Bagian 5: Hasil Tes DNA

1654 Kata
#Kontes Menulis Innovel II - The Girl Power Banyak cara untuk membuktikan kebenaran selama kamu yakin akan kebenaran itu sendiri. *** “Dikanya sudah dijemput Papanya, Buk." Seketika itu juga Resha langsung menelpon Randi setelah mengucapkan terima kasih pada guru Dika. “Halo Mamanya Dika.” “Dika sama kamu?” potong Resha. Dia tidak tertarik untuk berbasa-basi atau mengeluarkan kalimat yang sopan. Laki-laki itu tidak terpengaruh. Tetap menggunakan nada sopan seolah ingin mencari muka saja. Muka siapa? Apakah Dika ada di sekitarnya sekarang? “Dikanya lagi sama Om Randi. Lagi makan es krim nih,” jawab pria itu santai dengan memberi penekanan pada kata Om. Randi sengaja mengaktifkan loudspeaker agar Dika bisa mendengar suara Mamanya. Emosi Resha langsung menuju puncak mendengar jawaban pria itu. Ingin menjawab dengan kalimat kasar. “Kamu memang breng…” sek. Terdengar teriakan Dika menyela “Mama udah selesai mengajar?” Untung saja Resha belum menyelesaikan kalimatnya. Dia berencana mengumpati pria yang sudah menculik anaknya itu. “Sudah, sayang. Mama jemput Dika sekarang ya, Nak?” “Jangan. Dika nggak apa-apa seharian ini sama Om Randi. Mama istirahat aja. Om Randi juga janji bakal antar nanti sore. Mama tenang aja dan istirahat. Dika sayang Mama, emmuach.” “Oh, gitu ya. Ya sudah, hati-hati ya Nak. Yang nurut sama Om Randi. Emmuach.” Resha pasrah. Bukan karena emosinya yang sudah reda, melainkan karena suara riang Dika yang menggambarkan kegembiraannya. Ibu mana yang tega merenggut rasa bahagia itu? Lagian Dika berhak menikmati waktu bersama Papa kandungnya. Hal ini juga tidak terjadi setiap hari. “Sip Mama,” ucap bocah gembil itu sembari menunjukkan jempol tangan meski Mamanya tidak menyaksikan. Resha segera mengetik pesan setelah telpon ditutup. [Jangan lewat dari pukul tujuh. Dika harus tidur cepat agar bisa bangun pagi.] Tidak menunggu lama, Randi memberi balasan. [Iya Mamanya anakku. Sip.] Meskipun hasil tes DNA belum ada, Randi sangat yakin bahwa Dika anaknya. Sesuai janjinya, Dika sudah sampai rumah pukul enam sore. Bertepatan saat Resha baru membuka pintu rumah. “Mamaaaa,” Dika menghambur turun dari mobil Randi dan merentangkan tangannya sambil berlari menuju sang Mama. Resha sedikit berjongkok dan siap menyambut pelukan Dika. “Aiiiih, bau acem. Yuk masuk, Mama mandiin biar segar.” Resha tak berhenti mencium Dika sehingga bocah itu terkikik kegelian. Menyadari Randi yang mendekat, Resha menghentikan aksinya. “Terima kasih sudah menjaga dan mengantar Dika, kami masuk dulu.” Resha sama sekali tidak menawari pria itu untuk masuk. “Lho Ma,” Dika menyela. “Om Randi ditawari masuk dan minum dulu. Mama masih ingat kaaaan hadits untuk menghormati tamu yang aku hapal minggu lalu.” Ucapnya sambil mengetukkan telunjuk di dagu. “Tentu, Mama ingat, sayang. Tapi ini sudah menjelang Maghrib, waktu dilarang untuk bertamu. Anak Mama ini masih ingat?” “Aaaaa iya, hampir lupa tentang itu. Dah Om. Makasi untuk hari ini ya.” Dika melambaikan tangannya, dadah. “Oke sayang, besok-besok kita main lagi ya.” Randi sengaja mendekatkan wajahnya menuju Dika dan mencium bocah itu tepat di bekas ciuman Mamanya. Wajah mereka bahkan sangat dekat saat Randi mencium Dika, membuat jantung Resha berdegup cepat. *** Libur minggu ini Resha dan Dika merencanakan piknik ke lapangan Golf yang terletak di Indarung. Pemandangan hijau akan membuat pikiran dan tubuh rileks. Agar kedekatan mereka semakin terasa, Resha memutuskan untuk mempersiapkan bekal. Makanya