"Dim, panggil Dokter ke sini," titah mama mertua yang tampak khawatir melihat keadaan putranya. Wajahnya masih terlihat pias, seolah aliran darah berhenti dalam tubuhnya. "Iya, Ma." Dimas mengangguk lantas dengan cepat memakai ponselnya untuk menghubungi nomor dokter langganan keluarga Wardhana. Melihat Mas Aryan yang dalam keadaan memprihatinkan, membuatku mengesampingkan ego. Aku duduk di sampingnya, di bibir ranjang dengan menahan sesak yang tak kunjung beranjak pergi. "Mamas, udah makan?" tanyaku lirih sambil menatap lekat wajahnya. Mas Aryan menggeleng seraya mengulas senyum tipis. "Kenapa nggak makan?" protesku sambil mengerucutkan bibir. Ah, entahlah, tiba-tiba aku rindu untuk bermanja-manja lagi dengannya. Bersenda gurau dengannya yang kadang kujuluki sebagai pria omes, membua

