CHAPTER #47 EMPAT PULUH TUJUH Malam harinya, cahaya bulan yang terang menyinari halaman rumahnya Herli. Nio dan Rostina duduk berdua di kursi teras. Nio sudah tidur sejak jam 7 malam tadi ditempat tidur neneknya. Nio melingkarkan tangannya kepundak Rostina yang bersender kepundaknya Nio. “Aneh juga, ya Ros. Apa maksudnya Arif mengirimkan foto itu? Bukannya saat itu dia sudah merasa tenang setelah bicara dengan kamu, Sayang?” “Iya, mas. Dia malahan meminta maaf karena salah sangka terhadap kamu.” Ujar Rostina. “Jadi kalau sekarang bener-bener dia yang mengirim, berarti masih ada dendam dalam dirinya.” “Pertanyaan saya justru bukan itu, Ros. Apa ada orang yang sengaja membuat teka-teki ini? Dan kita jadi salah mengambil ke

