Dengan mulut terkunci rapat, aku terdiam beberapa sesaat. Setelahnya, mataku beralih menatap wajah suamiku yang telah terlelap dengan hati bergemuruh. Dengan disertai napas yang menderu aku terus beristighfar, mencoba menenangkan diri. Tenangkan hatimu, Sandra. Tenangkan. Bukankah sebelum ini kau sudah berjanji pada dirimu sendiri jika kau akan berusaha sepenuh hati menerima baik buruknya masa lalu suamimu? "Apa kau pikir aku akan terpengaruh dengan gambar itu?" Aku mengirimkan pesan demikian pada si pengirim gambar yang aku yakini adalah Mela. "Bahkan, kalau kau mengirimkan gambar yang lebih parah dari ini aku pun nggak akan peduli! Aku mencintai suamiku apa adanya. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Juga tentang segala masa lalunya." Panjang lebar aku menuliskan pesan tam

