Keesokan harinya, saat Erlangga menggendong tubuh Vania dari toilet kembali ke ruang penyekapan, ia bisa merasakan kalau tubuh Vania menggigil kedinginan, juga suhu tubuhnya yang semakin tinggi. "Empat puluh derajat celcius?" setelah mengecek suhu tubuh Vania, Erlangga menyimpan kembali termometer itu di lantai lalu meletakkan punggung tangannya di dahi Vania. "Kamu demam tinggi, Nia." Vania terus mengigau memanggil sauminya. "Hubby." "Dia butuh dokter, Tuan," kata salah satu anak buahnya yang saat ini berdiri di belakang Erlangga. "Jangan gila kamu. Kamu mau aku mati?" seru Erlangga atas usul anak buahnya yang mustahil ia lakukan. "Tetapi kondisi wanita ini dalam keadaan sekarat, dia bisa mati di sini, dan kita bukan lagi sudah menculiknya, tetapi membunuhnya," ujar anak satunya lagi

