#Kontes Menulis Innovel II - The Girl Power
Sejauh apapun jarak yang tercipta, pertalian darah selalu punya caranya sendiri dalam mempertemukan.
***
“Dika… Dia… Anakku kan?” Ulang pria itu, membangunkan Resha dari lamunan kejadian masa lalu.
Resha mencoba menenangkan diri dengan satu tarikan napas. Dia sempatkan membaca do'a minta dikuatkan oleh Allah sebelum akhirnya membalikkan badan lalu berjalan mendekati Randi.
“Anak Bapak? Hah, candaan yang tidak lucu sama sekali. Dika itu anakku," Resha menunjuk dadanya sendiri menggunakan telunjuk tangan kanan. Tatapan matanya berubah tajam, "Bukan anak Anda.” Hening beberapa saat, “Aku harus pergi, permisi Pak Randi.” Ucapnya tegas. Tangan wanita itu terkepal dan bukunya memutih menahan amarah.
Ingin rasanya kembali ke Australia dan melanjutkan hidup di sana bersama Dika. Namun ia terlanjur mengambil keputusan ini, menjadi dosen di kampusnya dulu. Bukan keputusan yang mudah. Selain karena keharusan untuk mengabdi di tanah air atas beasiswa yang dinikmatinya, juga karena rasa sayang dan rindunya pada tanah kelahirannya. Meski tidak pulang ke Lubuk Basung untuk bertemu kedua orangtuanya, hidup di masyarakat dengan kebudayaan yang sama sudah cukup mengobati rindunya.
Resha harus segera pergi atau laki-laki itu akan melihat betapa rapuhnya dia. Air mata sudah menggenang, dengan satu kali mengerjap genangan itu akan tumpah. Resha dengan cepat kembali membalikkan badan dan melangkah sedikit tergesa. Benar saja, air mata langsung menitik dari kedua matanya. Sengaja tidak ia gerakkan tangan untuk menghapus bekas tetesan di pipi, tidak ingin pria itu mengetahuinya. Kenyataanya, air mata yang menetes dari mata beningnya saat berbalik itu tak luput dari penglihatan Randi melalui pantulan pada cermin di dinding kafe itu. Ekspresi sama yang wanita itu tunjukkan pada hari dimana Randi mengambil paksa mahkotanya, hal yang paling berharga bagi seorang perempuan manapun.
Randi terdiam sesaat sebelum akhirnya segera mengejar Resha yang sudah berada di pintu keluar kafe. Bertepatan dengan sebuah taksi yang berhenti di depannya. Wanita itu menaiki taksi sesegera mungkin. Tepat sebelum taksi melaju, "Sebentar, Pak," ucap Randi pada sopir taksi.
Pria itu membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke jendela mobil. Resha tetap menatap lurus ke arah depan. Lalu Randi berbisik, “Dika… Dia anak kita, kan? Jika kamu tidak mau jujur, aku akan mencari taunya dengan caraku.”
Resha menolehkan wajahnya dan menatap tajam kearah Randi. Wanita memang hebat, bekas air mata sama sekali tak terlihat di ekspresinya saat ini. Telah berubah menjadi pancaran amarah dan cemas, “Jalan, Pak,” ucapnya pada sopir taksi tanpa merespon ucapan itu.
Randi mengusap wajahnya kasar untuk menghalau wangi tubuh Resha yang tanpa sengaja masuk kedalam penciumannya ketika tadi, beberapa detik, wajah mereka sangat dekat. Aroma itu sekaligus mengingatkannya akan kejadian itu. Kejadian yang kental dalam ingatannya bahkan setelah enam tahun berlalu. Aroma yang membuatnya tidak bisa menghalau pikiran tentang wanita itu.
Hari itu, Randi terbangun pukul sembilan malam. Meraba dengan tangannya, wanita yang tadi di sebelahnya itu sudah tidak ada di ranjang. Menyibak selimut, dia menemukan bercak darah. “Shiiit!” Wanita itu perawan dan dia telah mengambil kehormatannya.