malam ini dia dan Dika mau belanja keperluan piknik dan membeli bahan untuk mempersiapkan bekal. “Kenapa Om Randi nggak main lagi ke rumah ya, Ma?” Tanya bocah itu agak cemberut. Pria itu memang belum menampakkan diri sejak terakhir kali menculik Dika di sekolah. “Hmmm Om Randinya mungkin sibuk, sayang,” ucap Resha sambil mengelus tangan bocah itu. “Dika jangan cemberut gitu, besok kan kita mau piknik.” “Oiya, kita ajakin Om Randi sekalian ya, Ma?” Ucapnya antusias. “Besok kan minggu. Om Randi nggak mungkin sibuk kerja kan Ma?” Tambahnya. “Sibuk, sayang.” Resha menghentikan langkah. Menyejajarkan wajahnya dengan wajah Dika. Resha menggenggam tangan Dika erat agar dia bisa memusatkan perhatian pada kalimat yang akan dia katakan. “Sibuk itu nggak harus melulu tentang pekerjaan kantor. Kayak Mama misalnya. Hari Minggu sibuk main sama anak Mama ini, iya kan? Jadi kalau ada teman Mama yang ngajakin Mama main, Mama nggak akan mau. Mama akan jawab pada teman Mama kalau Mama sibuk. Dika paham, sayang?” “Aku nggak sibuk kok besok,” suara yang sudah sangat mereka berdua kenali menyela. Kontan Resha dan Dika menoleh kearah sumber suara. Dika melepaskan tangan mamanya dan sedikit berlari menuju pria itu. Randi berjongkok dan meraih Dika di pelukannya lalu menggendongnya. Randi berjalan mendekat ke arah Resha. “Memangnya Dika mau ngajakin Om kemana?” “Piknik di lapangan Golf.” Jawabnya antusias. “Om bisa ikut, kan?” Dika mengelus jambang tipis yang ada di bagian dagu Randi. “Tentu.” Jawab pria itu tanpa beban. “Sekarang ayo kita belanja bahan yang Mama butuhkan untuk bekal makan kita.” Randi melanjutkan langkah menuju bagian sayur dan buah dengan tetap menggendong Dika. Menyadari Mamanya Dika itu tak mengikuti langkahnya, Randi berhenti dan berbalik. “Mamanya Dika, ayo.” Apa-apaan laki-laki ini. Begitu dingin dan kasar pada Resha ketika tidak ada Dika. Namun berubah sopan dan manis pada wanita itu saat ada Dika di sekitar mereka. Peran apa yang dia coba mainkan? Manakah dirinya yang asli? “Eh, mau kemana? Aku tunggu taksi di sini saja.” Ucap Resha ketika Randi mendorong troli belanja menuju parkiran mobil. Dika sudah tertidur di pelukan pria itu. “Aku antar kalian pulang.” “Tidak perlu.” Respon Resha yang cepat membuat suara yang ia keluarkan agak nyaring, membuat Dika sempat terkejut dan sedikit menggeliat di pelukan Randi. Pria itu tidak menjawab. Hanya memperlihatkan tatapan tajam, entah marah atau kesal. Dia melanjutkan menuju mobilnya, membuka pintu dan mendudukkan Dika di carseat. Sejak kapan mobil pria ini dilengkapi carseat? Gumam Resha dalam hati. Resha cukup terheran tapi memilih diam meskipun banyak komentar dan pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Selesai memasukkan belanjaan ke bagasi, Resha masuk ke mobil di kursi penumpang, di samping Dika. Randi juga masuk mobil dan duduk di belakang kemudi. Melihat kursi di sebelah kirinya kosong, dia berujar tanpa menoleh ke belakang. “Pindah, kamu pikir saya sopirmu,” ucap pria itu dingin. Nah kan, kambuh lagi. Sikap manisnya menguap. Resha menurut, tidak ingin memancing keributan. Setibanya di rumah Resha, Randi menurunkan Dika dan membaringkannya di kamar. Sementara Resha menurunkan belanjaan dan menaruhnya di dapur. Resha telah selesai menyimpan sebagian belanjaan di kulkas, tapi Randi tak kunjung keluar dari kamar Dika. Dia pikir pria itu sudah pergi tanpa pamit, ternyata justru ketiduran di samping Dika. Wajahnya tampak lelah tapi memaksakan diri menemani belanja. Resha menaikkan selimut