Siapa yang Menjebakku?

1828 Kata

Selesai memakan masakan buatanku yang katanya enak melebihi masakan chef, Mas Aryan tampak masih ingin bersantai di rumah orang tuanya sore ini. "Sayang, kita pulang habis maghrib aja, ya," ucap suamiku terdengar lembut saat tatapan kami beradu. Ya Allah, semoga panggilan sayang yang dia lontarkan bisa diucapkan secara tulus suatu saat nanti. Semoga saja. "Iya, Mas …." Aku mengangguk pelan seraya mengulas senyum saat tanganku membereskan piring bekas makan putra sulung Tuan Hilman. Mas Aryan memajukan bibir seperti isyarat ingin mencium saat matanya menatap wajahku sedang tangannya menahan pergelangan tanganku. "Genit, ah!" gerutuku sambil tersipu. Sungguh, sikap manisnya membuatku merasa berkali-kali lebih baik hari ini. "Biarin, orang sama istri sendiri," balas suamiku santai. Aku t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN