadaku sesak! Penuh! Pedih!
Tes!
Tes!
Tes!
Sesuatu terasa mengalir dari rongga hidungku. Sakit. Aku segera mengusap pelan hidungku. Cepat.
“Darah!” Aku tertegun. Langkahku membeku.
“Afwan, Ning.”
Beberapa santri tiba-tiba menghampiriku. Mereka takut-takut. Reputasi burukku telah membuat mereka tak berani hanya untuk sekedar menatap mataku. Mereka terus saling dorong, memaksa satu sama lain untuk berbicara denganku.
Mendadak pandanganku buram. Aku sedikit kehilangan keseimbangan tubuhku. Beratnya tas menjadi penolong tak terduga.
“Hidung… hidung Ning berdarah,” ucap mereka nyaris bersamaan. Sangat cepat. Takut-takut.
Hidungku berdarah…
Kalimat itu lewat begitu saja. Pikiranku melayang tak tahu kemana. Kalimat tadi hanya terasa seperti kalimat kosong tanpa makna. Aku hanya tertegun menatap mereka yang buru-buru pamit pergi.
Sebelumnya, aku tak punya riwayat mimisan sama sekali, tak juga ada bawaan genetik semacam ini.
Ini baru terjadi untuk pertama kalinya bagiku.
Apa ini efek dari mengubah masa lalu?
***
“Ning Vina….” Suara seseorang samar-samar memasuki telingaku. Tapi aku terlalu enggan untuk menoleh hanya untuk menatap wajah ketakutan mereka.
Sudah dua hari aku berdiam diri di kamar asrama, yang kulihat hanya mereka yang berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dariku. Jika mata kami tak sengaja bertemu, mereka buru-buru menghempas pandang, panik dan segera pergi.
Tak ada kumpul-kumpul di kamar lagi. Kamar selalu sepi setelah keberadanku. Ada 6 orang dalam satu kamar. Aku mendapatkan kasur di atas. Dua kasur atas di sebelahku kosong.
Hesti, Karin dan Fafa tak terlihat. Kabar tentangku yang diusir tentu saja sudah sampai di telinga mereka, tapi seperti dugaku, mereka tak peduli. Mereka terlalu sibuk membakar kabar itu agar semakin membesar. Kuyakini mereka tengah tertawa sekarang.
“Ning Vina, Ustadzah meminta Ning buat makan bersama. Sudah dua hari Ning Vina tak makan apa-apa,” sambung suara yang tadi menyapaku. Aku menggangguk pelan agar dia segera menyelesaikan tugas yang dibebankan untuknya.
“Kalau gitu, saya pamit ya Ning….” katanya—entah siapa namanya, tak ada sesi basa-basi yang biasanya anak baru dapatkan saat masuk ke kamar. Ia buru-buru pergi secepat yang dia bisa.
Apa dia kira jika telat satu detik, aku akan menjadi monster dan memakannya?
Aku menghela nafas panjang. Mencoba mengusik pertanyaan menyakitkan itu dari benakku. Tak ada teman. Apa itu takdirku?
“Giliran punya teman, lebih buruk dari jelmaan ular. Menyebalkan,” dengusku saat teringat Hesti, Karin dan Fafa.
Kamar kembali hening. Lagi-lagi hanya aku seorang diri di kamar. Berteman sepi. Berteman rasa takut akan masa lalu yang terus muncul di pelupuk mata.
Rasa sakit dikhianati, penyiksaan itu dan rasa takut. Semua itu kini jadi teman setiaku sekarang. Tak ada telinga yang bersedia menjadi pendengarku. Aku hanya seorang diri. Menelannya bulat-bulat.
Fakta yang berusaha aku lupakan, sayangnya aku tak bisa melupakan fakta itu barang sedetik saja. Bahkan perutku juga tak lagi banyak menuntut, mereka seolah bungkam mendengarkan teriakan kesakitan dari otakku yang tak pernah berhenti merintih.
