Bagian 7: Newcomer

1346 Kata
#Kontes Menulis Innovel II - The Girl Power Kita akan lebih awas saat menyadari posisi kita terancam. *** “Lancang Kamu. Jangan pernah ucapkan kata itu padaku.” Giginya bergemeletuk, dadanya naik turun. Emosi yang sudah di puncak hendak segera meledak tapi harus ditahan sekuat-kuatnya demi Dika. Randi mengubah posisinya menjadi berdiri, menyejajarkan mata dengan Resha, “Lancang?” Beonya. “Ck, Kamu akan memohon ampunanku jika mengetahui posisimu.” Nada bicaranya sangat santai tapi syarat akan keseriusan. Kemudian laki-laki itu berjalan menuju Dika yang sedang menonton di ruang tamu, pamit. Seminggu kedepan hidup Resha akan cukup tenang karena Randi ada urusan keluar kota lima hari. *** "Mama, masak yang banyak ya buat makan malam nanti." "Kenapa sayang?" Keduanya sedang menikmati sarapan lontong sayur yang tadi dibeli di depan lapangan GOR. Seperti biasa, setiap hari Minggu mereka berdua jogging lalu malas-malasan di rumah, bisa nonton tv, bisa karaoke, bisa apa saja. Pokoknya menghabiskan waktu berdua. "Papa akan sampai habis Isya nanti katanya." "Emang Papa bilang mau makan malam di sini?" Tanya Resha menyelidik. "Nggak tahu juga sih. Kalau misal nggak, ya nggak apa-apa. Kalau misal iya, kan mama nggak repot lagi." "Anak Mama emang pinter." Resha memeluk dan mencium Dika. Bocah itu terkikik geli. Dika sedang mengulang hapalan qur'an dibantu Resha mengoreksi bacaan yang salah ketika pintu rumah mereka diketuk. "Mesti Papa." Dika setengah berlari membuka pintu. "Daddyyyyy?" Ucapnya nyaring. Mendengar bukan papa, Resha menyusul ke ruang tamu. "Bang Adam?" "Hai." Adam melambaikan tangannya. "Kapan sampai? Susah nggak cari alamatku?" Tanya Resha sambil memberi ruang Bang Adam untuk masuk dan menerima oleh-oleh dari tangannya. "Satu jam yang lalu. Check in hotel lalu langsung ke sini. Nggak susah, sih. Kamu terkenal, pas aku tanya mereka langsung tau dan kasih petunjuk arah." "Biasa aja kok, berlebihan kamu. Silahkan duduk, Bang." "Daddy mesti belum makan malam, kan?" Sela Dika yang sekarang duduk di pangkuan Bang Adam. "Belum. Dika udah?" "Belum. Nanti Daddy makan di sini aja, barengan. Mama masak banyak." "Boleh sekarang aja nggak, makannya? Daddy lapar," ucapnya memohon dengan ekspresi wajah yang dibuat memelas seolah sangat lapar. "Hayuk." Dika dengan semangat berlari menuju meja makan. Resha mengunci pintu lalu menyusul menuju meja makan. Obrolan ringan tentang kehidupan Bang Adam selama di Australia setelah mereka tinggalkan, berlanjut kehidupan mereka selama di Padang memenuhi acara makan malam. Tiba-tiba ketukan pintu terdengar. "Biar aku bantu buka," ucap Bang Adam karena Resha sedang riweh membantu memisahkan daging ikan dari tulangnya yang ada di piring Dika. Setelah pintu terbuka, hening. "Siapa, Bang?" Tanya Resha setengah berteriak. Namun tidak ada jawaban dari Bang Adam. Karena penasaran, Dika dan Resha menyusul menuju ruang tamu. "Papaaaaa," Dika berlari sambil merentangkan tangan. Randi berjongkok lalu menggendong Dika. Bang Adam masih mematung di pintu, sedangkan Resha di perbatasan ruang tengah dan ruang tamu. "Ayo ikut