Aku merasakan kaki dan seluruh tubuhku tiba-tiba lunglai saat untuk pertama kali menginjakkan kaki di kafe yang dimaksud oleh adik iparku. Hatiku pilu. Dimas benar. Suamiku memang ada di sini, tengah menikmati kopi di sudut ruangan kafe yang kami datangi. Tanpa sepengetahuannya. Dengan pandangan nanar, kutatap wajah tampan yang kali ini tampak berseri.Tak ada senyum keterpaksaan yang ditampilkan saat ini. Semua terlihat begitu alami. Ekspresinya sangat jauh berbeda jika dibandingkan ketika bersamaku, yang semua keceriaan dan kemesraannya … palsu. Aku meremas jari-jemari dengan kaku bersamaan dengan rasa sakit yang tanpa permisi menyelinap jauh ke lubuk hati. Benar. Suamiku tak sendiri di sini, dia tampak begitu menikmati suasana bersama … mantan sahabatku. Mela. "Mas Aryan …!" Aku be

