Untuk beberapa saat, kami semua terdiam dalam kebekuan. Rasanya, hati ini hampir membatu, enggan menerima apa pun penjelasan yang akan diutarakan suamiku, lelaki yang begitu pandai mengumbar janji dengan sejuta harapan indah. Namun, semuanya tak lebih dari sebuah kepalsuan. Ya, semua sebatas kamuflase yang dengan semudah itu membuatku terjebak oleh perangkapnya. "Ndra …." Dia berucap lirih saat menyebut namaku. Aku menatap lurus ke depan dengan masih menahan kecamuk dalam d**a. "Tapi, Ndra, ini semua cuma salah paham." Buru-buru kutepis tangan Mas Aryan ketika menyadari tangan kekarnya menyentuh pundakku. "Pergilah, Mas! Sudah cukup hatiku dibuat sakit dengan semua sikapmu yang menganggap pernikahan kita tidak lebih dari pernikahan konyol." Aku menelan ludah pahit, merasa semua pener