sampai d**a kedua laki-laki berbeda generasi yang wajahnya tampak mirip ini. Yang satu adalah laki-laki yang ia sayangi dengan segenap jiwa, sedangkan yang satu lagi adalah laki-laki yang telah menghancurkan jiwanya. Apakah sekarang ia masih membenci pria itu? Paginya, Resha sibuk mempersiapkan bekal makanan. Tentu saja untuk tiga orang. Dika dan Randi sedang bersiap-siap di kamar bocah gembil yang menggemaskan itu. Saking bahagianya, obrolan keduanya sangat nyaring sampai terdengar ke ruangan makan. “Lho Om, mau pakai baju apa hari ini?” “Om bawa bajunya, itu di mobil. Om mau ambil dulu ya.” Tatapan Resha dan Randi bersirobok tepat saat Randi keluar kamar Dika. Dia hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggang. “Kamu mau ngapain?” Ucap Resha sambil membuang pandangan dari tubuh Randi. “Aku mau ambil baju ganti di mobil.” “Sini kuncinya. Biar aku ambilkan. Di sebelah mana?” “Di bagasi, di dalam tas hitam.” Terdengar gerutuan yang masih didengar jelas oleh Randi. “Dasar nggak tau malu. Bisa-bisanya keluar kamar dengan kondisi seperti itu.” Randi tersenyum tipis, dia menyukai perhatian dari wanita itu. Dan dia juga bisa mendeteksi kegugupan yang wanita itu berusaha sembunyikan saat tatapan mereka bertemu. “Ini.” Resha memberikan tas hitam pada Randi dengan sedikit sentakan dan tanpa menoleh. Entah malu, entah masih gugup. Dika dan Randi berjalan menuju ruang makan setelah yakin dengan penampilannya. Randi menggunakan kemeja dengan warna senada yang digunakan Dika dan Resha. Walaupun mulai curiga, Resha sama sekali tidak ambil pusing. Lagian selama ini dia memang selalu membeli baju dengan warna yang sama untuk Dika dan dirinya. Begitulah salah satu cara wanita itu menunjukkan rasa sayang pada buah hatinya. Cara Randi dan Dika berinteraksi tampak seolah sudah lama saling mengenal. Mungkin benar apa yang dikatakan orang, seberapa jauh pun jarak yang memisahkan, ikatan antara orang tua dan anak akan tersambung. Randi bahkan menggunakan minyak rambutnya pada Dika, padahal dia bisa melihat dengan jelas minyak rambut milik Dika ada di lemari. Tidak hanya itu, pria itu juga menyemprotkan parfum miliknya sehingga aroma tubuh mereka tidak dapat dibedakan. Bocah itu menikmatinya. Dika memilih sarapan di depan tv sambil menonton kartun. Sedangkan Randi dan Resha di meja makan. Canggung. Tiba-tiba Randi mendorong sebuah amplop. “Ini apa?” “Kamu buka saja.” Resha bergeming. “Aku sudah pernah bilang akan membuktikan sendiri bahwa Dika itu anakku, kan?” Imbuh Randi. Sangat tenang, baik intonasi maupun ekspresi wajah. Kontras dengan Resha yang gugup. Ada banyak cara untuk membuktikan kebenaran selama kamu yakin akan kebenaran itu sendiri. Dan Randi yakin akan kebenaran bahwa Dika adalah anaknya. Dia hanya perlu membuktikan. Dengan sedikit gemetar wanita itu membuka amplop. Hasil tes DNA. Sangat pelan Resha mengeluarkan satu lembar kertas yang ada di dalam amplop. Terlihat jelas kop surat DNA Diagnostics Center, DDC, Indonesia. Meskipun sudah mengetahui hasilnya tanpa ada tes ini, Resha tetap saja membuka dan berharap hasilnya salah atau bahkan mungkin tertukar dengan sampel orang lain. Bolehkan jika dia berpikiran begitu? Mengabaikan berbagai penjelasan yang tertera, Resha langsung melihat ke bagian agak bawah, Combined Paternity Index 94, 410. Di sebelah kanan tertulis Probability of Paternity 99,98%. Resha menghembuskan napasnya. Setelah mengetahui ini, apa yang akan dilakukan oleh pria di hadapannya ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN