Bagian 6: Piknik Bersama Papa

1338 Kata
#Kontes Menulis Innovel II - The Girl Power Saat Tuhan menjadikanmu seorang ibu, kamu akan dibekali sifat keibuan. *** Resha langsung melihat ke bagian agak bawah, Combined Paternity Index 94, 410. Di sebelah kanan tertulis Probability of Paternity 99,98%. Resha menghembuskan napasnya. Setelah mengetahui ini, apa yang akan dilakukan oleh pria di hadapannya ini? “Aku tidak akan menyalahkanmu atas ketidakjujuran,” Resha memindahkan pandangan dari kertas menuju wajah Randi. “Tapi mulai hari ini, akan aku pastikan bahwa dia akan memanggilku Papa.” Resha mengernyitkan kening, kepalanya berdenyut. Nyeri. Ketakutan hadir begitu saja tanpa aba-aba, takut Randi akan memisahkan dia dan Dika. Hanya Dika yang dia miliki saat ini. Satu-satunya alasan yang membuatnya tegar menjalani hidup. Resha berusaha mengenyahkan berbagai pikiran buruk di kepalanya dan berusaha fokus pada Dika. Dia tidak mungkin membatalkan rencana piknik ini. Dia melangkah dengan cepat menuju dapur, membuka laci untuk mengambil pil pereda sakit kepala. Berharap Tuhan membantunya melewati hari ini. Saat Tuhan menjadikanmu Ibu, maka kamu juga akan dibekali oleh sifat keibuan. Seperti yang Resha lakukan saat ini, dia kuatkan diri dan hati agar tidak membuat buah hatinya kecewa. Dia akan menciptakan memori demi memori yang indah bersama malaikat kecilnya itu. Tidak ingin melewatkan banyak waktu di luar rumah tanpa Dika lalu tau-tau bocah itu sudah dewasa. Setidaknya, jika suatu hari takdir tak berpihak padanya dan memisahkan mereka, Resha memiliki kenangan indah yang tak akan pernah ia lupakan. Terlebih melihat raut bahagia yang bocah itu tampilkan saat bercanda bersama Papa kandungnya, Ibu manapun tidak akan sanggup merusak momen itu. “Papa suka wortel nggak?” Tanya Dika sambil menyuapkan potongan wortel ke mulutnya sendiri. Sekarang mereka sedang makan beralaskan tikar di bawah pohon rindang yang ada di lapangan golf. Apa? Papa? Perasaan cemas seketika mengaliri d**a Resha. Dika baru saja memanggil pria itu dengan sebutan Papa. Sesak, itulah yang Resha rasakan. Dia bahkan menepuk dadanya untuk meredakan. Beruntung hijab yang wanita itu gunakan bisa menyembunyikan gerakan yang dilakukannya. Ia tetap berusaha menampakkan ekspresi seolah tidak mendengar satu kata itu. Entah apa yang telah dilakukan pria itu sehingga Dika dengan mudah memanggilnya begitu. Randi menoleh pada Resha, ingin tau reaksinya. Tak ada reaksi apa-apa. Apa dia tak mendengarnya? Batin Randi. “Iya sayang, Papa suka wortel. Sama kayak kamu yang sangat menyukai wortel ini.” Satu kecupan Randi daratkan di pipi gembil bocah itu. “Mama juga, sangat menyukai wortel.” Tambah Dika. “Mama ingin matanya sehat supaya bisa melihat Dika yang tampan ini.” Ucapnya narsis. Randi tergelak mendengarnya. Hari bahagia itu berlalu begitu cepat. Jika boleh meminta, Dika ingin agar waktu berhenti. Dia ingin merasakan memiliki keluarga sempurna seperti ini selamanya. Bolehkah Tuhan? Sesuai dengan teori relatifitas Einstein perihal pemuaian waktu yang dialihkan penerapannya. Bahwa saat kamu merasa bahagia, waktu berlalu dengan cepat. Sementara saat derita mendera, waktu seolah bergerak lambat sehingga terasa sangat menyiksa. Siang telah berganti malam, terang berganti gelap. Lampu pinggir jalan telah mengambil perannya malam ini, menemani perjalanan Dika yang sudah terlelap dalam pangkuan mamanya. Sekembalinya dari piknik, Dika tak henti-hentinya menunjukkan kebahagiaannya. Dia akan membuka galeri ponsel milik Resha dan berlama-lama melihat foto-foto piknik hari itu. Bahkan menjadikan salah satu foto itu sebagai walpaper. Foto bertiga ketika Randi mencium pipi kirinya sementara Mamanya sedang tersenyum menyuapkan potongan buah menggunakan garpu. Terlihat seperti keluarga kecil yang sedang berbahagia. Hal yang ditakutkan oleh Resha tidak terjadi, Alhamdulillah. Atau mungkinkah belum terjadi? Bahkan sekarang Randi semakin menunjukkan perhatian dan eksistensinya, selalu menjemput Dika dari sekolah lalu mengantarkannya ke kampus. Saat pria itu terlalu sibuk, dia bahkan menugaskan sopir untuk menggantikannya. Dan Dika menikmati perhatian dari Papanya itu. Jika dijemput sopir, Dika akan segera menelpon Randi setelah sampai di ruangan Resha. “Aku udah sampe kampus Mama, Pa. Terima Kasih, emmmuach.” Dika juga sering menelpon Randi meskipun singkat hanya untuk mengabarkan kejadian yang menurutnya penting. Seperti, tadi "Dika dimarahi ustadz karena memukul murid lain, dia duluan mukul dika, sih, Pa. Dika cuma membela diri." Anehnya, Randi