#Kontes Menulis Innovel II - The Girl Power
Omongan seorang pria itu harus bisa dipegang. Jika menepati janji saja tidak bisa, bagaimana mau menangani urusan lainnya?
***
"Aku bilang aku mau bicara." Randi menyentak pergelangan tangan Resha. Membuat wanita itu yang mulanya membelakangi menjadi berhadapan dengannya. Resha menggerakkan sikunya agar terlepas dari Randi.
"Kapan-kapan saja, ya? Aku ada jadwal ngajar, nggak keburu. Ini aja kalau nggak jalan cepat, bisa telat lho aku masuk kelas."
"Ini penting," ucap Randi meninggikan nada suaranya.
"Iya, penting. Kamu dengar nggak sih tadi aku ngomong kalau aku ada jadwal?" Nada Resha tidak kalah tinggi. Mereka hampir lupa bahwa ada Dika di sana.
Resha menghela napas, mencoba menurunkan emosi. Bicara dengan Randi memang selalu mempermainkan emosinya. "Ya sudah, nanti sore sepulang dari kampus aja kalau mau," ucap Resha akhirnya memberi solusi.
"Ya udah, nanti aku jemput kalian," jawab Randi, mulai melembut. "Papa pergi dulu ya, sayang. Maaf tadi Papa bikin Dika kaget." Randi mengecup pipi kanan dan kiri Dika, sementara bocah itu sama sekali tidak memberikan respon, terlalu kaget sepertinya. Ini pertama kalinya Dika mendengar Randi meninggikan suara pada Resha, sudah lima bulan interaksi yang intens diantara mereka terjalin.
Sesuai titahnya tadi siang, Resha sekarang sedang menunggu dijemput oleh Randi. Sudah hampir satu jam dia menunggu. Sebentar lagi maghrib. Hp pria itu sama sekali tidak bisa dihubungi. Pasrah, Resha mengajak Dika menunaikan shalat maghrib terlebih dahulu. Bahkan setelah tiga puluh menit berlalu, masih tidak ada kabar dari Randi. Dengan kesal Resha memesan taksi online dan berjanji dalam hati tidak akan percaya ucapan pria itu lagi.
Apa yang bisa dinikmati saat kamu berada di dalam kendaraan? Tentu saja memandang keluar seolah pohon bergerak, melihat gedung-gedung yang juga seolah bergerak. Saat berhenti di lampu merah, mata Resha tak sengaja melihat mobil Randi terparkir di salah satu tempat makan ayam goreng dengan lapisan tepung kriuk yang lumayan terkenal di kota Padang. Randi memang pintar memilih meja sehingga Resha bisa melihat jelas kalau pria itu sekarang sedang makan dengan seorang perempuan. Resha tidak tau siapa dan tidak mau tau. Jadi alasan kamu lupa menjemput kami karena ini, batinnya.
Tepat saat lampu hijau menyala, tatapan mereka bersirobok, Randi cukup terkejut. Entah apa yang terjadi setelah itu, tiba-tiba Randi juga sampai tepat saat Resha membuka pintu rumah.
"Maaf. Aku ta.. tadiiii habis dari...."
"Udah, nggak usah dijelasin." Potong Resha cepat.
"Kamu langsung pulang saja, aku dan Dika capek, mau langsung tidur." Pintu bedebum kuat tepat di depan wajah Randi.
Apakah Resha cemburu? Ataukah hanya kesal karena Randi tidak menepati janji? Resha sendiri tidak mengerti. Namun hatinya sekarang tidak baik-baik saja.
Randi menghela napas. Salah sendiri. Jika memang tidak bisa menepati janji, setidaknya mengabari.
"HP kenapa harus habis baterai siiiih," ucapnya sambil menyugar rambut frustrasi.
***
Setelah berselang hari Sabtu dan Minggu, Senin pagi ini Randi ikut sarapan bersama Resha dan Dika. Dia sengaja tidak menampakkan wajah dua hari agar amarah Resha mereda. Dia sekarang sudah tahu bahwa Resha tipe perempuan yang tidak suka meledakkan amarahnya. Dia akan menahan lalu mencoba bicara setelah merasa siap.
