"Mas, kayaknya aku …." Belum sempat aku melanjutkan ucapan, aku menahan langkah di ambang pintu saat menatap wajah tegang Mas Aryan ketika menerima telepon yang entah dari siapa pagi ini. "Hal penting apa, Ma?" Suamiku terlihat menyugar rambutnya dengan kaku. Sementara aku di sini, masih diam berdiri mematung di ambang pintu menatapnya. "Iya, aku sama Sandra segera ke sana." Mas Aryan mengembuskan napas kasar selepas menutup sambungan telepon yang bisa dipastikan dari sang mama. Mama? Hal penting? Aku terdiam merenung sambil menerka-nerka dalam hati. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mama mertua menyuruh kami datang ke rumah pagi-pagi? "Ndra, siap-siap, ya," ujar Mas Aryan saat kedua matanya menangkap keberadaanku yang berdiri kaku di ambang pintu. "Mau ke mana, Mas?" tanyaku lirih