makan malam sekalian, Pa. Dika, Mama, dan Daddy sedang makan." Randi mengernyitkan kening mendengar satu kata yang Dika sebutkan. Hanya sepersekian detik, lalu berusaha menampilkan ekspresi datar. Suasana makan menjadi agak canggung. Hanya celotehan Dika yang terdengar, ditanggapi sekedarnya oleh Mamanya, Randi, atau Bang Adam. Besoknya, Randi bela-belain mengantar Dika dan Mamanya. Setelah Dika turun di sekolahnya, wajah ramah yang tadi ditunjukkan Randi berubah menjadi tegang. "Ada hubungan apa kamu dengan yang namanya Adam itu?" Pandangannya tetap lurus memperhatikan jalanan. Resha melengos. Dia sudah memperkirakan ini sebelumnya. Tidak kunjung mendapat jawaban, Randi menepikan mobil, berhenti di bahu jalan. Menoleh ke arah Resha dan mengulang pertanyaannya. "Apa hubunganmu dengan pria yang bernama Adam itu Mamanya Dika?" Resha menyadari laki-laki ini berusaha meredam emosi. "Dia temanku saat kami tinggal di Australia." "Kenapa Dika memanggilnya Daddy?" "Ceritanya panjang. Lain kali aku ceritakan. Ayo sekarang jalan aku bisa terlambat." "Aku punya banyak waktu untuk mendengarkan." "Tapi aku tidak punya waktu sekarang. Ayolah, aku ada jadwal mengajar jam tujuh." "Sekarang atau mobil ini tidak akan melaju," ancamnya. "Fine." Resha berusaha membuka pintu mobil dan berniat melanjutkan perjalanan menggunakan taksi. Namun pintu mobil terkunci. "Kamu apa-apaan sih. Aku bisa terlambat." Randi bergeming. "Kamu jangan kekanakan begini. Tau begini aku berangkat pakai taksi saja," gerutunya. "Aku? Kekanakan? Justru aku sekarang mencoba membicarakan sebuah permasalahan denganmu agar bisa diselesaikan segera. Siapa yang menolak memberi keterangan? Siapa yang kekanakan hah?" Resha menghela napas kasar. Waktunya genting dan dia tidak sedang dalam mood ingin berdebat. "Bang Adam adalah alasan kenapa Dika kembali semangat bersekolah saat semua temannya membully karena dia tidak punya ayah. Bang Adam yang selalu menemaninya di hari ayah. Bang Adam juga yang selalu menemaninya saat ada acara camping di sekolah. Bahkan Bang Adam juga yang menjaga Dika saat aku ada perlu keluar kota. Bang Adam yang mengambil peran sebagai ayahnya karena dia terlahir dari wanita tak bersuami." Suara Resha semakin meninggi setiap satu kalimat, kalimat terakhir dengan suara serak. "Puas kamu sekarang?" Ucapnya. Rasa bersalah menyelimuti Randi. Dia cemburu dengan semua peran Adam dalam kehidupan Resha dan Dika. Seharusnya dia yang melakukan semua itu. "Ini sudah terlalu terlambat untukku sampai di kampus," ucap Resha menyentak lamunan Randi. Pria itu tidak menjawab, hanya menggerakkan tangan kirinya menurunkan rem tangan, memindahkan persnelling, lalu mobil itu perlahan kembali melaju. Randi tak mengeluarkan sepatah katapun sampai akhirnya mobil berhenti di kampus. Resha keluar, menutup pintu sedikit membanting tanpa mengucapkan terima kasih. Langsung berjalan memasuki gedung tanpa menunggu mobil yang Randi kemudikan kembali melaju. Dia sangat marah sekarang. Biasanya wanita itu akan masuk ke gedung setelah mobil yang mengantarnya meninggalkan gedung itu. Seharian ini Randi tidak bisa konsentrasi melakukan