“Ning Vina…” Kali ini suara perempuan dewasa menyapa telingaku. Tanpa menoleh, bisa kupastikan salah satu ustadzah pengawas berwajah tegang yang datang, siap memborbadirku seribu pertanyaan sengit.
“Ning Vina, kenapa tidak ke masjid?” tanyanya sebagai pengawalan.
Aku menghela napas panjang terlebih dahulu, berusaha menjaga agar nada bicaraku terdengar santai dan tak seperti santri bandel pada umumnya. Aku ingin berubah.
Afwan, saya sakit ustadzah. Saya juga sudah izin dan saya sedang haid sekarang.
“Saya haid.” Sial! Kenapa yang keluar hanya kata-kata ketus itu. Tak ada sapaan atau penjelasan lembut.
“Dan kenapa kamu tidak piket?”
Afwan ustadzah, apa boleh piket haru ini diganti santri lain? Setelah sehat, saya akan mengganti jadwal piket santri tersebut...
“Apa saat haid, kamu mendadak tidak bisa melakukan apa pun?” Kali ini nada suara ustadzah terdengar geram. “Jangan terbiasa untuk terus menggelak dari tanggung jawabmu!”
Sepertinya aku terlalu lama berpikir.
“Saya sakit,” jawabku pelan.
“Sakit?”
Sejujurnya aku benci nada meragukan itu. Memangnya aku sering berbohong? Kapan aku berbohong? Hem, ya.. aku pernah berbohong, sekali, hem, dua, atau tiga.. dan itu masa lalu, tidak sekarang.
“Ustadzah, apa boleh saya istirahat?” Syukurlah akhirnya mulutku bisa berkolaborasi dengan baik.
“Boleh, jika kamu benar-benar sakit dan tidak berbohong seperti pekan kemarin. Kemarin lagi dan kemarin lagi.”
Huft… aku lelah.
Menjelaskan sakit lebih sakit dari pada sakit itu sendiri.
“Ustadzah ingin saya melakukan apa agar percaya kalau saya kali ini benar-benar sakit?” ujarku pelan menoleh ke arah ustadzah pengawas yang menatapku sengit.
“Jika ustadzah lupa, saya ingatkan lagi, jika saya ini Ning Vina,” pungkasku akhirnya terpaksa menggunakan kalimat itu lagi, kalimat yang sebelumnya sudah berusaha aku kubur untuk tidak akan digunakan lagi setelah kembali ke masa lalu.
Mirisnya, kejujuranku kalah dengan satu kata “Ning”. Mendadak ustadzah pengawas itu terdiam. Kemarahan dimatanya masih terlihat jelas, tapi mulut pedasnya barusan seolah cuma dongeng semata. Ia pergi. Begitu saja.
“Gelar Ning itu tak akan berguna jika saja aku tak berada diantara orang-orang yang terlalu memandang seseorang hanya dari gelarnya.”
Dan mungkin aku tidak akan benar-benar menjelma menjadi setan jahat di pondok. Tak membully, tak melakukan sesuatu seenak jidat… dan tak dijadikan boneka Hesti merusak pondok yang telah abi jaga bertahun-tahun.
Tidak ada rasa sakit itu. Masa lalu kelam itu tak akan ada. Andai saja semua orang tak terlalu memanjakanku sebagai Ning.
Sejujurnya gelar Ning membuatku lupa cara berjalan di tanah, aku selalu berpikir bahwa akan ada orang bodoh yang siap mengangkatku. Orang yang selalu haus ngalap berkah dari keturunan kiyai besar seperti abi.
“Ning…” Untuk pertama kalinya aku membenci gelar itu.
“Sekarang apa yang harus aku lakukan? Apa sekarang yang bisa kulakukan hanya menunggu jadwal derita itu?”
“Apa aku harus membiarkan Hesti membuat kerusakan tepat di bawah hidungku?”
Untuk apa keajaiban ini, Tuhan? Rasa tak berdaya ini membuat dadaku terasa sesak, aku tak bisa bernafas dengan normal. Nafasku memburu cepat. Apa sekarang waktunya aku mati? Jika itu benar… aku harap itu benar.
Selamat tinggal …