Randi segera membersihkan diri di kamar mandi yang ada di ruangan itu. Pikirannya tidak tenang. Dia memang setengah sadar saat memaksa menautkan bibir dengan wanita itu. Namun tautan itu seperti candu yang justru semakin membiusnya untuk berbuat lebih. Sisanya, pria itu lakukan dengan kesadaran penuh karena gairah yang tak bisa ia bendung.
Besoknya dia berniat menemui wanita itu, tapi tak menemukannya dimanapun, bagai ditelan Bumi. Dia bahkan menyuruh orang untuk mencari wanita itu ke kampusnya. Nihil. Memeriksa ke alamatnya juga nihil. Ibu kost mengatakan bahwa tadi malam wanita itu pamit dan mengatakan akan berangkat sangat pagi. Berdasarkan data di kampus, orang suruhan Randi juga memeriksa alamat wanita itu di kampungnya, juga nihil. Bertahun-tahun Randi mencari wanita itu, tapi tidak menemukannya. Dia diliputi rasa bersalah yang sangat dalam. Terlebih saat mengetahui bahwa Khanza Aresha adalah mahasiswa berprestasi yang kuliah dengan beasiswa dari pemerintah, aktif berorganisasi dan sering terlibat dalam kegiatan keagamaan. Wanita itu bahkan terkenal cuek dan berhati dingin menurut teman-teman kampusnya.
Wanita seperti apa yang telah ia hancurkan hidupnya? Mengingat dia adalah wanita baik-baik, yang menjaga dirinya, kehormatannya, Randi semakin merasa bersalah. Randi mulai merancang rencana akan menikahi wanita itu saat menemukannya, akan memohon maaf wanita itu. Namun setelah bertemu, justru bukan kata maaf, melainkan ego dan emosi yang ia perlihatkan.
Tidak sulit bagi seorang Randi Pratama untuk menggali informasi tentang orang lain. Hanya dalam waktu satu hari orang suruhan Randi sudah berhasil. Khanza Aresha, seorang Dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Padang. Baru lulus CPNS tahun ini. Lebih tepatnya baru mulai bekerja di bulan ini. Dia pernah tidak menyelesaikan kuliahnya, padahal saat itu dia sudah menyelesaikan semua mata kuliah. Setelah tesis diselesaikan, gelar magister akan didapatnya. Wanita itu justru secara tiba-tiba menghilang. Ternyata dia menerima tawaran S2 ke Australia. Ini tidak mengherankan karena tawaran itu double degree (S2 sekaligus S3) dengan beasiswa dari pemerintah Australia. Setelah mendapat pengalaman beberapa tahun bekerja sebagai Dosen di sana, kini wanita itu memutuskan mengabdi di tanah air.
Randi mendial nomor di handphone-nya. Tidak menunggu lama, terdengar jawaban di seberang “Bagaimana hubungannya dengan kedua orangtuanya?” ucap Randi.
“Anda mungkin tidak ingin mendengarnya, Bos.” Ucap Bima, orang yang Randi pekerjakan untuk mencari keberadaan Resha sejak enam tahun yang lalu dan sekarang memata-matai aktivitas Resha. Berkat Bima, Randi bisa bertemu dengan Resha. Pertemuan di supermarket malam itu tampak seolah kebetulan, padahal Randi sangat tau jika Mama dan anak itu sedang disana membeli apa yang mereka butuhkan.
“Katakan,” ucap pria itu dingin.
“Sebulan setelah pindah ke Australia, dia menghubungi kedua orangtuanya. Hubungan mereka baik. Namun tidak lagi saat salah satu keluarga mengunjunginya di Australia. Saat mengetahui wanita itu telah memiliki anak tapi tidak menikah, mereka tidak mau kenal lagi dengan wanita itu.”
Klik. Telpon ditutup sepihak oleh Randi. Dia menyugar rambut lalu mengusap kasar wajahnya. Memandangi kepadatan jalan raya dari jendela kaca ruangan kerjanya, membayangkan kehidupan yang wanita itu alami akibat kesalahan yang tidak dilakukannya sama sekali.
