Grekk! Tiba-tiba mata Dhie yang tak sadarkan diri terbuka. Wussh! Dhie bangkit lalu berdiri dengan pongah dan penuh wibawa. Matanya nyalang mengawasi keadaaan di sekitarnya. Juga menatap rendah semua orang yang ada diruangan itu. Tapi, dia bukan Dhie. Meski raganya sama, tapi dia bukan Dhie, bukan Dhiya Pitaloka. "A...yo kita keluar!" Kenken menarik Joan untuk keluar dari kamar inap Dhie. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Mak Lampir pun berdiri dan menatap Dyah penuh dendam. Kehilangan si Putih membuat Mak Lampir begitu membenci sosok yang ada didepannya. Bahkan kali ini Badra pun berdiri dipihak Mak Lampir, meski kewaspadaannya tetap untuk melindungi Dhie. "Apa kau puas, putri? Kau sudah membunuh prajuritmu yang paling setia!" "Bukankah memang itu tugasnya? Men

