Lidahku mendadak kelu. Aku cukup syok mendengar kenyataan ini. Ingin rasanya bertanya lebih jauh tentang bagaimana masa lalu mama mertua dengan Tuan Anggara, tapi tak kuasa bibir ini bertanya. Apakah itu tidak terlalu lancang? Di lain sisi, aku juga masih mempertimbangkan perasaan mertuaku. Jelas beliau sangat terluka dengan peristiwa yang menimpanya 29 tahun lalu, tapi apa pantas aku menanyai mama mertua bak wartawan yang tengah mencari berita? Bukankah mengungkit kenangan silam sama artinya dengan membangkitkan kesedihan? "Ya udah, Sayang. Mama mau istirahat dulu. Mama capek." Mertuaku bangkit dan lantas berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh ke belakang. Meninggalkan aku yang terdiam kaku sambil menarik berbagai kesimpulan atas apa yang pernah aku dengar. Tentang Mela yang disebut an