justru mengapresiasi tindakan anaknya. "Good. Kita memang harus membela diri. Hebat anak Papa." Di kesempatan lain, "Gambar Dika dipuji bagus sama ustdzah, Pa. Katanya Dika pintar memadukan warna." Terdengar remeh, tapi Resha menyadari hal itu penting. Tak ayal log panggilan terbanyak yang ada di ponsel Resha adalah nomor pria itu. Karena itulah Dika meminta Resha mengubah nama kontak ‘Randi Pratama’ menjadi ‘Papanya Dika’ dengan alasan memudahkannya ketika mau menelpon Randi. Meski belum bisa membaca, bocah itu bisa mengenali nama kontak tersebut. Kedekatan yang terjalin ini membuat rasa takut dan khawatir yang bersarang di kepala Resha semakin besar. "Kenapa panggilan Dika pada Om Randi jadi berubah, sayang?" Resha menanyakannya pada Dika agar tidak diliputi rasa penasaran saat membantu mengganti piyama Dika. "Justru aneh kalau Dika panggil om sama papa sendiri, kan Ma?" Nah kaaan, mulutnya persis papanya, pedes. Resha hanya mengangguk saja. Tidak ada yang mengetahui hubungan rumit antara Resha dan Randi, baik guru Dika, masyarakat sekitar, maupun teman-teman Resha di kampus, mereka mengira Randi dan Resha adalah pasangan suami istri. Ditambah lagi ketika luang, Randi menyempatkan menjemput Dika dan Mamanya Dika itu. Menggendong bocah kecil itu keluar ruangan Resha menuju mobil dan membukakan pintu untuk Resha. Romantis. Karena saking seringnya turun naik mobil Randi, tak sengaja Resha melihat sablon yang menempel di bantalan carseat, bertuliskan nama lengkap Dika, ditambah satu kata di belakangnya, Pratama. Ya, Mahardika Akbar Pratama. *** Minggu ini menyenangkan sekali karena tanggal merah bertepatan dengan hari Senin. Maka Sabtu ini Resha mengajak Dika belanja di supermarket. Dika berjalan mundur dan terus melontarkan candaan. Karena tidak melihat ke belakang, tubuhnya menambrak seorang ibu. “Maaf, dia anakku,” ucap Resha, tepat saat Ibu tersebut menoleh untuk melihat apa yang menabraknya. Seperti dejavu, Ibu itu adalah Bu Ririn. “Oma Ririn,” lirih Dika, tapi terdengar jelas di telinga Resha. Apa kejadian di bandara segitu pentingnya di memori Dika sehingga dia masih mengingatnya? “Jagoan kecil Oma lagi belanja apa, sayang?” Intonasi dan cara bicara yang sama sekali tidak terdengar canggung. Seolah mereka sering bertemu. “Menemani Mama belanja, Oma.” Bu Ririn menoleh pada Mamanya Dika dan tersenyum. “Kebetulan bertemu di sini. Saya harap Mamanya Dika tidak keberatan kalau kita makan siang setelah berbelanja.” “Tentu, Oma. Mama kan hari ini libur kerja.” Jawaban justru sudah diberikan Dika sebelum Resha mengeluarkan kalimat yang sebenarnya ingin menolak. Entah kenapa, Resha merasa tidak merasa nyaman meski Bu Ririn sangat ramah. “Tidak keberatan kan Ma?” Ucap Dika lagi sambil menggoyakan gamis Resha, menyadari Mamanya belum memberikan tanggapan. Resha hanya mengangguk dan sedikit tersenyum. Ternyata menurut cerita Dika, dia mengenal Bu Ririn. “Bundanya Papa,” jawabnya ketika Resha menanyakan Bu Ririn itu siapa saat mereka sudah bersiap akan tidur. “Waktu Mama ada seminar di Bandung, aku kan diajakin Papa ke rumah Oma, jadi kenal deh,” ucapnya ketika Resha menanyakan bagaimana dia mengenal Bu Ririn. “Kadang sebelum mengantar Dika ke kampus, Papa akan mampir dulu sebentar di rumah Oma Ririn, hanya makan cookies atau camilan ringan Oma Ririn baik dan sayang banget sama Dika, Ma.” Randi keterlaluan. Dia bahkan tidak membicarakan ini padaku atau meminta izinku. Gumam Resha dalam hati. “Masalahnya dimana?” Ucapnya saat Resha dengan emosi memuncak menanyakan perihal perkenalan Dika dengan Bu Ririn. Laki-laki itu bahkan kini dengan santainya menumpu kepala dengan tangan kanannya, sedikit tersenyum mendengarkan luapan kemarahan Resha tanpa ikut terpancing sedikit pun. Ditatap seperti itu membuat perempuan grogi, iya kan? Termasuk Resha. Untuk menyelamatkan jantungnya yang rasanya akan terlepas, Resha memutuskan menjauh dari meja makan dan menghentikan perkataannya. Mengomel panjang lebar juga tidak akan mengubah apapun. “Aku akan mengenalkanmu juga pada Bunda. Nanti saat kita sama-sama punya waktu, jangan khawatir, sayang.” Sayang? Kata yang membuat emosi Resha kembali tersulut. Wanita itu memutar badan dan berjalan cepat kearah Randi. Mengarahkan telunjuknya tepat di depan mata pria itu, menekan kalimatnya agar tidak terdengar Dika, “Lancang Kamu. Jangan pernah ucapkan kata itu padaku.” Giginya bergemeletuk, dadanya naik turun. Emosi yang sudah di puncak hendak segera meledak tapi harus ditahan sekuat-kuatnya demi Dika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN