"Mas, kamu kenapa?" Aku memindai ekspresi wajah suamiku yang berubah muram pasca menerima telepon dari seseorang yang tak kuketahui siapa, belum lama ini. Mendengar pertanyaan dariku, Mas Aryan terkesiap. Dengan cepat dia menggelengkan kepala. "Ah, nggak apa-apa, Sayang. Cuma urusan kantor. Dimas bisa handle, kok," balasnya terlihat agak gugup. Ada apa sebenarnya? Apa dia menyembunyikan sesuatu dariku? "Kamu yakin itu cuma urusan kantor?" tanyaku sambil menelisik wajahnya. "Iya, Sayang." "Oh ya udah kalau gitu," Aku mengangguk memaklumi. Mencoba tak ingin bertanya lebih jauh meskipun tak serta merta percaya dengan apa yang disampaikan. "Ngomong-ngomong … di Purwokerto bukannya ada kampus bagus, ya? Unsoed?" Suamiku tiba-tiba mengalihkan pembicaraan saat aku tengah melipat-lipat baj

