"Kau memang temanku, kan? Kenapa kau berada di pihak Nadin, hah?" tanya Candra. Sisil berjalan mendekati Candra. Dia melipat tangannya di atas perut, lalu berjalan memutari Candra. Sisil malah menatap Candra dari ujung kepala hingga kakinya. "Sisil, apa-apaan kamu?" tanya Candra dengan nada tinggi. "Enak, ya. Sekolah, barang-barang, kendaraan semua difasilitasi orang kaya. Rumah pun untuk berpura-pura dipinjami orang kaya. Memang, Nadin anak angkat dari Papa dan Mamanya, tapi dia tak pernah tipu-tipu akan kehidupannya. Dia saat ini benar-benar anak dari pengusaha kaya raya, tetapi hatinya ramah dan baik hati. Kamu? Semua hanya kepura-puraan demi gengsimu!" cecar Sisil di hadapan Candra. Plak! Tamparan keras dari Candra mendarat di pipi Sisil. Sontak, Nadin yang melihatnya terbakar emos

