Kesempatan kedua

1363 Kata

Sementara Vania dalam penanganan dokter, Erlangga menunggu di depan pintu ruang tindakan terduduk di lantai, bersandar pada dinding sambil menunduk. Burhan yang baru saja tiba, terkejut melihat Erlangga masih di sana, dan bukanya pergi sebelum ada yang mengetahui keberadaannya. "Erlangga!" Burhan memanggilnya dari kejauhan. Dia yang sedang terduduk di lantai pun mengangkat kepalanya demi melihat sosok siapa yang sudah memanggil namanya. "Tuan?" ia berdiri seraya mengusap air mata yang terus mengalir, menyesali semua perbuatan yang sudah ia lakukan, apa lagi Erlangga tau persis bagaimana kondisi Vania saat diperjalanan. Wajahnya pucat, bibirnya membiru, denyut nadinya lemah. Bayangan kalau Vania tidak akan selamat sudah bersarang dalam pikirannya. "Kamu masih di sini?" tanya Burhan, berj

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN