Santriwati itu berpaling, lagi-lagi tak menjawab. Aku rasa dia serius tak ingin membantuku. "Tak masalah jika tak bisa." Aku berbalik hendak pergi, tapi tiba-tiba santriwati itu menahan lenganku, mengembalikan salep. "Terima kasih obatnya." "Ya, sama-sama." "Saya ingin membantu, tapi tanpa resiko. Apa mungkin?" Aku tertegun sejenak, bukan untuk mencerna kalimatnya, hanya saja aku tak menduga bahwa dia ... santriwati itu mengangguk pelan, membenarkan perkataannya sendiri. "Tapi jangan katakan pada siapa pun jika saya pernah menghardikmu. Saya takut itu melukai perasaan Kyai Ahmad." Aku spontan tersenyum, bukankah ini terdengar lucu? Di saat dia dengan santai menghardiku langsung di depan wajaahku, tapi dia tak ingin abi sedih mendengarnya? "Kamu jaga rahasia saya dan saya
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