pekerjaannya. Dia berniat menjemput Dika dan berniat mengorek informasi dari bocah yang tidak akan membohonginya itu. "Dika kenapa panggil Om Adam dengan sebutan Daddy?" Tanya Randi saat Dika mulai menyendokkan es krim ke mulutnya. Mereka sekarang berada di mall. "Daddy pangganti Papa yang belum hadir dalam hidup Dika." Bocah itu bahkan tersenyum, tidak menampakkan kesedihan. "Daddy itu baik pada Dika?" "Sangat, Papa." "Dika sayang sama Daddy?" "Sayang banget." Lebih sayang mana sama Daddy atau Papa? Pertanyaan yang hanya tertahan di tenggorokan. "Kalau Mama?" "Maksud Papa?" "Apa.... Apa..." Randi sendiri merasa ragu untuk mengutarakan tanya. Namun rasa penasarannya jauh lebih besar ketimbang rasa malunya sehingga berani menanyakan hal seperti ini pada seorang bocah. "Apa Mama juga baik pada Daddy itu?" Dika mengernyit mendengar pertanyaan Randi. "Daddy itu orang baik, Pa. Dia baik sama Dika dan banyak orang lainnya. Tentu saja Mama juga baik padanya. "Ooowh, begitu. Kalau rasa sayangnya gimana? Dika kan sayang banget tuh sama Daddy itu. Mama gimana?" "Oowh, jadi Papa bikin kalimat mutar-mutar initinya mau nanya apa Mama sayang daddy, gitu kan?" Nah kan, bocah ini lebih dewasa dibanding umurnya. Berani bicara lugas seperti itu pada papanya sendiri. Efek dibesarkan di luar negeri membuat Dika lebih suka bertanya langsung keintinya. Randi mengurut tengkuknya sendiri, malu. Karena pertanyaan sepenting ini harusnya bukan ditanyakan pada bocah. "Kalau Mama...." Randi kembali fokus, bersiap mendengarkan jawaban Dika seksama. Sementara Dika benar-benar mempermainkan Randi dengan menggantung jawabannya. Padahal Randi sudah tidak sabar mendengarkan penuturannya. "Papa tanya sendiri ke Mama deh." Gubrakkk! Apakah Reshanya mencintai pria bernama Adam itu? Apakah Adam akan merebut Resha darinya? Randi merasa posisinya terancam. Seolah lampu kuning tanda harus berhati-hati sedang menyala dalam dirinya. Dia harus bertindak cepat. Usai Zhuhur Randi mengantarkan Dika ke kampus. Sebenarnya Resha ingin menanyakan kenapa terlambat. Tidak jadi karena Randi langsung menjawab tanpa pertanyaan itu diutarakan. "Tadi kami mampir di mall dulu makan es krim." Nah kaaaan, pria ini tu kadang kayak peramal. Bisa tau apa yang sedang Resha pikirkan. Tiba-tiba seorang laki-laki keluar dari ruangan Resha. "Daddy?" "Iya sayang." Bang Adam mengelus kepala Dika. "Seminggu lagi aku kirim email aja ya, Re." "Oke Bang, hati-hati, maaf nggak bisa ngantar ke bandara ya, aku ada kelas habis ini." "Iya, nggak apa-apa. Daddy pamit ya Dika." Bang Adam memeluk dan mencium Dika. Sementara Randi melotot pada Resha minta penjelasan. Selepas taksi yang ditumpangi Bang Adam menghilang dari pandangan, Resha mengamit Dika dan kembali masuk ke ruangannya. Mengacuhkan pelototan Randi. Bukannya langsung pergi, Randi malah menyusul Resha ke ruangannya. Dika berbelok menuju toilet pria yang ada di ujung koridor. "Aku mau bicara sama kamu." Resha tidak menghiraukannya. Dia masih dalam mode marah. "Aku bilang aku mau bicara." Randi menyentak pergelangan tangan Resha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN