"Iya, sama-sama, Sayang. Ini sudah menjadi tugasku sebagai seorang istri." Aku tersenyum tipis sambil melirik pada ibu tiri yang senantiasa bersikap manis di depan Papa. Namun, tidak padaku. Anak tiri yang senantiasa tersisih karena dia sendiri memiliki satu orang anak perempuan dari pernikahan sebelumnya, dan juga punya satu orang anak laki-laki setelah menikah dengan papaku. Lalu, apalah arti Elfara di rumah ini? Apa yang aku lakukan selalu salah. Bahkan, di mata Papa, satu-satunya sosok yang kuharapkan bisa mengayomi. Ya, Papa terlalu sibuk dengan anak laki-lakinya, dan juga memuji setinggi langit anak tirinya yang berpembawaan kalem itu. Dia sampai lupa jika ada seorang Elfara yang juga haus akan kasih sayang setelah sang ibu tiada. "El …." Pikiranku yang tengah melanglang buana ent