***
Randi menuju sekolah PAUD yang tidak jauh dari kampus tempat Resha mengajar. Tentu saja juga info dari Bima bahwa Dika bersekolah di sana. Randi bahkan mendapat laporan setiap pergerakan Resha di luar rumah. Tak perlu menjelaskan banyak hal, saat Randi datang, “Papanya Dika, ya?” Ucap guru yang mendampingi Dika. Para siswa memanggil guru itu Ustadzah, sebagian menyingkatnya dengan kata zah saja. Itu yang Randi dengar saat menunggu anak-anak mengantri keluar dari pintu kelas.
Randi hanya mengangguk. Walaupun belum ada bukti, dia yakin Dika memang anaknya. Tak lama, Dika keluar dari kelasnya. “Terima kasih ya, Ustadzah,” ucap Randi, meniru yang dilakukan seorang Ayah yang ia amati.
Pegangan tangan Dika berpindah dari ustdzah ke tangan Randi. Mereka berjalan menuju mobil Randi yang terparkir agak jauh karena banyaknya kendaraan para orangtua yang menjemput anaknya.
“Lho, kok Om yang jemput?” Ucap Dika setelah Randi mendudukkannya di dalam mobil.
Resha memang tidak mendoktrin Dika untuk membenci Papanya. “Siapa yang tadi, Ma?” ucap Dika saat mereka pulang dari supermarket malam itu.
“Teman Mama, sayang. Nanti kalau ketemu lagi, Dika panggil aja Om ya sayang.” Begitu kata Mamanya malam itu. Meski ia tidak yakin setelah mendengar kata istri yang meluncur dari mulut Randi saat membayar belanja. Terlebih saat mendengar penjelasan mamanya tentang makna kata istri. Namun bocah kecil dengan pikiran setengah dewasa itu memilih seolah tidak mengerti saja.
Om? Kamu bahkan nggak memperkenalkan wajahku pada anak kita, monolog Randi dalam hati. Meskipun telah kehilangan waktu berharga saat Dika masih bayi, bahkan saat dalam kandungan karena wanita itu melarikan diri darinya, Randi percaya mampu mengisi hati dan pikiran Dika dengan dirinya, mulai hari ini dan seterusnya. Akan ia berikan perhatian yang tulus untuk membayar semua itu. Karena dia percaya sejauh apapun jarak yang tercipta, pertalian darah selalu punya caranya sendiri dalam mempertemukan.
“Mama ngajar sampai sore. Jadi Dika sampai sore nanti sama Om, mau kan?”
“Oke, Om. Minta tolong telpon Mama untuk jemput Dika nanti di tempat Om ya,” ucap bocah itu polos.
Tidak buang waktu, Randi langsung melancarkan aksinya. Memotong beberapa helai rambut Dika dan memasukkannya ke dalam plastik. Orang suruhannya melakukan sisanya.
“Nanti Om antar pulang sekalian ya, nggak usah dijemput Mama. Kasian Mama,” ucap pria itu lembut, bukan sok perhatian, memang benar-benar perhatian. Pria itu tulus. Meski belum dapat pengakuan bahwa dia adalah papanya, pria itu bertekad akan berusaha mendekatkan diri dan mencurahkan kasih sayang yang selama ini luput ia berikan.
Sementara itu, Resha panik saat tak menemukan Dika di sekolah, berselang satu jam dari jadwal pulang sekolah. Biasanya bocah itu akan bermain di dalam kelas atau di taman sekolah. Resha memang selalu agak terlambat menjemput Dika karena harus menunggu waktu jeda mengajar. Hampir semua guru Dika mengetahui itu. “Dikanya sudah dijemput Papanya, Buk,” ucap guru sekolah saat Resha menanyakan kenapa Dika tidak ada di sekolah.
Deg! d**a Resha bergemuruh. Apa pria itu sekarang menculik anaknya?