Sekarang hanya Resha dan Randi di dalam mobil, Dika sudah turun beberapa menit yang lalu.
"Nanti siang kamu nggak usah jemput Dika, aku udah sewa ojek untuk jemput dia."
Randi bergeming, tetap fokus menyetir. "Aku juga sudah indent mobil di Auto 3000, jadi kamu nggak usah repot-repot antar jemput kami lagi. Aku tahu kamu sibuk." Imbuh Resha.
Randi sempat mengalihkan pandangan sepersekian detik, tapi kembali fokus ke arah depan.
"Oh, ya udah." Cuma begitu responnya. Resha pikir bakal susah membicarakan ini, ternyata semudah itu.
Siangnya, Dika kembali dijemput Randi dari sekolah. Di sini lah mereka sekarang, di kampus.
"Lho, kok kamu yang jemput?"
Randi hanya tersenyum lalu pergi. Resha mengamit Dika menuju ruangannya, segera mengambil HP dan mendial nomor Bapak Ojek yang rencananya akan menjemput Dika tiap hari mulai hari ini.
"Tadi di sekolah Dika saya ketemu suaminya Ibuk. Kata beliau, nggak jadi. Malahan juga dikasih uang sama suaminya Ibuk sebagai permintaan maaf." Jawab Bapak Ojek to the point saat Resha menanyakan kenapa bukan beliau yang menjemput Dika.
Sudahlah. Resha tidak mau memperpanjang masalah. Biarlah, jika memang Randi mau repot. Ternyata masih ada kejutan selanjutnya.
Hari Minggu berikutnya, Resha kembali ke Auto 3000 menanyakan mobil yang dia indent seminggu yang lalu.
"Lho, kata suami Ibu nggak jadi. Mohon maaf, uang DP nya jadi hangus, Bu."
"Kapan suami saya membatalkan?" Nah, Resha jadi ikutan Uni resepsionis Auto 3000, menyebut Randi suaminya.
"Senin, berarti satu hari setelahnya, Bu," ucap uni itu.
"Ya sudah, terima kasih."
Pantas pria itu cuma merespon 'Oh, ya sudah.' Ternyata diam-diam dia menggagalkannya.
"Kamu tu kenapa sih?" Ucap Resha membuka pembicaraan besoknya. Saat Randi mengantar mereka setelah menurunkan Dika di sekolahnya.
"Apanya?"
"Yang kamu lakukan padaku."
"Aku melakukan apa?" Ucap Randi, sok tidak mengerti padahal Resha yakin pria itu mengerti arah ucapannya.
"Kamu seenaknya membatalkan ojek Dika dan mobil yang aku indent. Uang DP nya jadi sayang terbuang percuma." Resha sama sekali tidak melihat ke arah Randi.
"Kalau Dika, aku masih bisa jemput dia. Saat aku sibuk, juga bisa minta tolong sopir kantor."
"Aku nggak bisa mempercayai kamu. Bagiku, omongan seorang pria itu harus bisa dipegang. Jika menepati janji saja tidak bisa, bagaimana mau menangani urusan lainnya?"
Kena deh. Padahal baru sekali kejadiannya, tapi langsung dapat penilaian buruk.
"Maaf, aku tiba-tiba ada urusan."
"Seenggaknya kamu ngabarin. Aku dan Dika nggak perlu sampai lumutan menunggu orang yang bahkan tidak memikirkan kami sama sekali."
Wanita ini masih kesal ternyata.
"Maaf, hp-ku kehabisan baterai. Aku sungguh minta maaf."
"Makanya, kamu nggak usah jemput Dika dan mengantar kami lagi. Aku akan kembali hubungi ojek yang kemarin."
"Tolong, untuk sekarang biarkan begini. Aku janji lain kali nggak akan membuat kalian menunggu lagi. Ya?"
