"Maksud Ning?" Aku spontan tertawa, puas rasanya melihat wajah tegang mereka. Rasanya aku ingin melihat ekspresi bingung mereka lebih lama, tapi ... itu terlalu berbahaya. "Kalian juga ikut, kan?" sambungku. "Oh gitu ...." Karin ikut tertawa, lalu disusul Fafa dan Hesti. Bahkan tertawa pun mereka hanya jadikan sebuah formalitas. Tawa mereka berbeda yang aku lihat sekarang berbeda dari tawa mereka tadi, saat hanya bertiga. Entahlah! Sejujurnya aku merasakan perasaan tidak nyaman jika memikirkan hal itu. Hesti lebih buruk dariku di masa lalu, atau setidaknya kita sama-sama buruk. Kita sama-sama menjadikan orang sebagai mainan, tapi Hesti punya orang yang tulus berada di sisinya–Karin dan Fafa, setidaknya mereka berdua tak jahat pada Hesti. Zayn ada di sisinya. Semua orang disisiny