Resha melengos.
"Hmmm.... Nanti deh kita bareng-bareng pilih mobil yang tepat buat kamu. Biar aku yang belikan."
Apa? Siapa Randi? Berani-beraninya mengatur hidup Resha?
"Belikan? Kamu pikir aku nggak ada uang, gitu?" Tadinya sudah reda, sekarang kembali marah. Akibat Randi yang tidak bisa membaca situasi.
Kebetulan sudah sampai kampus.
"Aku nggak butuh uang kamu." Resha langsung membuka pintu, keluar, lalu membanting pintu mobil.
"Astaghfirullaaaah. Wanita memang mengerikan kalau marah." Ucapnya geleng-geleng kepala sambil mengelus d**a. Senyum miring terbit di bibir pria itu.
Sebenarnya Randi tidak ingin kehilangan momen setiap pagi seperti ini. Jika Resha sudah memiliki mobil dan Dika ada ojek sewaan, tentu dia akan kehilangan momen yang sekarang sangat dinikmatinya ini.
"Langsung pulang?" Ucap Randi sorenya ketika menjemput dua orang yang dia sayangi itu. Siapa tahu wanitanya ini ingin mampir kemana atau mau beli sesuatu dulu.
"Kamu drop aku di Red Cafe aja."
"Mau makan dulu? Ya udah, barengan aja."
"Nggak, mau ketemu Bang Adam."
Nama itu lagi. Nama yang membuat mood Randi berubah jadi buruk.
"Berdua saja?"
"Nggak, Dika kan ikut aku."
"Kalau gitu, aku juga ikut." Ucap Randi sambil memutar stir mobil memasuki pelataran parkir red cafe.
"Ngapain?" Resha mengernyitkan keningnya.
"Kamu nggak boleh ketemu pria cuma berdua aja."
Resha hanya menggeleng-gelengkan kepala. Juga memutar bola matanya dan sedikit melengos. Jika bersama Bang Adam jadi masalah, lalu dia dan Randi sekarang ngapain? Tentu saja bertemu pria kan? Bukan hanya bertemu malahan. Lebih dari bertemu.
"Terserah kamu lah," ucap Resha akhirnya bertepatan dengan Randi yang sedang membelokkan stir mobil menuju parkiran Red Cafe.
"Daddyyyyyy," Dika langsung berlari untuk memeluk Bang Adam saat mereka bertiga memasuki kafe. Sementara Bang Adam sudah menunggu di salah satu meja.
"Baru pulang dari kampus Mama, ya?"
"Iya, sama Papa juga."
Kedua mata pria itu bertatapan beberapa detik sebelum akhirnya Bang Adam mengubah ekspresinya, tersenyum ramah. Dia mempersilakan duduk.
Karena memang sedang lapar, mereka langsung memesan lalu makan dalam diam.
"Aku ke toilet bentar, ya?" Ucap Resha yang sebenarnya tidak butuh izin siapapun.
"Dika ikut, Ma."
Tinggallah kedua pria itu.
"Saya nggak suka kamu sering bertemu Resha." Ucap Randi memulai pembicaraan.
"Anda tidak punya hak melarang." Respon Adam dengan nada datar.
"Tentu saja punya hak karena dia ibu dari anakku."
"Dia juga ibu dari anakku. Dika memanggilku Daddy, kalau kamu lupa. Hanya karena Dika memanggilmu Papa, bukan berarti kamu memiliki mamanya." Balasan yang cukup sengit dari Adam.
"Sama sekali bukan karena itu, tapi karena ini." Randi mengeluarkan HP nya, membuka galeri, lalu menyodorkan video akad nikah yang dilakukannya beberapa bulan lalu.
"Maksud kamu, kamu sudah menikahi Resha?" Ucap Adam tak percaya.
Randi mengangguk.
"Aku tidak melihat Resha di video ini. Apa Resha sudah tahu?"
Randi menggeleng.
"Apa yang aku belum tahu, Bang Adam?"